Oleh Hany Handayani, S.P. 

(Aktivis Muslimah) 


Mudik merupakan aktivitas tahunan yang biasa dilakukan oleh masyarakat Indonesia menjelang Idul Fitri. Tradisi mudik mungkin hanya ditemui di Indonesia, lantaran di negara lain yang juga muslim nampaknya hal ini tak begitu jadi prioritas. Selain demi menjalin silaturahmi saat Idul Fitri, mudik juga mampu menambah sisi ekonomi bagi sebagian masyarakat. Terutama bagi transportasi umum. 

Hampir dua tahun negeri ini dilanda pandemi. Di tahun kedua ini pula mudik masih tetap jadi aktivitas yang dilarang oleh pemerintah. Atas dasar mengontrol arus virus covid-19 yang masih belum terkendali, pemerintah akhirnya menetapkan aturan khusus bagi mereka yang mau mudik. 

Mulai dari menyiapkan aparat keamanan guna mengontrol masyarakat agar tetap di tempat masing-masing. Hingga memberikan sangsi bagi yang melanggar. Jika ada yang berani nekat pergi, maka jangan kaget di tengah jalan anda akan diminta untuk balik arah ke tempat asal. Seperti yang dilansir oeh kompas.com berikut ini. 

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, warga yang nekat mudik akan diminta berputar balik. "Pihak kepolisian berhak memerintahkan masyarakat berputar balik. Maka dari itu saya minta agar masyarakat jangan memaksakan diri untuk mencoba mudik," 

Di tengah sorotan larangan mudik bagi warga. Netizen justru di kagetkan dengan pernyataan dari Eks Direktur Pelaksana Bank Dunia untuk tetap berbelanja baju baru walau tidak mudik. Menurutnya ini merupakan salah satu cara untuk mendongkrak perekonomian yang sedang lesu akibat pandemi. 

Mudiknya di larang tapi kumpul di mall dan pasar justru dimudahkan. Nampak nyata ketika Jelang Lebaran, Pasar Tanah Abang di Jakarta Pusat kembali disesaki pengunjung pada Minggu, 3 Mei 2021. Dikutip dari liputan 6.com. 

Banyak kalangan masyarakat yang menyayangkan kebijakan tersebut. Di tengah kagalauan dalam mencari sesuap nasi, pemerintah justru tak empati mengeluarkan kebijakan mengiris hati. 

Membludaknya masyarakat di tengah pandemi nyatanya bukan hanya butuh kesadaran pribadi. Melainkan kebijakan yang selaras dari pemimpin negeri harusnya mampu mengantisipasi. 

Namun di saat yang sama justru pemerintah menunjukan inkonsistennya lagi. Mengimbau belanja demi menyambut hari raya walau mudik tak diperbolehkan kembali. 

Nampak solusi tambal sulam yang terjadi dalam mengurusi masalah ekonomi dan pandemi, solusi yang tak mendasar untuk selesaikan urusan mendesak negeri ini. Maka sangat wajar jika kita amat sulit terlepas dari beragam masalah yang tak kunjung usai hingga detik ini. 

Semoga dengan bergulirnya fakta yang terjadi saat ini, mampu membuka mata hati. Baik muslim maupun bukan. Karena masalah yang kita hadapi adalah masalah bersama yang butuh solusi dengan pemikiran yang mendalam dan juga hati yang jernih. Bukan sekedar dugaan tanpa fakta yang gunakan trial and error seperti sekarang ini. 

.

Wallahu'alam bishowab.

 
Top