Oleh Ummu Syakira

(Praktisi Kesehatan) 


Data Worldmeters per Rabu pagi, 21 April 2021, pasien positif Covid-19 di India telah menyentuh 15,6 juta kasus dengan lebih dari 182 ribu orang meninggal. Kondisi itu membuat India berada di urutan kedua negara dengan jumlah kasus Covid-19 tertinggi setelah Amerika Serikat (AS). Lonjakan kasus tersebut sebagian dikaitkan dengan varian baru virus corona yang menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) pertama kali terdeteksi di India musim gugur lalu, seperti yang dilansir dari CBC pada Jumat (23/4/2021).

Varian baru virus corona itu, oleh WHO diberi nama B.1.617 atau disebut juga "mutan ganda". Sejauh ini data masih terbatas, apakah mutasi ini lebih menular atau mematikan. Para ahli masih memperdebatkan, apakah varian baru virus corona "mutan ganda" adalah faktor pendorong utama terjadinya lonjakan kasus di India. Varian baru virus corona B.1.617 memiliki dua mutasi dalam lonjakan protein, yang digunakan si virus untuk mengikat dirinya ke reseptor sel manusia dan masuk ke dalam sel, di situlah istilah "mutan ganda" masuk. Karena pengujian sampel terbatas, para ilmuwan belum dapat memastikan bagaimana "mutasi ganda" mempengaruhi tingkat penularan Covid-19.

Perhatian rakyat India kini tertuju pada Festival Kumbh Mela yang diikuti jutaan umat Hindu. Sedikitnya 1.600 orang teruji positif mengidap Covid-19 setelah mengikuti acara tersebut antara 10-14 April. Foto-foto menunjukkan sekian banyak orang berkumpul di Kota Haridwar, Negara Bagian Uttarakhand, kemudian berendam bersama di Sungai Gangga. Umat Hindu di India meyakini sungai tersebut suci dan berendam di dalamnya akan membersihkan dosa-dosa sekaligus membawa keselamatan (www.bbc.com, 18/4/21). Acara tersebut diduga memicu munculnya varian baru Covid-19 menyebar di India dan menghasilkan ledakan kasus harian terbesar di dunia. 

Kebijakan Ala Kapitalisme

Menilik kondisi negeri kita, padatnya penduduk, besarnya mobilitas dan kondisi kemiskinan yang terjadi di India serupa dengan kondisi Indonesia. Dengan kondisi ini, semestinya tsunami covid India menjadi pelajaran agar pemerintah mengambil kebijakan lebih komprehensif untuk menghentikan sebaran virus. Namun fakta sebaliknya yang terjadi, yang nampak pada kebijakan larangan mudik namun membuka keran lebar kepada aktivitas pariwisata. Hal ini menunjukkan kebijakan mendua yang seolah mengatasi virus dengan pelarangan mudik seiring dengan perbaikan ekonomi. Padahal malah keduanya tidak segera teratasi. Entah nalar mana yang dipakai pemerintah? Kalau pemerintah beralasan melarang mudik untuk menghindari kerumunan, bagaimana dengan kebolehan pariwisata yang jelas juga akan memunculkan kerumunan. 

Inilah cara pandang sistem kehidupan negara ini yang dibangun atas landasan sistem kapitalisme sekuler, membawa pada kebijakan salah kaprah tak tentu arah. Demi menyelamatkan ekonomi yang pada faktanya hingga kini masih terpuruk, rela menukar nyawa rakyatnya dengan membiarkan mereka terbiasa beraktivitas di tengah pandemi hanya dengan melaksanakan prokes tanpa dibarengi dengan pemisahan antara yang sakit dan yang sehat. Begitu pula tanpa dipisahkan bahkan sejak awal pandemi terkait wilayah yang terkena wabah dan yang tidak dengan penguncian total atau karantina mandiri. Pemerintah beralasan pandemi yang tak tahu kapan ujungnya jika tidak dibarengi perbaikan ekonomi dengan pembiaran pelaksanaan aktivitas ekonomi oleh warga. Sungguh cara pandang yang kejam, apalagi saat ini sudah muncul varian baru virus Covid-19 yang lebih ganas. 

Beda dengan Islam

Sangat berbeda sekali dengan Islam, yang selalu memandang setiap persoalan dengan cara pandang Islam, begitu pula dengan solusinya. Mudik adalah ritual tahunan sebagai ajang silaturahmi. Silaturahmi hukumnya sunah, sementara aktivitas pariwisata adalah aktivitas mubah yang bahkan bisa cenderung mengarah kepada kemaksiatan ketika ada ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan perempuan karena hal yang tidak syar'i). Kenapa justru mudik dilarang? Sementara wisata diperbolehkan dengan asumsi sama-sama berpotensi meningkatkan kasus Covid-19 dengan alasan kerumunan. Untuk yang kedua kalinya, pandangan sistem kapitalisme negeri ini telah menghantarkan pada kesalahan kebijakan. Miris sekali. Andai penguasa dan penduduk negeri ini sadar dan segera menerapkan syariat Islam secara kafah dalam menangani pandemi ini, pasti wabah ini akan segera berlalu.

