Oleh Annisa Siti Rohimah


Wabah Covid-19 yang masuk ke Indonesia sekitar tahun 2020 lalu, hingga saat ini wabah tersebut belum kunjung usai. Pada kurva per bulan Mei, angka kasus baru dan meninggal di Indonesia mengalami penurunan setelah sebelumnya mengalami lonjakan yang tajam pada bulan Februari. Meskipun demikian, dampak dari Covid-19 masih terus dirasakan oleh masyarakat di berbagai aspek kehidupan. Mulai dari dunia pendidikan, sektor ekonomi, dan lain sebagainya. 


Kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah mulai dari PSBB yang diperketat dan diperlonggar hingga kebijakan PSBM, nyatanya belum mampu untuk menghentikan pandemi ini. Pemerintah sebagai ujung tombak kebijakan negara harus mengkaji sedalam-dalamnya persoalan ini hingga terwujud kebijakan yang mandiri berbasis kepentingan rakyat.


Sayangnya, selama ini pemerintah lebih mengikuti rekomendasi global, yang notabene mereka adalah para kampiun kapitalis yang tentunya dalam membuat solusipun menggunakan paradigma kapitalis.Sebagaimana yang dipahami kapitalis akan membuat solusi yang tidak mengabaikan keuntungan ekonomi meskipun harus mengorbankan nyawa manusia.


 Di satu sisi pemerintah melarang atau menutup tempat-tempat ibadah, pengajian-pengajian, hingga sekolah namun membiarkan mall-mall terbuka, bandara tetap beroperasi yang membuat turis-turis asing masuk, pariwisata dibuka lebar. Padahal tempat-tempat tersebut sama-sama akan menimbulkan kerumunan yang kemudian menjadi sarana virus tersebar.


Pemerintah dengan nyata menunjukkan lebih keberpihakannya pada kepentingan para kapitalis dibanding bersungguh-sungguh menyelamatkan nyawa masyarakat. Kegagalan dalam menangani pandemi sesungguhnya tidak hanya lahir karena kebijakan secara teknis dijalankan melainkan juga ideologi kapitalisme sekuler yang tidak manusiawi.


Dunia khususnya Indonesia saat ini membutuhkan solusi cemerlang bukan solusi tambal sulam untuk mengatasi wabah ini. kebijakan tersebut sudah Islam tetapkan sejak ratusan tahun lalu. Di mana pada saat yang sama peradaban Islam pernah mengalami pandemi di masa Umar bin Khattab.


Dengan konsep lockdown sebagaimana yang rasulullah perintahkan, dan juga memisahkan antara yang sakit dan sehat mampu untuk menekan persebaran virus. Mereka yang berada di wilayah tersebut dilarang untuk keluar dari wilayahnya dan orang di luar wilayah tersebut juga dilarang masuk.


Bagi wilayah terpapar virus akan mendapat penanganan khusus. Sementara wilayah yang aman dari virus bisa menjalankan aktivitas sebagaimana biasanya. Serta didukung dengan sistem kesehatan Islam yang memberikan pelayanan kesehatan secara gratis akan memudahkan masyarakat dalam pengobatan.


Sayangnya, kebijakan dan solusi cemerlang tersebut mustahil jika diterapkan dalam sistem kapitalis sekuler saat ini. Kebijakan tersebut baru bisa diterapkan dalam daulah khilafah.

Wallahu a'lam

 
Top