Oleh Ummu Haura


Baru- baru ini publik dikejutkan dengan tewasnya anak pengemudi ojol akibat memakan sate yang mengandung racun. Pengemudi ojol dari Bantul ini awalnya menerima orderan ojek tanpa aplikasi dari seorang wanita untuk mengirimkan makanan ke alamat yang dituju.

Sesampainya di alamat yang dituju, pemilik rumah malah menolak makanan tersebut karena merasa tidak kenal dengan pengirim makanan. Akhirnya pengemudi ojol ini membawa makanan tersebut yang berupa sate dan lontongnya lalu diberikan kepada anak dan istrinya untuk dikonsumsi. Setelah mengkonsumi makanan tersebut, anak pengemudi ojol beserta istrinya muntah-muntah. Sayangnya, nyawa anak yang bernama Naba tidak selamat.

Dikutip dari Liputan 6.com (3/5/2021), pelaku yang mengirim sate beracun ini sudah ditangkap. Direskrimum Polda DIY Kombes Burkan Rudy Satria menyampaikan, pelaku berinisial NA (25) berhasil ditangkap usai temuan lokasi pembelian sate tersebut.

"Kita lakukan penyelidikan selama 4 hari, kemudian kita bisa mengerucut ke salah satu calon tersangka inisial A," tutur Burkan di Polres Bantul, Yogyakarta, Senin (3/5/2021).

Burkan mengatakan, pelaku nekat melakukan hal tersebut lantaran sakit hati dengan si penerima yang malah menikah dengan perempuan lain. Hanya saja, kiriman sate itu ditolak dan akhirnya dimakan oleh keluarga sopir ojol. Sate beracun yang mengandung Kalium Sianida beserta beberapa barang bukti sudah diamankan pihak kepolisian.

"Saat ini tersangka kita tahan di Polres Bantul," kata Burkan. Akibat perbuatannya, NA dijerat dengan Pasal 340 KUHP SubPasal 80 ayat (3) Jo Pasal 76 C Undang- Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan UU Nomor 23 tentang Perlindungan Anak, dengan hukuman mati atau paling lama 20 tahun penjara.

Akankah setelah kasus sate beracun dengan ancaman hukuman mati bagi si pelaku akan membuat tindakan serupa di masa mendatang tidak akan terulang? Seperti diketahui bersama, tahun 2016 ramai berita tewasnya Mirna setelah meminum kopi yang ternyata mengandung racun sianida. Jessica Wongso, teman korban ditangkap sebagai pelakunya.

Sakit hati ditinggal menikah melatari pelaku NA membubuhkan racun pada makanan yang berujung tewasnya seseorang walau yang menjadi korban bukan orang yang dituju pelaku NA. Gelap mata membuat pelaku tidak mampu berpikir sehat bahwa perbuatannya tersebut adalah sebuah tindak kejahatan besar karena direncanakan dan berpotensi membuat pelaku dijatuhi hukuman mati.

Bagaimana Islam memandang kasus pembunuhan? Pembunuhan bukanlah perkara biasa dalam sudut pandang Islam. Hukum Syara’ menggolongkan pembunuhan sebagai dosa besar kedua setelah syirik. Membunuh seorang manusia tanpa hak sama dengan membunuh seluruh manusia. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an Surat al-Maidah ayat 32:

"Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya."

Bahkan di Surat an-Nisa ayat 93, Allah Swt. mengancam siapa saja yang membunuh orang beriman dengan sengaja, maka balasan baginya adalah neraka jahanam. 

"Dan barang siapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya."

Bahkan dalam salah satu hadis dari Al-Barra' bin Azib, Rasulullah saw. bersabda: "Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak." (HR. An-Nasai, At-Turmudzi).

Dalam Islam, pembunuhan hanya diperbolehkan dalam kondisi tertentu seperti peperangan yang terjadi dalam rangka mempertahankan agama, negara, dan harga diri. Bukan karena sakit hati gagal menikah lalu melakukan perbuatan keji tersebut bahkan perbuatan keji tersebut dilakukan di bulan Ramadan. Naudzubillah mindzalik.

 
Top