Larangan Mudik, Kebijakan untuk Siapa?



Oleh Selviana

(Aktivis Dakwah Kampus)


Mudik adalah momentum yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat indonesia khususnya umat muslim guna berkumpul bersama keluarga di hari raya.


Tetapi Presiden Joko Widodo mengeluarkan kebijakan bahwa mudik dilarang, alasanya sederhana untuk menghindari penyebaran Covid-19. Namun Dikeluarkannya kebijakan larangan mudik, memicu banyak problem dan tanggapan salah satunya dari wakil presiden. 


Dilansir oleh CNCB Indonesia (26/04/2021), Wakil Presiden Ma'ruf Amin meminta adanya dispensasi bagi santri untuk pulang ke rumah saat Lebaran, artinya ada permintaan santri tidak dikenakan aturan larangan mudik sebagaimana masyarakat umum lainnya.


Hanya saja, permintaan wapres tersebut dinilai aneh, mengingat semua orang dari lapisan masyarakat apapun punya peluang yang sama dalam penyebaran Covid-19.


"Jika pemerintah terlalu banyak memberikan dispensasi, kesannya pemerintah tidak serius untuk mengurangi penyebaran covid 19 di saat mudik. Banyak pihak sudah sepakat, sampai-sampai pengusaha bus yang terdampak besar mau mentaati pemerintah. Justru sekarang tiba-tiba ada permintaan dispensasi dari penguasa," kata Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno.


Djoko yang juga Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia Pusat (MTI) ini menilai kesan Pemerintah tidak serius untuk menanggulangi Covid-19, semestinya tidak muncul jika pemerintah sendiri tidak melontarkan isu-isu yang 'aneh'.


Padahal, aturan larangan mudik yang ada telah memakan korban terutama dari pelaku usaha di sisi transportasi.


permintaan ini sangatlah aneh jika orang tertentu bisa meminta dispensasi untuk bisa mudik dengan lancar maka tidak menutup kemungkinan semua orang yang ingin bertemu dengan keluarga akan mengusulkan dispensasi yang sama.


Jika permintaan wakil presiden ini dipenuhi, maka akan mengurangi kepercayaan masyarakat kepada penguasa maupun kepada wabah (Covid 19).


Apakah para santri tidak akan terpapar virus ketika mudik dan masyarakat biasa akan terpapar, sangatlah membingungkan.



Kita melihat dalam kebijakan ini tidak melalui jalur musyawarah, kebijakan di ambil atas dasar kepentingan berbagai pihak dan tidak peduli dengan pihak yang lain.


Dalam sejarah Islam pada masa Khulafaurrasyidin, tepatnya pada kepemimpinan khalifah Umar bin Khattab juga pernah terjadi wabah yang dapat menular kepada orang lain.


Kebijakan khalifah Umar bin Khattab dapat kita jadikan Teladan dimasa sekarang. kebijakan yang di ambil adalah dari hasil keputusan bersama demi kepentingan orang banyak (ummat).


Nasihat Umar bin Khattab Ada 3 cara untuk menyelesaikan masalah, yaitu diantaranya:

Pertama, menyelesaikan masalah dengan idenya yang justru semakin merusak.


Kedua, menyelesaikan masalah dengan berkonsultasi dan memusyawarahkan kepada yang lebih ahli.


Ketiga, bingung dan tidak menyelesaikan masalah, tetapi tidak mau mencari solusi dan tidak mau mendengar saran dan solusi orang lain.


Umar bin Khattab sama sekali tidak mengambil langkah pertama selaku orang yang mengambil keputusan yang merusak. Umar juga tidak mengambil langkah yang ketiga yaitu seorang yang bingung ketika menghadapi masalah.


Umar juga memberikan nasihat kepada kita. Bagaimana seorang pemimpin harus mengambil sikap yang tegas untuk menyelesaikan sebuah masalah. Untuk menyelesaikan masalah, seorang pemimpin juga sama sekali tidak diperbolehkan untuk menyepelekan suatu masalah. Karena, jika masalah itu disepelekan dan tidak diselesaikan, maka dampaknya akan terus menerus.


Masalah tidak bisa diselesaikan, kecuali dengan ketegasan tanpa paksaan, dan dibarengi dengan cara lembut tapi tidak disepelekan.


Di sinilah bobot keputusan Umar yang sangat bagus untuk diteladani. Dan, ada satu lagi nasihat Umar dalam mempertahankan eksistensi sebuah negeri. Dimana, dia memilih orang-orang yang terbaik untuk membangun suatu daerah yang dipimpinnya agar tidak rusak.


Dikisahkan, ada suatu daerah yang nyaris hancur, padahal daerah itu sudah dibangun dan berkembang. Umar bin Khattab lalu ditanya, "Bagaimana bisa ada kampung yang hancur, padahal sudah dibangun kokoh dan berkembang?" Umar menjawab, "Jika para pembuat dosa lebih hebat dari pada orang-orang yang baik di daerah itu, kemudian pemimpin dan tokoh masyarakatnya adalah orang-orang munafik."


Di masa Umar, kemajuan Islam banyak dicapai. Dan, negeri-negeri di bawah kepemimpinan Umar sejahtera. Dan, negeri itu jauh dari kata kehancuran. Ini karena, Umar dalam memilih pemimpin bukan orang-orang yang munafik. Sehingga, kebijakan para kepala daerah pilihan Umar, benar-benar bekerja untuk rakyat, bukan untuk mengutamakan kepentingan diri si pejabat atau kelompoknya.


Wallahu a'lam bishawab.