Oleh Maya Dhita

Pemerhati Masalah Publik


"Saya kira PBB dan negara-negara OKI harus turun tangan untuk menyelesaikan kekerasan berdarah ini. Kekerasan ini harus disudahi," ujar Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Ace Hasan Syadzily dalam keterangannya, Minggu (9/5). (www.detiknews.com, 10/5/2021).


Pernyataan ini dilontarkan terkait peristiwa yang sedang terjadi dan menimpa saudara-saudara muslim kita di Palestina. Tindakan anti kemanusiaan ini seakan dibiarkan oleh lembaga Internasional, tanpa ada tindakan berarti. Negara dengan mayoritas penduduk muslim pun hanya bisa mengecam. 


Sejak Sabtu (8/5), Masjid Al-Aqsa diserang oleh tentara Israel. Lebih dari 200 warga Palestina terluka akibat aksi represif tersebut. Aparat Israel menggunakan peluru karet, granat kejut dan melakukan pemukulan dan penangkapan kepada sejumlah warga. Warga muslim yang hendak beribadah di sepertiga terakhir Ramadan harus mengalami perlakuan buruk.


Situasi menjadi tegang dan semakin memburuk sejak polisi Israel membarikade area tempat duduk di luar gerbang Damaskus pada awal Ramadan. Semakin gencarnya ekspansi Yahudi di Tepi Barat Palestina serta adanya permasalah di Syekh Jarrah tentang perebutan hak kepemilikan rumah warga Palestina dengan pemukim Yahudi yang ingin merebutnya. (www.kompas.com, 10/2021).


Bentrokan ini pun meluas menjadi serangan militer. Puluhan roket militan Palestina diluncukan dari Gaza sebagai bentuk serangan balasan atas serangan udara Israel pada Senin pagi (10/5) pagi yang menewaskan 24 warga dan 120 orang luka-luka. (www.20detik.com, (11/5/2021).


Dunia memang tidak bisa berharap banyak dari PBB. PBB memiliki anggota tetap yaitu Amerika dengan Rusia, Inggris, Perancis dan Tiongkok, yang memiliki hak veto yang tidak terbantahkan. Setepat apapun resolusi yang diambil untuk mengembalikan hak-hak warga Palestina, akan mandul saat ada satu negara anggota tetap yang menggunakan hak vetonya.  


Amerika Serikat akan selalu membela Israel. Hal ini yang membuat PBB hanya bisa jalan di tempat dalam menyelesaikan permasalahan Palestina dan Israel. Bahkan narasi-narasi jahat akan terus didoktrinkan hingga semua orang menerima bahwa Israel adalah korban yang menuntut kembali hak miliknya. 


Berbagai forum dan pertemuan internasional untuk membicarakan masalah Palestina dan Israel seakan hanya untuk meredam kemarahan warga muslim dunia. Mereka tidak ingin ada pergerakan besar yang memicu kebangkitan umat. Kekuasaan barat tidak ingin Islam bangkit seperti dulu dan menghancurkan hegemoni. barat terhadap dunia.


Negara-negara muslim pun seperti tidak punya taring. Melihat saudara muslim teraniaya. Hanya bisa berdoa dan mengutuk tindakan keji Israel. Mengecam tanpa ada pergerakan. Seakan ada rantai-rantai dileher para pemimpin-pemimpin negara yang mayoritas penduduknya muslim, yang membuat mereka tak bisa berkutik. Terpasung dalam kekuatan kapitalisme Barat.


Berdasarkan Syariat, Tanah Palestina adalah tanah kharajiah. Tanah milik kaum muslim yang harus direbut kembali. Tidak boleh ada penyerahan tanah walau sejengkal pun kepada siapapun apalagi penjajah seperti Israel. 


Allah memerintahkan dalam firman-nya, 


Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian, menghinakan mereka serta akan menolong kalian atas mereka sekaligus melegakan hati kaum Mukmin (TQS at-Taubah [9]: 14).


Usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian (TQS al-Baqarah [2]: 191).


Mempertahankan tanah Palestina dengan jihad fisabilillah adalah suatu kewajiban. Hal ini tidak akan mustahil saat seluruh umat Islam bersatu dan berjuang bersama. Kekuatan besar dan dengan Rida Allah SWT akan membuat Palestina kembali dalam pangkuan Islam secara terhormat.


Hanya Khilafah yang mampu menyatukan kekuatan umat Islam. Sejarah telah membuktikan. Khilafah telah mampu melindungi Palestina dan Al-Aqsa. Menjaganya dalam kedamaian selama berabad-abad lamanya.

 
Top