Oleh Nur Ilmi Hidayah

Pemerhati Masalah Remaja, Praktisi Pendidikan


Tindak kriminal yang terjadi saat ini sungguh memprihatinkan. Berbagai kerusakan moral terus saja mencuat. Kasus demi kasus bermunculan silih berganti. Seiring budaya zaman yang terus berputar arah, menggerogoti iman hingga parah, membuat para orang tua bersikap pasrah. Liberalisasi telah melanda remaja. Mulai dari narkoba hingga geng-geng nakal. Belum lagi pergaulan bebas kian mengganas. Permasalahan yang tidak bisa dipandang sebelah mata, karena memakluminya sama dengan mengundang bencana bagi generasi.

Jika ditelaah kembali, kondisi kerusakan generasi saat ini tidak lepas dari pengaruh paham liberalisme dari Barat, yang notabene tidak mengindahkan keyakinan agama. Generasi muda bebas berbuat apa saja yang mereka mau. Gelombang liberalisasi terus menghantam tanpa henti, menyuburkan kerusakan mental dan menghancurkan generasi secara massif.

Gelombang sistem kapitalisme liberal yang diterapkan di negeri ini rupanya telah menggerus idealisme pemuda hari ini. Pemuda seakan lupa dengan jati dirinya, sebagai agen perubah bangsa. Ia secara tak sadar justru menjadi benih-benih perusak bangsa. Sering kita saksikan berita tentang kerusakan moral pemuda. Berbuat mesum, mencuri, membunuh, mengonsumsi narkoba, mabuk-mabukan dan lain sebagainya.

Merebaknya pergaulan bebas di kalangan remaja tak lain karena diterapkannya sistem demokrasi di negeri ini. Prinsip utama dari sistem demokrasi adalah liberalisme atau kebebasan. Dan salah satunya adalah kebebasan berekspresi. Jadi dalam sistem ini setiap individu bebas berbuat semaunya (termasuk berzina) asalkan tidak merugikan orang lain. Itulah mengapa ketika banyak pemuda melakukan pergaulan dan seks bebas karena negara tidak mau ikut campur. 

Inilah realita generasi bangsa dalam sistem kapitalisme liberal. Sistem inilah yang melahirkan orang-orang individualis dan berperilaku serba bebas. Generasi bangsa yang terpapar perilaku bebas akan mengalami berbagai kerusakan individu dan sosial. Selanjutnya, hal tersebut akan berdampak pula pada kehancuran sebuah keluarga dan bangsa.

Ada beberapa penyebab rusaknya moral generasi muda yang berkualitas, di antaranya:

1. Kurangnya pengawasan orang tua

Pengawasan orang tua adalah faktor utama dalam menciptakan generasi bangsa yang berkualitas. Tapi apa jadinya jikalau pengawasan orang tua terhadap anaknya kurang? Mungkin yang terjadi adalah akan terjadinya penyimpangan terhadap anaknya yang akan mengakibatkan bebasnya pergaulan sehingga dapat merusak ahklak anaknya. Apabila seorang anak memiliki akhlak kurang baik, apakah dia akan menjadi seorang generasi yang berkualitas? Tidak atau lebih tepatnya hanya akan menjadi sampah masyarakat.

2. Penyalahgunaan gadget

Setelah kurangnya pengawasan orang tua, masalah yang kedua adalah penyalahgunaan gadget. Saat ini hampir semua dan hampir setiap anak memiliki gadget, dengan adanya gadget anak-anak cenderung sibuk terhadap gadgetnya. Selanjutnya adalah adanya konten negatif yang diakses oleh anak-anak? Adakah penyalahgunaan gadget pada anak-anak? Pada saat gadget digunakan untuk melihat konten negatif atau digunakan untuk nge-game sampai lupa waktu, di situlah gadget disalahgunakan.

