Gerakan Ayo Sekolah di Garut, Peluncuran Sekolah Tatap Muka di Masa Pandemi, Amankah?



Oleh Ade Aisyah A.Md

(Aktivis Dakwah Islam kafah, Pendidik dan Pemerhati Generasi)

Bagai makan buah simalakama. Itulah peribahasa yang sesuai dengan kondisi pendidikan di masa pandemi. Pilihan sekolah tatap muka atau pembelajaraan jarak jauh, dua-duanya memiliki resiko yang tak kalah beratnya.

Sudah hampir dua tahun pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda akan berakhir. Dunia pendidikan sudah sangat resah gelisah. Masa depan generasi dipertaruhkan. Meski sekolah daring berlangsung tak jarang membuat orang tua darting. Anak-anak bukannya belajar tapi malah intens main game dan berselancar kesana-kemari. Mereka beralasan tidak mengerti dengan materi pelajaran yang disampaikan.

Memang belajar daring banyak keterbatasan. Guru tidak bisa langsung merespon murid yang tidak paham dengan materi pelajaran, apalagi murid tidak ada kemauan bertanya. Ditambah tugas-tugas yang menumpuk menjadi beban berat murid padahal ilmu yang seharusnya dipahami tidak kunjung jadi pemahaman.

Dilansir oleh hariangarutnews.com pada Senin (3/5/2021) pemkab Garut menggelar Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Tahun 2021, di Lapang Sekretariat Daerah (Setda) Garut, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut. Dalam sambutannya Bupati Garut, Rudy Gunawan, menyampaikan bahwa Kabupaten Garut memiliki semangat untuk menjadi penggerak dan pioner sekolah tatap muka. Apalagi sudah dinyatakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset Teknologi (Kemendikbud Ristek) Garut menjadi bagian pionir atau pelopor sekolah penggerak.

Rudi Gumawan juga menyatakan kita berharap kita tetap melaksanakan apa yang menjadi kewajiban kita yaitu anak-anak bisa belajar, tetapi di masa pandemi kita pun punya kewajiban tentang keselamatan anak supaya terhindar dari virus Corona.

Kehati-hatian para pemangku kebijakan memang masuk akal. Hanya saja, masyarakat menjadi heran dan geram. Sekian lama sekolah ditutup tapi pasar-pasar bahkan tempat wisata dibuka.

Sebelum mencanangkan gerakan ayo sekolah, Bupati Garut yang juga sebagai (Ketua) Satgas Covid-19 Garut sudah memberikan izin untuk melakukan simulasi sekolah bagi anak-anak TK, SD dan SMP.  Simulasi pembelajaran tatap muka dilaksanakan serentak pada tanggal 19 April 2021. Dalam kegiatan itu, ada beberapa poin yang diutamakan. Salah satunya adalah terkait jam belajar yang dibatasi selama 3 jam saja dan kapasitas kelas yang hanya 30-50% saja.(detiknews.com, 19/4/2021)

Kekhawatiran yang masih terus menggelayuti masyarakat terkait keamanan dan keselamatan anak-anak mereka sangat dimaklumi. Pandemi masih berlangsung ancaman virus masih terus mengintai.

Inilah akibat yang harus dialami masyarakat karena penanganan pandemi dengan kebijakan yang mencla-mencle. Sistem kapitalis sekuler lebih mengkhawatirkan dampak ekonomi daripada keselamatan nyawa. Sedari awal pandemi enggan menerapkan karantina wilayah untuk mencegah penyebarluasan virus. Kalau sudah tersebar seperti sekarang sudah semakin sulit mengendalikannya.

Seharusnya pemerintah mengoptimalkan dulu upaya 3T (Tracing, Testing, dan Treatment) untuk memutus rantai penularan Covid-19 selain melakukan 5M (Menggunakan masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak, Menghindari Kerumunan, Mengurangi mobilitas).

3T yang dimaksud yaitu pemeriksaan dini ( testing), pelacakan ( tracing ), dan perawatan ( treatment). Pemeriksaan dini menjadi penting agar bisa mendapatkan perawatan dengan cepat. Tak hanya itu, dengan mengetahui lebih cepat, kita bisa menghindari potensi penularan virus kepada orang lain.

Selanjutnya pelacakan dilakukan pada kontak-kontak terdekat pasien positif Covid-19. Setelah diidentifikasi petugas kesehatan, pasien harus melakukan isolasi atau mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Perawatan akan dilakukan apabila seseorang positif Covid-19. Jika ditemukan tidak ada gejala, orang tersebut harus melakukan isolasi mandiri di fasilitas kesehatan yang sudah ditunjuk pemerintah. Sebaliknya, jika orang tersebut menunjukkan gejala, para petugas kesehatan akan memberikan perawatan di rumah sakit yang sudah ditunjuk pemerintah.

Upaya 5M dan 3T selaras dengan upaya sistem Islam menangani wabah sejak awal sehingga penularannya bisa diminimalisir. Perintah Islam untuk menjaga jarak ( social distancing) dan isolasi dari penyakit tercermin dari hadis Rasulullah Saw. berikut.

Dari Usamah bin Zaid, dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda,

“Tha’un (penyakit menular/wabah kolera) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari darinya.” (HR Bukhari Muslim).

Upaya 5M dan 3T yang optimal akan didapatkan mana daerah episentrum Covid-19 dan mana daerah yang minim kasus. Untuk daerah episentrum di mana masih banyak kasus Covid-19 seharusnya pembukaan sekolah (tatap muka) bisa ditunda dulu hingga kondisinya membaik/memungkinkan. Sedangkan untuk daerah minim kasus Covid-19, sekolah bisa dibuka dengan syarat protokol kesehatan yang ketat.

Sistem Islam menempatkan keselamatan warganya adalah yang terpenting dan bersungguh-sungguh mengurus rakyatnya, sebagaimana hadis Rasulullah Saw., "Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.”(HR al-Bukhari)

Solusi tuntas Islam menangani wabah sehingga pendidikian tetap bisa berjalan hanya bisa dijalankan oleh negara yang menerapkan Islam secara kafah dalam naungan khilafah. Mari berjuang bersama menegakkannya.

Wallahu a'lam