Memaknai Hari Kebangkitan Nasional


Oleh Dra. Rivanti Muslimawaty, M. Ag.

Dosen di Bandung


Wakil Bupati Bandung Sahrul Gunawan meminta para pemuda di Kabupaten Bandung di era pesatnya teknologi informasi ini tidak menjadi generasi rebahan atau pemalas. Mereka harus kreatif dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi saat ini. Pernyataan itu disampaikan Sahrul dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2021. Menurut Sahrul, teknologi informasi harus dimanfaatkan para pemuda guna membangun bangsa. Salah satunya, pemuda bisa turut mengawasi program pemerintah. "Pemuda harus lebih bisa memanfaatkan teknologi informasi. Tidak menjadi generasi rebahan (pemalas) yang bisa seenaknya mengungkapkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Sampaikan kritik dengan cara santun dan membangun," kata Sahrul, Kamis (20/5/2021). Menurut Sahrul, pemuda sebagai bagian dari masyarakat, memiliki fungsi pengawasan dalam pembangunan dan program-program yang dijalankan oleh pemerintah.


Ia berharap, program yang digagasnya bersama Bupati Dadang Supriatna untuk menampung aspirasi dan pengawasan masyarakat bisa segera terealisasi. Ketika wadah dan ruang pengawasan tersebut bisa berfungsi dengan baik, menurut Sahrul, pemuda akan menjadi inisiator untuk mengumpulkan kekuatan dari generasi muda lainnya. "Masyarakat harus dilibatkan dalam fungsi pengawasan, dan ini menuntut peran dari para pemuda," kata mantan artis yang terjun ke dunia politik itu. Selain itu, Sahrul menuntut para pemuda untuk memunculkan ide-ide kreatif demi membangun bangsa dan negara, khususnya dimulai dari Kabupaten Bandung. "Hayu pemuda Kabupaten Bandung, jangan mengkritik tanpa solusi, munculkan ide-ide kreatif dan brilian, dan berikan kontribusi terbaik," kata Sahrul. (kompas.com, 21/05/21)


Karena itu, Sahrul berharap program yang digagas bersama Bupati Dadang Supriatna untuk menampung aspirasi dan pengawasan masyarakat terhadap pemerintah, bisa segera terealisasi. Ketika wadah dan ruang pengawasan tersebut bisa berfungsi dengan baik, ujarnya, pemuda akan menjadi inisiator untuk mengumpulkan kekuatan dari generasi muda lainnya. "Masyarakat harus dilibatkan dalam fungsi pengawasan, dan ini menuntut peran dari para pemuda," ujar pemain sinetron dan penyanyi ini. Selain itu, tutur Sahrul, para pemuda dituntut untuk memunculkan ide-ide kreatif demi membangun bangsa dan negara, khususnya dimulai dari Kabupaten Bandung. (inewsjabar.id, 20/05/21)


Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas)  selalu diperingati setiap tahun dengan harapan bangkitnya para pemuda sebagai pemimpin masa depan. Tetapi ternyata harapan yang disampaikan tidak memberikan pengaruh apapun kepada perubahan kondisi bangsa dan negara ini. Bahkan kita menyaksikan banyaknya fakta sekitar yang menunjukkan kemunduran kita, sebagai bangsa dalam hal pendidkan, kesehatan, ekonomi, dan semua sendi kehidupan. Hal ini menunjukkan adanya kekeliruan dalam memaknai kebangkitan selama ini. 


Kebangkitan hakiki yang mengantarkan kepada perubahan yang sahih  tidak dilihat dari kemajuan sains dan teknologi, karena sains dan teknologi merupakan buah atau hasil dari pemikiran. Kebangkitan sebuah bangsa bukan hanya dinilai dari kemajuan teknologi dan megahnya bangunan fisik. Yang lebih utama adalah kebangkitan pemikiran, yaitu kesadaran untuk memegang teguh prinsip kebenaran dengan landasan ideologi yang sahih. Kebangkitan itu identik dengan kemajuan dan ketinggian taraf pemikiran (al-irtifâ’ al-fikri). Pemikiran yang tinggi, yang akan mewujudkan kebangkitan, tentu bukan sembarang pemikiran, melainkan pemikiran tentang pandangan hidup dan apa yang terkait dengannya. Sebuah bangsa yang hendak bangkit dan maju harus mampu mengubah pola pikir masyarakatnya, memiliki tujuan hidup berdimensi ruhiyah, dan berdaulat dalam mengelola negara.


Pengaturan urusan manusia ditentukan dan didasarkan pada pemikiran mendasar tentang hakikat hidup dan kehidupan, yaitu pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, kehidupan dan manusia. Dengan kata lain, pengaturan urusan manusia itu didasarkan akidah, pandangan hidup atau ideologi. Dengan demikian, kebangkitan hakiki adalah kebangkitan atas dasar ideologi, yaitu akidah yang memancarkan sistem pengaturan urusan manusia. Tingginya taraf perekonomian dan tingginya akhlak tidak akan melahirkan kebangkitan hakiki, melainkan kebangkitan semu.


Barat bangkit karena ideologinya, yaitu Sekularisme-Kapitalisme. Uni Soviet, sebelum bubar, bangkit karena ideologinya, yaitu Sosialisme-Komunisme. Umat Islam pun dulu bangkit karena ideologinya, yaitu Islam. Sebaliknya, Indonesia yang mengklaim bukan negara sekular dan bukan pula negara agama (Islam) tidak pernah bangkit. Ini wajar sebab landasan kebangkitannya tidak ideologis. Akibatnya, ekonomi amblas, dikuasai oleh segelintir orang dan pihak asing. Akidah umat Islam tidak terjaga. Pihak-pihak yang merusak dan mengacak-acak Islam malah dilindungi dan dilestarikan.


Kebangkitan yang sahih adalah kebangkitan yang didasarkan pada akidah yang sahih. Itulah kebangkitan yang didasarkan pada akidah Islam sebagai satu-satunya akidah yang sahih. Sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah Muhammad saw. ketika membangun negara di Madinah. Rasul telah menyampaikan risalah Islam sebagai way of life, membawa manusia dari gelapnya kejahiliyahan menuju cahaya keimanan.