3. Pengaruh media

Di zaman sekarang teknologi terus berkembang dengan cepat begitu juga media sosial, tidak sedikit atau bahkan hampir semua anak-anak indonesia pasti telah mengenal media sosial. Seperti, WhatsApp, Facebook, Instagram, Twitter dan lain sebagainya. Sekarang ini banyak berita mengenai penyimpangan remaja terhadap media sosial yang mengakibatkan rusaknya nilai moral serta ilmu agama pada remaja. Jadi perlu ada pengawasan orang tua terhadap anaknya dalam menggunakan media sosial agar tidak terjadi penyimpangan atau tepatnya penyalahgunaan teknologi.

4. Ketidakpedulian terhadap lingkungan sekitar

Karena tuntunan hidup dan tuntunan zaman, orang-orang saat ini seakan tidak peduli terhadap lingkungan sendiri ataupun lingkungan sekitar. Padahal, peduli terhadap lingkungan sekitar adalah sebuah kontrol masyarakat yang efektif dalam mencegah kejahatan sosial pada khususnya maupun menurunnya nilai moral. Maka dari itu kita harus belajar untuk menghargai serta belajar untuk saling mengingatkan terhadap sesama agar tidak terjadi perselisihan dalam lingkungan.

Kapitalisme berorientasi pada materi, sehingga menjadikan individu-individu yang ada di dalamnya ketika beraktivitas hanya berorientasi mencari keuntungan materi semata. Liberalisme berorientasi pada kebebasan, sehingga menjadikan individu-individu yang ada di dalamnya bertingkah laku serba bebas. Dampak dari sistem kapitalisme liberal ini pun akhirnya turut dirasakan oleh pemuda saat ini. Banyak pemuda yang akhirnya menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan banyak uang. Tak jarang mereka yang akhirnya terjebak pada gaya hidup serba bebas, bahkan sampai mengantarkan pada seks bebas. 

Generasi Cemerlang dalam Naungan Islam

Sebelum generasi terbaik negeri ini benar-benar mengalami kerusakan yang parah, maka para pemuda harus segera menyadari perannya. Pemuda harus berusaha mengembalikan idealismenya sebagai agen perubah. Namun, hal ini akan sangat sulit terwujud selama negeri ini masih dicengkeram oleh sistem kapitalisme liberal. 

Maka, kita butuh sistem yang lebih baik bahkan terbaik, yang mampu mencetak generasi penerus bangsa yang cemerlang. Generasi cemerlang itu hanya akan terlahir dari sistem yang cemerlang pula, yaitu sistem Islam.

Kenapa harus Islam? Karena Islam yang diturunkan oleh Allah telah begitu sempurna mengatur kehidupan ini. Mulai dari sistem pergaulan, sistem pendidikan, sistem ekonomi, sistem hukum, sampai sistem politik dan pemerintahan, semuanya ada di dalam Islam. 

Dalam bidang pendidikan, sistem pendidikan Islam mampu membentuk individu-individu berkepribadian Islam. Negara akan menjamin pemenuhan kebutuhan pendidikan atas seluruh rakyatnya. Negara melakukan pengelolaan dalam sistem pendidikan melalui empat hal, yakni biaya pendidikan yang dibebaskan (gratis), penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai, penyediaan guru yang berkualitas dan penyiapan orangtua yang berkualitas.

Inilah solusi tuntas yang diberikan Islam untuk mengatur kehidupan umat manusia. Solusi ini akan mampu terimplementasikan dengan sempurna melalui institusi negara yang menerapkannya. Dengan adanya ketakwaan individu, yang bersinergi dengan kontrol dari masyarakat, serta penerapan komprehensif yang dilakukan oleh negara. Pilar-pilar inilah yang menjadi jaminan bahwa pendidikan akan benar-benar mampu menghasilkan generasi cemerlang, agen perubah yang bertakwa.

