Solusi Tuntas Akhiri Wabah



Oleh Fatimah Azzahro


Dunia sedang menghadapi wabah pademi Covid-19. Berawal dari Wuhan Cina, wabah Covid-19 menular melalui manusia hingga menggemparkan seluruh negara di dunia sepanjang sejarah umat manusia. Konsekuensi dari merebaknya virus ini melumpuhkan seluruh sektor vital seperti ekonomi, politik, sosial, bahkan agama. Umat manusia mengalami guncangan, terlebih ketika seluruh tempat ibadah ditutup.  Umat Islam juga merasakan hal yang sama mengguncang ketika masjid dianjurkan ditutup untuk sementara selama penanganan wabah pandemi Covid-19 ini. 


Tarik- menarik pendapat terjadi ketika dilakukan peniadaan shalat Jum’at, hal ini sangat menyita perdebatan di kalangan masyarakat muslim.

Pelarangan ibadah secara berjamah ini kemudian secara tegas dilegitimasi dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia. Selain pembatasan ibadah tersebut, masyarakat juga dianjurkan untuk mengisolasi diri di rumah selama berlangsungnya penanganan pandemi Covid-19, untuk menunjang percepatan penanganan pandemi ini kemudian diterapkanlah kebijakan pembatasan sosial atau social distancing. 


Hal ini dimaksudkan untuk memutus matarantai penyebaran Covid-19 yang menular begitu massif antara manusia.

Kebijakan-kebijakan tersebut, untuk saat ini, merupakan upaya terbaik pencegahan wabah. Corona seolah membuka mata dunia. Kegagahan ideologi kapitalisme yang diemban negara saat ini tak mampu memutus rantai penyebaran corona. Bahkan, penularannya semakin massif dan tak tekendali. Bisa menginfeksi siapa saja yang dikehendaki. Tak memandang tua atau muda, semua bisa terpapar. 


Solusi yang ditawarkan dalam ideologi kapitalis tidak juga dapat menghantarkan pada solusi hakiki. Justru, ekonomi semakin menunjukkan tanda-tanda resesi. Bahkan bukan hanya kesehatan yang terdampak, juga ada krisis lain yakni krisis pangan hingga krisis keuangan. Lihat saja bagaimana penanganan wabah corona yang terkesan setengah hati. Menerapkan karantina wilayah tapi kebutuhan pokok masyarakat tak tercukupi. Alhasil, masih banyak masyarakat keluar rumah bekerja meskipun protokol kesehatan ditaati. Sebab, apabila tak bekerja, kebutuhan sehari-hari tak terpenuhi. 


Karantina saja hanya dilakukan beberapa wilayah, sementara akses keluar masuk warga Negara asing dibuka lebar. Padahal, peluang masuknya virus sangat besar dari sana. Tidak kah corona memberi sebuah pelajaran? Bahwa apabila tidak menerapkan prinsip syariah dalam menyelesaikan wabah, justru akan menimbulkan masalah-masalah baru. Dalam hal makanan misalnya, islam telah memerintahkan manusia untuk memakan makanan yang halal lagi thayyib, bukan asal enak, unik dan mengenyangkan saja. Termasuk menjaga kebersihan dan adab-adab makan lainnya. Maka, pentingnya kembali kepada Islam, sebagai jalan satu-satunya mengembalikan tatanan kehidupan.


 Rusaknya ideologi kapitalis adalah tanda bahwa ideologi ini harus diganti. Tantangan menghadirkan kembali ideologi yang shahih yakni sistem islam memang sangat berat. Karena pasti ada musuh-musuh yang selalu menghadangi jalan perjuangan ini. Seperti dengan jumawa mengatakan “Orang Corona solusinya dikasih obat, bukan Khilafah”. Padahal, yang sakit bukan hanya manusia saja. Tapi sistem yang mengatur kehidupan negara pun ikut sakit. Maka harus diberi obat yang mujarab. Artinya, tidaklah cukup mengembalikan kesembuhan individu secara fisik, tapi kesembuhan negara dengan tata kelolanya agar diatur sesuai dengan syariat islam secara kafah (keseluruhan). 


Adalah islam sebagai satu-satunya jalan kebangkitan. Karena islam bukan sekedar agama ritual tapi juga mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Ingatlah bahwa bumi kita adalah milik Allah Sww. Maka, sudah selayaknya kita tunduk pada aturan dari sang pencipta. Yakni dengan mewujudkan sistem pemerintahan islam (Khilafah) untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Karena Khilafah bersumber dari wahyu bukan nafsu. 


Sepanjang sejarahnya, khilafah merupakan sistem pemerintahan yang telah terbukti berdiri selama 1300 tahun dan selalu menerapkan konsep syariah islam dalam mengatur seluruh aspek kehidupannya, bahkan dalam penyelesaian wabah pernah terjadi di dalam Islam. Ketika terjadi wabah di massa pemerintahan Khalifah Umar bin Khathtab tepatnya pada tahun 18 Hijriyah. Wabah Tha’un terjadi di Amawas, yang kemudian menyebar cepat ke dataran rendah Yordania hingga terus menginfeksi orang-orang yang ada disana. Sang Khalifah memerintahkan untuk tidak memasuki kawasan yang terkena wabah atau menerapkan lockdown total. Karena berdasarkan sabda Nabi Saw : 

“Apabila kalian mendengar ada suatu wabah di suatu daerah, maka janganlah kalian mendatanginya. Sebaliknya, kalau wabah tersebut berjangkit di suatu daerah sedangkan kalian berada disana, maka janganlah kalian keluar melarikan diri darinya.” 


Inilah hukum syara’ dalam Islam, mengunci daerah yang terdampak wabah untuk menghindari tersebarnya virus semakin besar. Bagi daerah yang dikunci akan dicukupkan kebutuhan pokoknya, sehingga mereka bisa fokus dalam upaya penyembuhan. 


Khilafah merupakan ajaran Islam berasal dari sang pencipta. Oleh karena itu, tidak pantas kita sebagai muslim menghalang-halangi berdirinya khilafah. Karena tegaknya khilafah adalah sebuah keniscayaan bahkan tidak akan ada yang mampu menghalangi kembalinya sistem yang shahih ini. Maka, khilafah adalah solusi bagi dunia. Karena menerapkan tatanan kehidupan yang benar adalah jika sistem yang berdiri atasnya sesuai syariat islam.

Wallahu'alam