Palestina Butuh Angkat Senjata, tak Cukup Gencatan Senjata

 


Yeni Marlina, A.Ma

(Pemerhati Kebijakan Publik dan Aktivis Muslimah)


Sujud syukur dan memuji asma Allah dari segenap warga Palestina setidaknya membuat hati warga muslim sedunia agak lega. Disaat keputusan sementara akhirnya terhenti perang dari para zionis Israel dengan gencatan senjata. Berubahnya postingan dan berita-berita dunia maya disaat penyerangan brutal para tentara Israel terus menerus membumi hanguskan tanah al Aqsa. Berubah mendadak dengan keputusan gencatan senjata. 


Tak boleh lupa dalam benak kita bahwa tragedi tragis yang berulang harus ditanggung saudara seiman yang ada di Palestina sudah terjadi sejak puluhan tahun silam.  Kejadian berpola sengaja mengacaukan khidmatnya ibadah saat bulan puasa. 


Begitupun di tahun ini, jelang akhir Ramadhan saat umat Islam sedang butuh waktu khusyuk ibadah berharap bertemu laitalul qadar. Di tengah jamaah sedang melaksanakan salat Tarawih  suasana jadi kisruh, saat tentara Israel membuat kegaduhan dan penyerangan secara membabi buta. Meluncurkan granat-granatnya. Dipicu karena aksi penggusuran warga Palestina di pemukiman Syeikh Jarrah, Yerussalem Timur.  Inilah tabiat negara mereka sejak awal adanya dan watak picik, zalim, pembohong serta bengis tak kenal rasa kemanusiaan. Setidaknya ada 22 sifat yahudi yang di jelaskan dalam ayat-ayat al Qur'an. Diantaranya firman Allah Swt :  

 _"Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik"._ (QS. al Maidah [5] : 82)


Ironisnya selama 11 hari penyerangan, justru negara-negara tetangga yang seiman seaqidah hanya menyayangkan mengutuk dan mengecam tanpa mampu memberikan bantuan yang seharusnya mereka butuhkan. 


Banyak dukungan muncul dari rakyat sipil yang memiliki ikatan darah sesama muslim. Umat Islam di dunia telah bergerak berbuat sesuai kemampuannya. Mengumpulkan bantuan berupa dana, obat-obatan, konsolidasi agar bantuan bisa segera sampai ke Palestina. Disamping mengirim doa tak henti-hentinya. Inilah kemampuan yang bisa diberi sebagai sesama saudara. Darah yang telah tertumpah, nyawa yang melayang, kerusakan mental dan psikologis anak-anak generasi di sana tak bisa terganti dengan kecaman.


Jadi sedikit senyap, disaat muncul berita bahwa Uni Emirat Arab (UEA) siap memfasilitasi perdamaian Palestina dan Israel, seusai keduanya sepakati gencatan senjata.

Kantor berita negara UEA, (Minggu 23/5/2021) melaporkan Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohamed Bin Zayed Al-Nayhan siap mewujudkan perdamaian.

Komentar Sheikh Mohamed datang saat panggilan telepon dengan Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi.

Dia memberi apresiasi ke Mesir yang telah berhasil menggerakkan gencatan senjata Israel dan Palestina setelah 11 hari pertempuran.

UEA, yang tahun lalu menandatangani perjanjian menormalkan hubungan dengan Israel, siap bekerja dengan semua pihak.

Khususnya mempertahankan gencatan senjata.

Kemudian, menemukan cara baru untuk mengurangi eskalasi dan mencapai perdamaian, ucap Sheikh Mohammed.


Sedangkan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), mengatakan permusuhan Palestina dan Israel telah dihentikan dengan gencatan senjata.

Tetapi, untuk mencapai perdamaian abadi harus didasarkan pada solusi dua negara, dialog dan resolusi PBB yang relevan (aceh.tribunnews.com/2021/05/23).


Dari realita diatas, tak ada yang bisa menghentikan perilaku Israel ini walaupun melanggar Hukum Humaniter International dan Konvensi Jenewa keempat. Artinya Israel tak peduli, seolah pengukuhan  legalitas dunia internasional sebagai garansi atas penjajahannya.


