Oleh Dwi Susanti

(Praktisi Pendidikan)


Alhamdulillah kita memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadan. Dimana di 10 hari terakhir Ramadan ini, Rasulullah mencontohkan untuk semakin meningkatkan ibadah. Banyak riwayat yang menyatakan bahwa di 10 hari terakhir Ramadan, Rasulullah mengencangkan tali sarungnya dan lebih banyak beribadah. Salah satu aktivitas ibadah tersebut adalah melakukan i'tikaf di masjid.

Apa itu i'tikaf?

I'tikaf artinya berdiam diri di masjid. Bukan di musala yang ada di rumah ataupun musala yang ada di luar rumah. Yang rajih menurut Imam Syafi'i i'tikaf harus dilakukan di dalam masjid, baik dekat maupun jauh dari rumah. I'tikaf ini boleh dilakukan oleh muslim laki-laki maupun perempuan.

Hukum i'tikaf ada 4 yaitu:

1. Wajib yaitu bagi orang yang telah Bernadzar untuk melaksanakan i'tikaf, maka wajib baginya untuk beri'tikaf karena nadzarnya. 

2. Sunnah, ini adalah hukum asal i'tikaf di bulan yang mulia yaitu bulan Ramadan.

3. Makruh yaitu bagi perempuan yang nampak menarik, karena bisa menimbulkan fitnah. Apalagi jika tanpa disertai mahram.

4. Haram yaitu bagi perempuan yang tidak mendapatkan izin dari wali/suaminya. Maka haram hukumnya melakukan i'tikaf.

Sebagaimana ibadah yang lain, i'tikaf juga memiliki syarat-syarat tertentu. Di antara syarat i'tikaf yaitu:

1. Beragama Islam

2. Berakal

3. Berniat untuk melakukan i'tikaf

4. Suci dari hadats baik hadats besar maupun hadats kecil

I'tikaf dilakukan minimal seukuran tumakninah. Selama berniat i'tikaf, maka seseorang dilarang untuk keluar dari masjid tersebut kecuali untuk sebuah urusan tertentu. I'tikaf tidak disyaratkan harus duduk, jadi boleh juga dilakukan dengan berdiri.

I'tikaf bukan hanya boleh dilakukan di bulan Ramadan. Di luar Ramadan pun seorang muslim boleh melakukan i'tikaf. Tetapi yang lebih utama adalah dilakukan di bulan Ramadan. Terlebih lagi di 10 hari terakhir bulan Ramadan. I'tikaf juga dimaksudkan untuk berburu malam Lailatul Qadar. 

Aisyah ra. pernah meriwayatkan sebuah hadis:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ اْلعَشَرَ اْلأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ. [رواه مسلم]

Artinya: “Bahwa Nabi saw. melakukan i’tikaf pada hari ke sepuluh terakhir dari bulan Ramadan, (beliau melakukannya) sejak datang di Madinah sampai beliau wafat, kemudian istri-istri beliau melakukan i’tikaf setelah beliau wafat.” [HR. Muslim]

Aisyah ra. pernah bertanya kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah apa yang harus saya katakan saat bertemu malam Lailatul Qadar? Maka Rasulullah menjawab bacalah Allahumma innaka afuwun tuhibbul afwa fa' fuannii".

Maka di malam-malam terakhir bulan Ramadan khususnya di malam ganjil kita dianjurkan untuk memperbanyak membaca doa tersebut.

I'tikaf adalah momen dimana kita bisa memuhasabahi diri. Apa saja yang telah kita lakukan selama hidup dan apa saja yang belum kita lakukan. Amalan yang buruk semoga bisa ditinggalkan dan amalan-amalan baik semakin ditingkatkan. 

Namun bagi perempuan yang berhalangan untuk melakukan i'tikaf baik karena tidak mendapatkan ijin dari mahram/suami maupun karena haid, bisa melakukan aktivitas ibadah yang lain. Para perempuan yang berhalangan bisa tetap berburu pahala dengan menunaikan aktivitas wajib seperti tholabul Ilmi, amar makruf nahi mungkar/Berdakwah, menyediakan makanan berbuka dan sahur untuk keluarga. Dan ditambah dengan aktivitas sunnah seperti baca Qur'an, bersedekah, berbagi makanan berbuka, berdzikir dan berdoa dan lain-lain.

Semoga kita semua mendapatkan keberkahan dengan menjumpai malam Lailatul Qadar di saat kita tengah khusyuk beribadah. Kita mendapatkan gelar muttaqin selepas Ramadan. Senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan. Aamiin Yaa Mujibud du'a.

Allahu a'lam bishshawab.

 
Top