Oleh Tsani Tsabita Farouq

Aktivis Dakwah


"Perumpamaan kaum Muslimin dalam urusan kasih sayang dan tolong-menolong bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka menjalarlah penderitaan itu ke seluruh badan hingga tidak dapat tidur dan (merasa) panas." 


Demikian hadis Nabi Muhammad saw., sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim.


Sabda Rasulullah saw. di atas mengajarkan kepada kita untuk saling mencintai saudara muslim kita di mana pun mereka berada. Ketika kita masih bisa beribadah dengan aman nyaman dan tentram, bagaimana dengan saudara kita di belahan dunia lain yang kesusahan untuk beribadah? 


Dikutip dari detik.com, "Sedikitnya 178 warga Palestina mengalami luka-luka dalam bentrokan dengan polisi Israel di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, pada Jumat (7/5) malam waktu setempat. Polisi Israel menggunakan peluru karet dan granat kejut terhadap warga Palestina yang melemparkan batu ke arah mereka."


Seperti dilansir Reuters, Sabtu (8/5), bentrokan ini pecah saat kemarahan memuncak di kalangan warga Palestina terkait potensi penggusuran sejumlah keluarga Palestina dari rumah-rumah mereka yang tanahnya diklaim oleh para pemukim Yahudi yang menggugat ke pengadilan."


Kekejian laknatullah Yahudi Israel kepada kaum muslimin di Palestina ini bukan hanya terjadi sekali saja, tetapi sudah terjadi berulang kali dan sudah menghabiskan jutaan nyawa kaum muslimin. Mereka terus menghalangi umat muslim Palestina agar tidak bisa beribadah di Masjid Al-Aqsa. Apakah hati kita tidak teriris mendengar jeritan para wanita dan anak-anak Palestina? Di sana mereka memanggil, "Dimana kalian berada wahai saudaraku? Tolonglah kamii!!" 


Harus berapa kali lagi serangan Israel ini bisa membuat kita paham, jika sebenarnya yang dibutuhkan oleh kaum muslimin di Palestina bukan hanya kalimat kecaman saja, tetapi kekuatan besar yang mampu menenggelamkan pasukan Israel. Kekuatan yang juga mampu menyelamatkan saudara-saudara kita di Palestina. 


Adapun kekuatan seperti ini tidak dapat diharapkan dari PBB dan organisasi Internasional lainnya, karena solusi dari mereka justru hanya mengokohkan penjajahan Israel terhadap umat muslim. Kekuatan seperti ini juga tidak dapat kita andalkan dari para pemimpin negeri kaum muslimin, karena yang dilakukannya hanya sebatas kecaman semata.


Maka kekuatan yang sejatinya dibutuhkan umat muslim di Palestina adalah kekuatan dalam konsep kepemimpinan. Seperti tertulis dalam sebuah Hadis Rasululullah saw. dari Abu Hurairah r.a Nabi saw. bersabda, "Sesungguhnya seorang imam itu laksana perisai. Dia akan dijadikan perisai dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah dan adil, maka dengannya dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/azab karenanya." (HR Bukhari dan Muslim)


Gambaran pemimpin dalam hadis di atas akan menjaga tanah wakaf Palestina dengan sepenuh hati. Dan Ia akan mengerahkan pasukannya untuk menyerukan jihad dalam rangka membela tanah umat.


Pemimpin seperti ini mustahil lahir dari sistem demokrasi kapitalis seperti saat ini. Pemimpin seperti hadis Rasulullah saw. hanya akan tercipta dari sistem yang sahih. Adapun sistem yang sahih adalah sistem yang menerapkan Islam secara kafah dalam seluruh ranah kehidupan. Sistem yang berpedoman pada hukum syariat yaitu hukum Allah Swt. Al-Khalik Al-Mudabbir. Dan sistem sahih tersebut dinamakan Khilafah.


Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top