Gencatan senjata disambut baik oleh negara lainnya. 

Diantaranya Sudan menyambut baik deklarasi gencatan senjata antara Israel dan Palestina. Dikutip dari Reuters, Kementerian Luar Negeri Sudan juga mengapresiasi upaya Mesir, regional, dan internasional untuk mencapai kesepakatan ini (kumparan.com).


Pertanyaannya, apakah gencatan senjata yang telah diusulkan berbagai pimpinan dunia Islam ini akan membuahkan hasil yang memuaskan? Terbebasnya Palestina dari intimidasi, penindasan, perampasan hak-hak mereka atas jiwa, harta bahkan tanah yang sah menjadi milik mereka. Sejatinya tidaklah demikian, benar gencatan senjata yang di putuskan sesaat menjadi jeda terutama bagi umat Islam Palestina, mereka yang di Gaza, bernafas sejenak.


Namun, bagi Israel jeda untuk berstrategi. Buktinya tidak berlangsung lama. Seperti yang diberitakan CNBC Indonesia, kesepakatan gencatan senjata yang dicapai antara Israel dan Palestina di Jalur Gaza terjadi pada Jumat (21/05/2021) dini hari, tetapi masih ada ketegangan di Yerusalem Timur di mana polisi Israel menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa dan menembakkan gas air mata ke arah warga Palestina setelah salat Jumat (21/05/2021).

Lagi-lagi mencerminkan betapa rapuhnya kebijakan gencatan senjata.


Berulang kali belajar dari fakta dan bukti bahwa gencatan senjata sebagai jalan perdamaian Israel-Palestina menegaskan tidak adanya pembelaan yang sempurna oleh para pemimpin dunia Islam terhadap saudara sesama muslim. Membiarkan zionis berlindung dan memulihkan kekuatan di balik istilah gencatan senjata dan perdamaian justeru semakin memperpanjang masa penderitaan dan rasa sakit buat mereka yang di Palestina. Padahal Rasulullah telah mengingatkan dalam hadis :


"Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya untuk disakiti."(HR Bukhari)


Hakekatnya yang paling dibutuhkan buat saudara-saudara di Palestina adalah kiriman militer dan tentara yang siap angkat senjata melawan musuh-musuh Allah. Tentara bersenjata yang siap melawan zionis yang sadis dan bengis agar menghentikan pendudukan mereka hingga mengusir mereka dari bumi Palestina.


Palestina adalah tanah Syam, negerinya para nabi yang diberkati Allah. Negeri yang telah di taklukkan melalui jalan damai pada masa kekhalifahan Umar bin Khathab, sah menjadi milik kaum muslimin dengan status sebagai tanah kharajiyah. Sampai kapanpun hingga kiamat tetaplah statusnya. Jadi tak boleh lepas sejengkalpun dari tangan umat Islam. Bahkan wajib untuk mempertahankannya walau dengan darah dan nyawa.


Darah dan nyawa tidak akan tertumpah sia-sia ketika umat Islam tak tersekat negara bangsa (nation-state) seperti saat sekarang. Terlalu banyak jerat negara adi daya kapitalisme penguasa dunia dan Israel terhadap dunia Islam yang membuat bungkam seribu bahasa tak berdaya. Hubungan dagang ataupun hubungan normalisasi diplomatik diantara negara-negara ini menjadi tembok pembatas untuk menyatukan tubuh umat Islam yang sudah terkerat-kerat sejak keruntuhan daulah Khilafah Utsmiyah  satu abad hijriyah yang lalu, tepatnya tahun 1924 masehi.


Inilah saatnya umat ini butuh pemimpin, di tengah suara perjuangan menggaung dimana-mana, salah satu seruan solusi yang tepat buat penjagaan Palestina adalah seruan persatuan kembali umat Islam sedunia di bawah naungan kekhilafahan. Seorang khalifah yang siap jadi junnah akan segera datang membebaskan al Aqsa kembali. Hanya khilafah yang mampu merealisasikannya.  


Kebutuhan khilafah merupakan solusi pasti dalam menjawab berbagai problematika Palestina secara khusus dan dunia pada umumnya.