Oleh Nur Ilmi Hidayah

Pemerhati Masalah Remaja, Praktisi Pendidikan


LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) merupakan sebuah istilah yang marak dipakai untuk  menekankan keanekaragaman budaya berdasarkan identitas seksualitas dan gender atau penyimpangan orientasi seksual. Kaum LGBT identik dengan bendera berwarna-warni yang dianggap mewakili identitas mereka.


Fenomena LGBT mulai berani memunculkan eksistensinya setelah pemerintah Amerika Serikat melegalkan pernikahan sesama jenis dan menghapus segala diskriminasi pada 26 Maret 2015 lalu dan tentu saja pelegalan tersebut menimbulkan kontroversi pada masyarakat (indonesia.rbth.com). Pelegalan tersebut memicu kaum LGBT di berbagai belahan dunia untuk memperjuangkan hak mereka dan menjadi berani memunculkan sifat aslinya di masyarakat.


Pemuda bangsa ini menjadi sasaran empuk pengaruh-pengaruh buruk dari luar, seperti menganggap lumrah gerakan LGBT (Lesian, Gay, Biseksual dan Transgender) atau hubungan di luar nikah semakin membuat resah masyarakat Indonesia. Tak sedikit generasi millenial yang menjadi pecandu internet. Mudahnya akses informasi, baik informasi positif maupun informasi negatif menambah kekhawatiran masyarakat akan hal ini.


Menurut Muhammad Abdul Ajis, M.Pd., seorang motivator dan dosen pengajar Program Studi Pendidikan dan Konseling di Ma’soem University, bahwa sudah seharusnya perkembangan remaja tidak hanya berfokus pada perkembangan aspek akademiknya saja, akan tetapi pendidikan karakter, perilaku dan akhlaknya sudah harus menjadi fokus utama orang tua dan sekolah dalam usahanya untuk membentengi generasi muda masa depan bangsa ini.


Persoalan LGBT ini, merupakan sebuah penyakit penyimpangan seksual tidak wajar. Hal ini, jika dibiarkan dapat meracuni bangsa. Selain merusak moral, peradaban tentunya merusak kesehatan bangsa. Karena itu, LGBT harus dihapus dan tak boleh muncul kembali di negera timur seperti Indonesia ini.


Jaringan LGBT yang cukup luas tidak bisa dilepaskan dari pandangan dunia yang sekuler. Salah satu proyek sekularisme dalam bidang moral adalah melepaskan ikatan ajaran dan norma agama dalam berperilaku dan gaya hidup. Sekularisme berusaha sedapat mungkin mendalilkan konsep baik dan buruk berdasarkan kesepakatan dan konstruksi bersama. Artinya, baik dan buruk perilaku adalah berdasarkan kontrak sosial, bukan lagi berdasarkan dalil agama. Agama dianggap sudah tidak lagi relevan dengan perkembangan dan tuntutan zaman.


Berkembangnya pemahaman sekularisme yang memaknai kebebasan sebagai pilihan eksistensial manusia yang merdeka di dunia barat, berdampak pada tercerabutnya kodrat manusia dari norma-norma ajaran agama dalam perilaku sehari-hari, termasuk di dalamnya perilaku seksual.


Menurut kaum liberal, menjadi lesbian, gay, biseks maupun transgender adalah sebuah pilihan sebagai bagian dari hak asasi. Kalau pun kemudian muncul masalah, maka itu dianggap karena kurangnya pengaturan baik dari masyarakat maupun negara, bukan karena salahnya pilihan mereka.


Kapitalisme dan liberalisme telah melahirkan kebebasan berperilaku, berpendapat, beragama dan memiliki yang banyak mencetuskan faktor-faktor pendorong gejolak seksual, bahkan kepada sesama jenis. Padahal Islam melarangnya, ”Rasulullah saw. melarang laki-laki yang meniru perempuan, dan perempuan yang meniru laki-laki.” (HR. Bukhari). Terlebih lagi, sistem demokrasi-liberalisme telah merusak keimanan masyarakat sampai dengan ke level individu sehingga membuat orang tidak merasa takut dan diawasi oleh Allah Swt. Pada akhirnya, mereka dengan bebas menyalurkan hasrat seksnya dengan cara-cara yang tidak semestinya.


Pembiaran negara terhadap segala faktor pendukung penyimpangan seksual, semakin menambah banyaknya kasus yang terjadi. Tidak adanya sanksi yang diberlakukan, akan semakin menambah panjang deretan kasus ini. Terlebih lagi keberadaan kaum LGBT semakin mendapatkan angin segar dengan dukungan yang dilakukan oleh sejumlah LSM.


Butuh solusi yang tegas, untuk menyelesaikan perkara ini. Mengingat lesbi/homo adalah tindakan penyimpangan seksual yang diharamkan dalam Islam. Pelakunya dilaknat oleh Allah Swt. Efek dari perbuatan ini juga akan menimbulkan kerusakan yang dahsyat di tatanan masyarakat, seperti penularan penyakit kelamin, rusaknya nilai moral masyarakat, kehancuran keluarga, dalam jangka panjang berpengaruh terhadap regenerasi keturunan, dan lain sebagainya.


