Palestina Merupakan Tanah Wakaf

 



Oleh Tari 

Ibu Rumah Tangga


Sejak Khilafah Utsmaniyah runtuh pada tahun 1924, akhirnya bumi Palestina jatuh ke tangan Zionis Yahudi, sang agresor dan penjajah. Zionis Yahudi berhasil mendirikan entitas negaranya pada tahun 1948 dengan menduduki 77% tanah Palestina dan mengusir 2/3 rakyat Palestina dari tanah mereka. Yang tersisa tinggal 156 ribu jiwa, 17% dari total warga entitas Israel saat didirikan. Menurut Dr. Ibrahim Abu Jabir, sejak pendudukan Israel tahun 1948, ada sekitar 478 desa dilumatkan dari total 585 desa yang ada di wilayah Palestina. Sebanyak 30 ribu orang lainnya diusir dari tanah mereka. 

Di bawah penjajahan dan kekejaman Zionis Yahudi, penderitaan adalah hal yang sudah sangat 'akrab' dialami oleh bangsa Palestina. Sudah ratusan ribu orang Palestina tewas dibantai, puluhan ribu terluka, cedera bahkan cacat, ratusan ribu kehilangan rumah, tempat tinggal dan pekerjaan, ribuan wanita dilecehkan kehormatannya serta ribuan anak menjadi yatim piatu. Padahal sudah jelas di mata Allah Swt., jangankan ratusan jiwa, pembunuhan satu orang saja tanpa hak sama dengan membunuh seluruh manusia. Allah Swt. berfirman,

"Siapa saja yang membunuh satu orang, bukan karena orang itu membunuh orang lain atau membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia." (QS al-Maidah [5]: 32) 

Ramadhan kali ini Israel kembali melakukan serangan membabi-buta terhadap Palestina. Setidaknya ada 137 warga Palestina termasuk 36 anak-anak telah tewas dan sebanyak 920 orang cedera (kontan.co.id). Seperti biasanya, melihat pembantaian tersebut dunia kembali terdiam, para pejuang HAM bungkam, para penguasa negara adidaya seperti AS, kembali menunjukkan sikap bermuka dua. Begitu pun dengan para penguasa muslim khususnya Arab, kembali menjadi pecundang, hanya pandai mengecam dan pandai beretorika. Tak sedikitpun ada kemauan mengirimkan tentaranya, untuk berjihad membela kaum muslim di Palestina. 

Padahal penjajahan oleh Zionis Yahudi telah berlangsung lebih dari 70 tahun jika dihitung sejak tahun 1948. Sejak itu sampai hari ini tragedi demi tragedi yang dialami kaum muslim Palestina terus terjadi. Tanpa ada yang benar-benar serius berusaha memberikan pertolongan baik itu oleh PBB, AS, Rusia, Eropa atau Cina dan juga para penguasa Muslim. Bahkan para penguasa Arab yang menjadi tetangga dekatnya hanya bisa menonton, mengutuk dan mengecam.

Tanah Palestina merupakan tanah wakaf milik kaum muslim. Bukan hanya milik bangsa Arab atau bangsa Palestina saja. Palestina telah berada di bawah kekuasaan Islam saat dibebaskan oleh Khalifah Umar bin al-Khathab ra. pada tahun 15 H. Beliaulah yang langsung menerima tanah tersebut dari Safruniyus di atas sebuah perjanjian yang dikenal dengan perjanjian ' Umariyah, yang diantara isinya berasal dari usulan orang - orang Nasrani yaitu " agar orang Yahudi tidak boleh tinggal didalamnya." 

Bagi kaum muslim, al-Aqsha adalah salah satu masjid agung. Al Quds adalah tempat yang amat mulia, tanah wahyu dan kenabian. Al Quds pun merupakan tanah kiblat pertama bagi kaum muslim sampai Allah Swt. menurunkan wahyu untuk mengubah kiblat ke arah Ka'bah (QS al-Baqarah [2]:144). 

Sebetulnya jihad untuk mengusir kaum Zionis Yahudi bukan perkara yang sulit dilakukan, apabila ada kemauan politik dari penguasa Arab dan muslim. Namun faktanya setelah pendudukan Palestina oleh kaum Zionis Yahudi sudah berjalan lebih dari 70 tahun, mengharapkan para penguasa Arab dan muslim mau mengarahkan pasukan mereka untuk berjihad membela Palestina ibarat jauh panggang dari api. Karena itu untuk mengembalikan al-Quds dan membebaskan kembali Palestina dari cengkeraman kaum Zionis Yahudi saat ini, apa yang dilakukan oleh Salahuddin al-Ayyubi patut diteladani. Tidak lain adalah jihad. Jihad yang dipimpin oleh seorang khalifah merupakan  jalan satu-satunya bagi pembebasan al-Quds dan Palestina. Wallaahu a'lam bi ash-shawaab.