Sebagai agama yang sempurna, Islam mempunyai seperangkat aturan yang akan menyelamatkan remaja dari pergaulan bebas. Adapun aturan tata pergaulan dalam Islam bisa dirinci sebagai berikut:

1. Larangan mendekati zina

Dalam Islam pergaulan antar pria dan wanita diatur sedemikian rupa. Perbuatan yang bisa menghantarkan pada perbuatan zina (pacaran) saja sangat dilarang apalagi perilaku seks bebas. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Isra’ ayat 32:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا 

“Dan janganlah kamu mendekati zina,sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” 

Pelaku zina akan diberikan hukuman yang sangat berat. Bagi pelaku yang belum menikah maka akan dihukum cambuk 100 kali dan diasingkan sedangkan bagi pelaku yang sudah pernah menikah maka akan dihukum rajam yakni dilempari batu sampai meninggal. Tujuan dari hukuman ini adalah sebagai penebus dosa bagi pelaku (jawabir), selain itu juga sebagai pencegahan agar tidak ada lagi yang berbuat seperti itu (jawazir).

2. Kewajiban menutup aurat

Setiap wanita yang sudah baligh (dewasa) diwajibkan untuk menutup aurat ketika keluar rumah dengan memakai kerudung dan jilbab. Ini sebagaimana yang difirmnkan Allah dalam surat Al Ahzab ayat 59, Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّاَزْوَاجِكَ وَبَنٰتِكَ وَنِسَاۤءِ الْمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيْبِهِنَّۗ ذٰلِكَ اَدْنٰىٓ اَنْ يُّعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا 

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

3. Menundukkan pandangan

Ketika berada di luar rumah pria dan wanita juga wajib menundukkan pandangan mereka, seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an surat An Nur ayat 30 Allah berfirman:

قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu, lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

4. Larangan berkhalwat

Islam sangat menjaga sekali interaksi antara pria dan wanita. Pria dan wanita yang bukan mahram dilarang untuk berkhalwat (berdua-duaan). Rasulullah bersabda yang artinya, “Janganlah sekali-kali pria dan wanita berkhalwat kecuali wanita itu ditemani mahramnya.” (HR. Bukhari)

5. Larangan bertabaruj

Sudah menjadi hal lazim di sistem liberal saat ini para remaja ketika keluar rumah dengan full make up.  Padahal dalam Islam seorang wanita ketika keluar rumah dilarang untuk berdandan karena hal inilah salah satu yang bisa menjadi sebab ketertarikan lawan jenis. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Ahzab ayat 31. Allah berfirman yang artinya, “Hendaklah kalian (para wanita) tetap di rumah kalian dan janganlah kalian bertabbaruj seperti tabbaruj orang-orang jahiliyah yang dahulu.”

Inilah beberapa aturan yang sudah ditetapkan oleh Islam untuk menjaga kehormatan (izzah) dan kesucian hati (iffah) pria dan wanita. Tak heran ketika Islam diterapkan secara kafah (sempurna) dalam institusi Daulah Khilafah, para remaja bisa meraih prestasi yang luar biasa diusianya yang masih belia. Salah satunya adalah Muhammad Al Fatih yang mampu memimpin pasukan dan menaklukkan Konstatinopel di usianya yang masih 23 tahun. Begitu juga Usamah bin Zaid yang menjadi Pemimpin pasukan di usia 14 tahun. Srikandi Islam Aisyah binti Abu bakar (Ummul Mukminin) pun menjadi perawi hadist di usia belia, bahkan para sahabat banyak merawikan hadist dari beliau. Dan masih banyak sederet nama remaja Islam lainnya yang menoreh prestasi gemilang ketika sistem Islam diterapkan.

Islam sebagai rahmatan lil alamin pasti mempunyai aturan yang lengkap dan sempurna yang berlandaskan nash-nash syar’i yang dapat menyelesaikan semua permasalahan umat termasuk permasalahan remaja yang banyak muncul saat ini. Sudah saatnya kita kembali kepada aturan Islam dengan menerapkan Islam secara kafah (total) dalam naungan Daulah Khilafah.

Wallaahu a’lam bishshawab.[]

 
Top