Pandangan Islam tentang LGBT


Sistem kapitalisme dan demokrasi tentu telah melahirkan kebebasan bagi manusia, yaitu kebebasan berperilaku, beragama, berpendapat dan memiliki. Semua ini hanya akan menghasilkan kebobrokan dan kehancuran karena manusia tidak menggunakan hukum Allah sebagai standar.


Islam menjelaskan bahwa hikmah penciptaaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan adalah untuk kelestarian jenis manusia dengan segala martabat kemanusiaannya (QS. an-Nisa [4]: 1). Dari sini, telah jelas bahwa perilaku seks yang menyimpang seperti homoseks/lesbi dan seks pra nikah bertabrakan dengan tujuan itu. Pelakunya dilaknat oleh Allah Swt.


Naluri ini bisa dipuaskan oleh manusia dengan berbagai macam cara. Bisa juga dengan hubungan sesama jenis (homoseksual atau lesbian) atau bahkan bisa dipuaskan dengan binatang atau sarana lainnya.


Tetapi, dari berbagai cara dan sarana tersebut, tidak mungkin mewujudkan tujuan diciptakannya naluri tersebut oleh Allah Swt. kecuali dalam satu kondisi, yaitu pemuasan naluri tersebut oleh seorang laki-laki dengan seorang perempuan atau sebaliknya.


Dan tentu saja itu dalam ikatan pernikahan syar’i, bukan zina. Dengan itulah bisa tercapai tujuan penciptaan laki laki dan perempuan yaitu demi untuk kelangsungan jenis manusia dengan segenap martabatnya sebagaimana firman Allah Swt.:


يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا


“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. an Nisa [4]: 1).


Oleh karena itu, perilaku LGBT adalah haram dalam pandangan Islam. Pelakunya dilaknat dan layak mendapat sanksi sesuai syariat Islam. Rasul saw. bersabda, “Dilaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth (homoseksual).” (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad dari Ibnu Abbas).


Al-Qur'an juga menyebutkan perilaku homoseksual yang dipresentasikan kaum Nabi Luth ‘alaihissalam di beberapa ayat. Allah Swt. berfirman:


إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِ ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ


“Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini kaum yang melampaui batas.” (QS. Al A’raaf: 81). 


Sangat mustahil berharap pelaku bisa sadar sendiri sehingga meninggalkan perilaku menyimpang ini. Dan tidak mungkin berharap penyadaran berlangsung secara massal jika hanya dilakukan oleh para ustadz dan dai. Tak mungkin juga membebankan hanya kepada para orang tua untuk membentengi anak-anak mereka dari perilaku ini sementara pelaku dan pemicunyanya bebas berseliweran di sekeliling mereka.


Problem LGBT adalah problem sistemis, menyangkut banyak faktor yang saling terkait satu sama lain, butuh solusi sistemis. Di sinilah, peran negara menjadi sangat penting. Negara harus mengganti sistem ideologi kapitalisme yang diadopsinya saat ini. Sebab, LGBT adalah buah liberalisme yang dihasilkan oleh ideologi kapitalisme. Selama ideologi kapitalisme masih dipakai dalam sistem kehidupan bermasyarakat maupun bernegara, mustahil problem LGBT ini bisa selesai dan tak muncul kembali.


Sebagai gantinya, Negara seharusnya mengadopsi sistem ideologi Islam yang akan menerapkan syariat Islam secara sempurna, syariat yang berasal dari Allah Swt., Sang Pencipta manusia. Selanjutnya negara akan melakukan beberapa langkah sebagai berikut:


Pertama, Negara menanamkan iman dan takwa kepada seluruh anggota masyarakat agar menjauhi semua perilaku menyimpang dan maksiat. Negara juga menanamkan dan memahamkan nilai-nilai norma, moral, budaya, pemikiran dan sistem Islam dengan melalui semua sistem, terutama sistem pendidikan baik formal maupun non formal dengan beragam institusi, saluran dan sarana.


Kedua, Negara akan menyetop penyebaran segala bentuk pornografi dan pornoaksi baik yang dilakukan sesama jenis maupun berbeda jenis. Negara akan menyensor semua media yang mengajarkan dan menyebarkan pemikiran dan budaya rusak semisal LGBT.


Ketiga, Negara akan menerapkan sistem ekonomi Islam yang menjamin keadilan dan kesejahteraan ekonomi rakyat, sehingga tak akan ada pelaku LGBT yang menjadikan alasan ekonomi (karena miskin, lapar, kekurangan dan lain-lain) untuk melegalkan perilaku menyimpangnya.


Keempat, Jika masih ada yang melakukan, maka sistem ‘uqubat (sanksi) Islam akan menjadi benteng yang bisa melindungi masyarakat dari semua itu. Hal itu untuk memberikan efek jera bagi pelaku kriminal dan mencegah orang lain melakukan kejahatan serupa.


Negara yang sanggup melakukan semua tugas dan tanggung jawab tersebut tak lain adalah Negara Khilafah. LGBT akan bisa dicegah dan dihentikan hanya oleh khilafah. Di dalam naungan khilafah, umat akan dibangun ketakwaannya, diawasi perilakunya oleh masyarakat agar tetap terjaga, dan dijatuhi sanksi bagi mereka yang melanggarnya sesuai syariat Islam. Maka, Islam akan mewujud sebagaimana yang telah Allah tetapkan yaitu sebagai rahmatan lil ‘alamin.


Wallaahu a’lam bishshawab.[]

 
Top