Paradoks Akhir Ramadan dalam Sistem Kapitalis


Oleh Ummu Najla

Komunitas Ibu Peduli Generasi


Heboh, di akhir Ramadan justru pasar, mall dan sejumlah tempat makan siap saji membludak. Ribuan pengunjung penuh sesak memburu pusat perbelanjaan demi persiapan jelang Lebaran 2021. Kepadatan terlihat di banyak daerah, salah satunya di Jakarta, seperti di Metropolitan Mall Bekasi pada Senin (3/4). Juga, di Jakcloth di parkiran Senayan Park pada Sabtu (1/5). Hal serupa juga terjadi di Tangcity Mall Tangerang, pada Minggu (2/5). Ironisnya, merekapun abai dengan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. 

Di sisi lain, Pemerintah melalui Satgas Covid-19 menegaskan, kegiatan mudik lebaran tahun 2021 dalam bentuk apapun resmi dilarang pada tanggal 6-17 Mei. Hal ini dilakukan serta merta untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Tanah Air. Ironisnya, Pemerintah membolehkan sektor pariwisata dibuka dengan dalih agar roda perekonomian rakyat tetap menggeliat. Bak gayung bersambut, tentu saja ajakan yang di sampaikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno untuk mengunjungi destinasi wisata lokal, disambut antusias oleh kalangan pengusaha.

Naasnya, kebijakan tersebut diamini oleh para WNA yang antusias menyerbu masuk ke Indonesia. Terbukti, pada Selasa (4/5) pukul 15.30 WIB, 85 WN China dan 3 WNI masuk ke Ibukota melalui pesawat China Southern Airline dengan nomor penerbangan CZ8353. Sejumlah WN China tersebut terbang dari Kota Shenzhen dan mendarat di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Berita tersebut dibenarkan oleh Kabag Humas dan Umum Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi Kemenkumham Arya Pradhana Anggakara. Padahal sebelumnya pun dilaporkan bahwa 454 WN India masuk Indonesia juga melalui Bandara Soekarno Hatta. Di kala, dunia menjadikan India sorotan global akibat tsunami covid yang menewaskan ribuan orang dan melahirkan mutasi covid baru varian B1617. 

Ironi Kebijakan Kapitalis vs Islam

Miris, dalam sistem serba materialis saat ini, akhir Ramadan tak lagi menyayat hati. Justru memilukan ditinggalkan dalam balutan perbelanjaan dan nafsu duniawi. Tamu agung yang harusnya disambut dengan sepenuh hati dan kepulangannya ditangisi. Kini justru tak berbekas dan di khianati. Padahal, jika kita tengok shirah Nabi saw. dan para shahabat justru bersedih hati ketika Ramadan akan berakhir. Para shalafatus sholih giat berfastabiqul khoirot dalam ibadah. Bahkan, banyak menangis kala perpisahan hampir tiba.

Ibnu Rajab al-Hanbali ketika menggambarkan kondisi salaf, beliau menjelaskan bahwa enam bulan sebelum Ramadan menjelang, mereka berdoa dengan giat agar disampaikan kepada bulan agung ini. Sedangkan enam bulan sesudahnya, mereka sangat gigih berdoa agar segenap amalan mereka diterima Allah Subhanahu Wata’ala (Lathâ`ifu al-Ma’arif, 209). Persis setelah Ramadan berakhir, mereka menampakkan kesedihan, dan merasa kehilangan. Di samping itu, mereka sangat antusias saling menasihati agar bisa meneruskan ketaatan sepanjang tahun.

Ironisnya, kebijakan Pemerintah yang membuka sektor pariwisata lebar-lebar demi tergelontornya kran ekonomi. Jelas, berimbas negatif pada rakyat. Di tengah pandemi yang tak kunjung henti, kebijakan tersebut sukses memancing munculnya cluster baru penyebaran Covid-19. Abainya masyarakat akan pentingnya protokol kesehatan dan potensi kerumunan yang kian membludak. Menjadi bukti, gagalnya edukasi Pemerintah merangkul rakyat dalam perang melawan covid. Padahal, harusnya Pemerintah yang menjadi tumpuan rakyat harusnya mampu menjadi garda terdepan dalam perang melawan covid 19. Bukan justru mengambil kebijakan yang syarat dengan kepentingan Kapital dan keuntungan semu yang justru merugikan dan menyengsarakan rakyat.

Jelas, kebijakan sistem Islam dalam perang melawan wabah berbeda dengan sistem Kapitalis. Seorang pemimpin Islam (Khalifah) yang melandasi dirinya dengan ketakwaan dan hukum Allah, pasti akan mengambil kebijakan tegas yang mampu menyelamatkan dan merangkul rakyat. Bukan sekadar isapan jempol atau bahkan pencitraan politik semata demi ambisi semu dan syahwat duniawi. 

Terbukti, bagaimana ketegasan Khalifah Umar beserta pejabatnya yang mengambil penanganan cepat dan tepat dalam karantina penanganan wabah. Bahkan memudahkan birokrasi dan regulasi sarana prasarana serta tenaga medisnya bagi terdampak bencana yang di karantina. keputusan yang berbobot tersebut harus segera diambil demi menyelamatkan rakyat agar tidak dibinasakan oleh wabah penyakit. Alhasil, pandemi pun bisa diatasi dengan sukses dan tidak berdampak serta menyebar ke wilayah lainnya. Penanganan tersebut pun didasari akidah dan keimanan yang kuat akan hadis yang di sampaikan Abdurrahman bin Auf yang mendengar Rasulullah saw. bersabda:

"Jika kalian berada di suatu tempat (yang terserang wabah), maka janganlah kalian keluar darinya. Apabila kalian mendengar wabah itu di suatu tempat, maka janganlah kalian mendatanginya."

Inilah, paradoks dan anti klimaks antara sistem Kapitalis dan sistem Islam yang jelas berbanding terbalik. Kebijakan yang berbalut Kapitalis cenderung tumpang tindih dan kontraproduktif. Terjadi ketidakberaturan antara kebijakan dengan fakta di lapangan. Bahkan tidak selaras pelaksanaanya antara kementrian dan lembaga. Jika terjadi kesalahan akan saling lempar tanggung jawab dan saling menuding mencari kambing hitam serta pembenaran diri.

Bagusnya, hukum Islam yang murni dari Sang Pencipta tak akan mungkin mampu ditandingi dengan sistem buatan sang tirani yang syarat kepentingan dan nafsu duniawi. Pasalnya, Khalifah dan jajarannya hanya sebagai pelaksana sistem buatan Illahi bukan sebagai pembuat hukum. Pemimpin dan para pejabatnya dituntut untuk taat pada rambu-rambu hukum yang sudah dilegitimasi dan didaulat dalam Undang-undang dasar Al-Qur’an dan hukum syara’. Setiap pelanggaran yang terjadi tak hanya dipertanggungjawabkan kepada si empunya hukum yaitu Allah Swt., tapi juga akan dikontrol oleh Mahkamah Mazalim dan Majlis Umat. Regulasi sistem yang tegas dilandasi ketakwaan yang mengikat. Akan menjadikan sistem berjalan secara adil dan beradab dalam makna yang hakiki bukan sekedar jargon kekinian. Alhasil, sudah saatnya kaum muslimin kembali ke pangkuan Illahi dengan menerapkan hukum Allah secara kafah di bumi pertiwi dan seluruh penjuru bumi. Wallahu a'lam bishshawab.