Palestina Butuh Junnah Tak Sekadar Pembelaan Setengah Hati dari Negeri Muslim


Oleh Nelliya Azzahra


Gejolak di bumi Palestina sepertinya tiada jeda, terus-menerus sejak puluhan tahun lalu saat Zionis Israel pertama kali meluncurkan serangan. Meluluhlantakan negeri yang dulu mengulurkan tangan untuk memberi bantuan pada Israel di saat negara lain mengacuhkan. Sampai hari ini, tanah yang diberkahi itu terus banjir darah syuhada.


Nyawa melayang, harta benda hancur menjadi puing-puing yang menggoreskan luka fisik maupun batin bagi saudara muslim di sana. Penderitaan mereka seakan tiada hentinya. Hari-hari mereka tak lagi berwarna, kelabu. Setiap jamnya diwarnai ketegangan, kekhawatiran dan penderitaan. Banyak para istri menjadi janda, anak-anak menjadi yatim-piatu kehilangan orang tua.


Baru-baru ini kembali serangan udara Israel di Jalur Gaza menghancurkan beberapa rumah dan menewaskan puluhan warga Palestina di Jalur Gaza. Ada 42 orang tewas, termasuk 10 anak-anak.


Dilansir dari Reuters, serangan itu dilakukan pada Minggu (16/5/2021). Militer Israel mengatakan korban sipil tidak disengaja.


Pesawat jet Israel menyerang sistem terowongan yang digunakan oleh militan Hamas, yang runtuh, menobohkan rumah-rumah. Hamas menyebut "pembunuhan yang sudah direncanakan sebelumnya."

Dilansir oleh DetikNews (Senin/17/2021), Sudah bukan rahasia bila serangan yang dilancarkan Israel tak pandang bulu. Anak-anak, wanita, semua dipukul rata. Misi mereka merebut Palestina membuat bom-bom bagai nyanyian kematian untuk saudara di Palestina.


Apa yang menimpa Palestina, telah menyita perhatian dunia. Banyak saudara sesama muslim turut prihatin. Namun, cukupkah hanya sebatas itu saja. Atau, kecaman yang dilontarkan pemimpin negeri muslim atas serangan itu. Apakah itu bisa membantu Palestina terbebas dari Zionis Israel yang membabi buta dan berniat menguasai tanah air mereka. Tentu jawabannya tidak. 


Pertemuan luar biasa secara virtual oleh Komite Eksekutif Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pada tingkat menteri luar negeri (menlu) dilaksanakan pada Ahad (16/5). Pada pertemuan yang diketuai Arab Saudi ini mengumpulkan pemimpin negara Islam dan mengecam tindakam agresi Israel.


Pertemuan ini menghasilkan resolusi yang diadopsi oleh sesi biasa dan luar biasa KTT Islam dan Dewan Menlu. Secara historis, OKI melihat tanggung jawab, moral dan hukum umat Islam terhadap perjuangan Palestina dan Al Quds. 


"Pertama, mengutuk sekuat tenaga serangan biadab yang diluncurkan oleh Israel yang melawan rakyat Palestina dan tanah mereka dan situs suci, serta menuntut penghentian lengkap dan segera dari serangan yang mempengaruhi warga sipil yang tidak bersalah dan harta benda mereka," tulis pernyataan bersama para menlu negara anggota OKI yang diterima Republika.co.id, Ahad (16/5).


Kecaman demi kecaman yang dilontarkan para pemimpin Islam bukan solusi untuk menyelesaikan masalah Palestina. Seakan mereka hanya membela setengah hati saja. Jika mereka benar-benar ingin Israel hengkang dari tanah para nabi itu, maka kirimkan militer untuk terjun dan membebaskan Palestina.


Palestina butuh Junnah (pelindung) bukan sekadar rasa empati dan kecaman. Mereka butuh tentara yang membebaskan, bukan sekadar makanan dan obat. Beginilah jika Junnah kaum muslimin hilang. Mereka seperti makanan lezat yang menjadi sasaran kafir penjajah.


Bandingkan dengan Khalifah Al Mu'tashim Billah dari Daulah Abbasyiyah. Peristiwa Amuriyah menjadi jejak sejarah agung tentang Junnah. Pasukan daulah dikerahkan untuk membebaskan seorang perempuan dari kekejaman tentara Romawi. Hari ini Palestina butuh  sosok-sosok pemimpin seperti Al Mu'tashim Billah.


Ketiadaan khilafah dalam pimpinan seorang khalifah hari ini membuat nestapa Palestina tak kunjung reda. Oleh sebab itu, urgentnya khilafah kembali hadir di tengah-tengah umat. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:


«إِنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ»


"Sesungguhnya Imam/Khalifah adalah perisai orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung. Jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggung jawab atasnya." (HR. Muslim).


Wallahu a'lam bishshawab.