Iis Setiawati

Pemerhati Masalah Publik


Sejak beberapa pekan lalu, guna mencegah aksi terorisme di Kabupaten Bandung, Kodim 06/24 Kabupaten Bandung menggencarkan program sosialisasi tentang bahaya radikalisme kepada masyarakat.

Komandan Kodim 06/24 Kabupaten Bandung, Letkol Infanteri Donny Ismuali Bainuri mengatakan bahwa sosialisasi bahaya radikalisme tersebut akan menyasar semua kalangan masyarakat, khususnya kaum milenial. Menurut Donny, ada indikasi bahwa paham radikalisme dan terorisme telah mengalami pergeseran yaitu dengan menyasar generasi milenial. Upaya mencegah dan menangkal radikalisme dilakukan dengan kegiatan sosialisasi untuk memperkuat kontra narasi. Juga peningkatan kesadaran berbangsa dan bernegara untuk mengantisipasi ajaran terlarang yang dapat merusak keutuhan NKRI.  (POJOKBANDUNG.com, SOREANG )


Senada dengan hal di atas Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Bandung, Iman Irianto Sudjana menyatakan pentingnya pemantauan dan pendampingan keluarga dalam mencegah radikalisme.

Iman menjelaskan, bahwa pengawasan lingkungan juga dipandang sangat penting terutama lingkungan sekolah. Hal itu cukup beralasan, dimana di sekolah anak-anak bisa dikuatkan dengan berbagai pemahaman terkait penguatan ideologi bangsa.


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI V), secara terminologi kata radikal artinya secara mendasar, sampai hal yang prinsip, maju dalam berpikir dan bertindak. Secara epistemologi, kata radikal mulai diarahkan kepada sebuah pemikiran atau perubahan. Akan tetapi oleh kaum kafir penjajah ditambahkan akhiran isme menjadi radikalisme. Maka dari sini mulailah skenario demi skenario direkayasa, memberikan stigma negatif kepada umat Islam khususnya para pejuang Islam ideologis.

Sedangkan radikalisme dalam kamus besar  bahasa Indonesia  tertulis bahwa radikalisme adalah paham atau aliran yang radikal dalam politik, paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis, sikap ekstrem dalam aliran politik. Dari sini ada perbedaan makna antara kata radikal dan radikalisme.


Radikalisme direncanakan sedemikian cantik untuk menyerang Islam dan kaum muslim. Tidak puas sampai disini, kaum Barat penjajah menginginkan Islam hancur lebur dan umatnya  terpecah belah dengan isu radikalisme ini. Dibuatlah kaum muslim takut dengan ajarannya sendiri. Karena yang dibidik radikal di sini adalah kaum muslim yang menjadikan agamanya sebagai dasar berpikir untuk kehidupannya yang senantiasa terikat dengan seluruh hukum syara. 

Radikalisme juga dipakai oleh kafir Barat penjajah yang didukung oleh kaki tangan mereka di setiap negeri-negeri kaum muslimin untuk menutupi cara buruk politik Barat agar tetap bisa bercokol dan menjajah negeri-negeri muslim.


Dalam Islam, tajassus atau mengorek-ngorek suatu berita (memata-matai) bisa jatuh hukumnya haram, boleh dan wajib, ditinjau dari siapa yang dimata-matai. Al-Quran dengan tegas melarang aktivitas tajassus yang ditujukan kepada kaum muslimin. Allah Swt  berfirman, yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman,  jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus)…” (QS. Al Hujurat ayat 12).

Dalam sebuah hadis,  Rasulullah  Saw bersabda:

“Sungguh seorang amir (pemimpin) akan mendurhakai rakyatnya, bila ia memburu kecurigaan pada mereka.” (HR. Abu Dawud dari Abu Umamah).


Bila kita telaah lebih dalam lagi bahwa aktor isu di balik radikalisme ini adalah kaum kapitalis penjajah khususnya Barat yang menjadikan radikalisme sebagai model baru mereka untuk menghadang laju kebangkitan Islam di negeri-negeri kaum muslim termasuk Indonesia, khususnya kesadaran untuk menjalankan Islam kaffah. Mereka berkonspirasi dengan penguasa negeri-negeri muslim yang mau membebek kepada mereka. Isu radikal ini lebih condong sebagai isu politik yang memanipulasi ketakutan (Islamophobia) di tengah masyarakat. 


Tujuannya tidak lain untuk menyerang gagasan-gagasan politik Islam ideologis yang telah mendapat banyak dukungan luas dari dunia Muslim.

Maka sudah saatnya kita sebagai kaum muslim untuk menyadari bahwa ada bahaya besar dibalik isu radikalisme, yang mengancam Islam dan ajarannya serta umat Islam secara keseluruhan. Jangan sampai kita terprovokasi dengan isu radikalisme sehingga menghalangi perjuangan Islam,  menghalangi tegaknya hukum Allah di muka bumi ini. Semisal membubarkan pengajian dengan alasan radikalisme,  menolak pengajian di masjid dengan alasan radikalisme dan sebagainya.

Allah Swt berfirman yang artinya:

“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk kedalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa takut kepada Allah.  Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.” (TQS Al Baqarah:114).

Wahai kaum muslimin, mari kita rapatkan barisan, jangan mau dipecah belah. Terus bersemangat berjuang untuk tegaknya Islam kaffah. In syaa Allah kemenangan Islam semakin dekat. Allah bersama para pejuang agama-Nya. 

Wallahu ‘alam bishshowab.

 
Top