Serangan terhadap Al Aqsa, Serangan terhadap Umat Islam Sedunia


Oleh Dewi Tisnawati, S.Sos.I

(Pemerhati Sosial)


Warga Palestina hidup dengan rasa tidak aman selama puluhan tahun, mulai dari pengusiran hingga serangan brutal dari Israel, semakin hari semakin masif dilakukan. Seperti dilansir pada VIVA – Aksi represif aparat Israel terhadap jemaah Masjid Al Aqsa dapat kecaman dari belahan dunia.  Aksi represif itu menimbulkan lebih dari 100 muslim Palestina alami luka-luka.


Terkait itu, Koalisi Perempuan Indonesia untuk Al Quds dan Palestina (KPIQP) ikut menyampaikan pandangannya dalam aksi damai secara virtual pada Minggu, 9 Mei 2021, KPIQP bersama sejumlah ormas perempuan lain di Tanah Air seperti PP Salimah, PP Muslimat Mathlaul Anwar, PP Muslimat Al Washliyah, hingga Muslimat DDII. 


Mereka tidak tinggal diam dan ikut mengecam atas kebrutalan aparat Israel yang mengintimidasi muslim Palestina. Israel diminta menghentikan aksi represifnya.


Ketua KPIQP Nurjanah Hulwani menyampaikan kekerasan Israel terhadap rakyat Palestina sudah menjadi persoalan akidah sekaligus kemanusiaan. Menurut dia, dalam persoalan ini, umat Islam harus berjuang menanamkan kepedulian dengan peran masing-masing.


“Sebab sejatinya persoalan Al Quds bukan sekadar tanggung jawab lembaga kemanusiaan ataupun KPIQP. Kita semua kelak di akhirat akan ditanya tentang apa yang telah kita perbuat untuk persoalan Palestina?” kata Nurjanah, dalam keterangannya yang dikutip pada Senin, 10 Mei 2021.


Kecaman lain datang dari Komisi III DPR, sebagaimana dikutib dari Yerusalem - Komisi VIII DPR mengecam tindak kekerasan yang dilakukan polisi Israel terhadap warga Palestina di kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem. Wakil Ketua Komisi VIII DPR Ace Hasan Syadzily mengatakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mesti turun tangan.


"Saya kira PBB dan negara-negara OKI harus turun tangan untuk menyelesaikan kekerasan berdarah ini. Kekerasan ini harus disudahi," ujar Ace dalam keterangannya, Minggu (9/5/2021).


Sejatinya, serangan Israel terhadap jamaah tarawih masjid Al Quds dan pengusiran terhadap warga Syaikh  Jarrah tidak layak direspon sekedar dengan kecaman oleh OKI dan mustahil diselesaikan dengan resolusi baru oleh PBB. Hal ini membutuhkan sebuah tindakan nyata karena aksi represif seperti ini sudah bertahun-tahun dilakukan oleh Israel tehadap warga Palestina. 


Kecaman demi kecaman sudah sering dilakukan oleh berbagai ormas, kelompok, dan lain-lainnya, namun tidak membuahkan hasil. Israel justru semakin brutal, mereka dengan bengisnya melakukan serangan meski di bulan suci bagi umat Islam yakni bulan Ramadan.


Oleh karena itu, dibutuhkan kekuatan militer yakni tentara muslim yang membela kehormatan agamanya dan melindungi saudaranya. Sebab, hal inilah yang akan bisa membebaskan kaum muslim dari berbagai serangan dan tindakan represif terutama warga Palestina.


Kekuatan militer yang dibutuhkan ini tentu tidak lepas dari peran negara. Negara tersebut memiliki tujuan dalam membentuk kekutan militernya untuk membebaskan kaum muslim dari keterpurukan yang ada. Hingga saat ini, tidak ada satu pun negara yang memiliki kekuatan militer dengan tujuan tersebut, kecuali negara Islam.


Islam telah terbukti pada masa kejayaannya memiliki kekuatan militer yang sangat canggih. Kekutan militernya dibentuk dengan tujuan membantu pemerintahan dalam menjaga kemanan negara, membela kehormatan agama, melindungi saudaranya, memadamkan pemberontakan, serta menghadapi para penentangnya.


Hal ini terbukti pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mu’tashim Billah, khalifah kedelapan dinasti Abbasiyah pada tahun 837 M. Saat itu ada seorang budak muslimah dari Bani Hasyim yang sedang berbelanja di pasar meminta pertolongan karena diganggu dan dilecehkan oleh orang Romawi. Wanita itu lalu berteriak memanggil nama Khalifah Al-Mu’tashim Billah. Setelah mendapat laporan mengenai pelecehan ini, maka khalifah menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu kota Ammuriah (Turki).


Inilah bukti nyata kekuatan militer yang dimiliki Islam. Satu orang yang dilecehkan, puluhan ribu pasukan bergerak untuk membela dan menyelamatkannya. Berbeda dengan apa yang terjadi pada umat muslim sekarang, dimana ratusan atau bahkan ribuan kaum muslim dilecehkan dan dibantai, namun tidak seorang pun pemimpin muslim yang bergerak mengirimkan kekuatan militer untuk menyelamatkannya.


Oleh karena itu, umat harus sadar bahwa serangan terhadap muslim di  Al Aqsa, Palestina adalah serangan terhadap umat Islam sedunia. Umat juga harus sadar bahwa tidak ada cara lain untuk menyelesaikan konflik yang menimpa kaum muslim di berbagai penjuru negeri, khususnya di Palestina, kecuali hanya dengan kekuatan militer. 


Tindakan itu tidak akan terwujud kecuali dengan adanya negara yang menerapkan sistem Islam. Maka, kinilah saatnya bagi umat untuk menyatukan langkah, mewujudkan kembalinya kehidupan Islam dengan menerapkan sistem Islam dalam bentuk negara. Wallahu a’lam bishshawab.