Jaminan pelaksanaan hukum syara yang akan membawa keberkahan telah Allah janjikan dalam firman-Nya: "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (TQS. Al-A’raf: 96).

Islam akan menyelesaikan sesuai dengan fakta, tuntas, manusiawi dan pelestari kehidupan. Termasuk di dalam Islam juga, seluruh aturannya bersifat memuliakan manusia, karena Allah Swt. telah menegaskan, “Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (TQS. Bani Israiil: 70).

Dalam menyelesaikan pandemi, solusi Islam memandang bahwa kesehatan adalah kebutuhan pokok publik. Sebagaimana dituturkan lisan yang mulia Rasulullah saw., “Siapa saja yang ketika memasuki pagi hari sehat badannya, maka seolah-olah dunia telah menjadi miliknya.” (HR. Bukhari).

Selain itu, solusi Islam juga bermuatan pandangan sahih bahwa keselamatan nyawa manusia lebih utama dari pada nilai materi (ekonomi), “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. At Tirmidzi). Islam memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi pemanfaatan sains dan teknologi terkini. Dalam menyelesaikan, Islam mewujudkan dua tujuan pokok penanggulangan pandemi dalam waktu singkat. Pertama, menjamin terpeliharanya kehidupan normal di luar areal terjangkiti wabah. Kedua, memutus rantai penularan secara efektif, yakni secepatnya, sehingga setiap orang tercegah dari bahaya infeksi dan keadaan yang mengantarkan pada kematian.

Prinsip Islam Menyelesaikan Wabah

Hal ini tercermin pada lima prinsip Islam dalam memutuskan rantai penularan wabah.

Prinsip pertama, penguncian areal wabah (lockdown syar’i). 

Ditegaskan Rasulullah saw., “Apabila kalian mendengar wabah di suatu tempat, maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu, maka janganlah keluar darinya.” (HR. Imam Muslim). Artinya, tidak boleh seorang pun yang berada di areal terjangkiti wabah keluar darinya. Juga, tidak boleh seorang pun yang berada di luar areal wabah memasukinya. Prinsip ini sangat efektif untuk memutus rantai penularan wabah. 

Prinsip kedua, pengisolasian yang sakit.

Rasulullah saw. menegaskan, “Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menular mendekati yang sehat.” (HR. Imam Bukhari); “Hindarilah orang yang berpenyakit kusta seperti engkau menghindari singa.” (HR. Abu Hurairah). Kedua hadis ini dapat diimplementasikan antara lain dengan massive testing yang cepat dengan hasil akurat kepada setiap orang yang berada di areal wabah. Sebab, mereka semua berpotensi terinfeksi dan berisiko sebagai penular.

Prinsip ketiga, pengobatan segera hingga sembuh bagi setiap orang yang terinfeksi meski tanpa gejala (asymptomatic).

Sebab setiap penyakit dapat disembuhkan, sebagaimana tutur lisan yang mulia Rasulullah saw., “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan diadakan-Nya bagi tiap-tiap penyakit obatnya, maka berobatlah kamu, tetapi janganlah berobat dengan yang haram.”

Prinsip keempat, social distancing.

Orang yang sehat di areal wabah hendaklah menghindari kerumunan. Hal ini sebagaimana masukan sahabat ‘Amru bin Ash r.a, yang dibenarkan Khalifah Umar bin Khaththab. Sebab, wabah ibarat api. Kuman yang penularannya antarmanusia akan menjadikan kerumunan manusia sebagai sarana penularan, begitu juga sebaliknya.

Dan prinsip kelima, penguatan imunitas (daya tahan) tubuh.

Mereka yang sehat tetapi berada di areal wabah, lebih berisiko terinfeksi. Karena kuman di areal wabah relatif tinggi, sementara tubuh manusia dan kondisi imunitasnya adalah penentu terjadinya infeksi, di samping port de entry (portal ke luar masuk kuman). Allah Swt. menegaskan, “…Yang menetukan kadar (masing-masing) ciptaan-Nya…” (TQS Al A’la: 3). Caranya, adalah dengan menjaga pola hidup sehat sesuai syariat.

Pelaksanaan kelima prinsip ini menutup rapat semua ruang dan celah bagi terjadinya penyebaran wabah dan berkembangnya varian virus karena wabah cepat teratasi.

Pelaksanaan lima prinsip tersebut niscaya dalam sistem kehidupan Islam. Karena didukung sepenuhnya oleh sistem kesehatan Islam. Sistem kehidupan Islam sendiri adalah unsur pembentuk sistem kesehatan Islam, khususnya sistem ekonomi Islam dan sistem politik Islam. Dan itu semuanya hanya akan bisa diwujudkan oleh negara yang menerapkan syariat Islam secara total yakni Khilafah Islamiyah. Wallahu a'lam bisshowab.

 
Top