Oleh Nur Ilmi Hidayah

Pemerhati Masalah Remaja, Praktisi Pendidikan


Pendidikan, tema yang sudah menjadi khas dengan tingkat kemahalannya. Sudah bukan rahasia umum di negeri ini, bahwasanya menjangkau pendidikan tinggi adalah hak milik kaum berpunya. Sebab, bagaimana tidak, menjangkau pendidikan tinggi bagi rakyat menengah ke bawah ibarat mimpi di siang bolong. Masyarakat kelas sosial ini mestilah terlebih dahulu merogok kantong yang tidak sedikit jumlahnya. Dari pada menyekolahkan anak-anaknya di tengah kondisi ekonomi yang kian menghimpit, masyarakat golongan sosial ini lebih memilih mendahului takdir dengan memupus harapan untuk tidak menyekolahkan anak-anaknya.


Terlebih saat momentum sakral memasuki tahun ajaran baru. Sebagian ada yang menghela nafas dalam-dalam sembari memasuki lahan basah pendidikan, ada juga sebagian yang hanya menyaksikan sambil memupus harapannya dalam-dalam. Beginilah kisah getir pendidikan di negeri ini. Kisah yang hanya akan berakhir bahagia, dengan syarat memiliki uang yang melimpah.


Kapitalisme pendidikan dapat terjadi apabila prinsip kapitalisme digunakan dalam sektor pendidikan. Menurut Francis Wahono (dalam Komara, 2012), kapitalisme pendidikan merupakan arah pendidikan yang dibuat sedemikian rupa sehingga pendidikan menjadi pabrik tenaga kerja yang cocok untuk tujuan kapitalis tersebut.


Kapitalisme telah mewabah ke berbagai lini. Segala hal yang berguna dan dapat menghasilkan nilai tukar demi meraup keuntungan pasti dengan segera dimasuki. Sudah menjadi dalil pokok, bahwa kerja kapitalisme yakni untuk mengakumulasi profit, kapanpun, dan di mana pun ia berada. Ini adalah roh utama yang menjadi penggerak sistem tersebut. Roh brutal inilah yang kini menghantui masyarakat miskin memupus mimpi dan harapannya guna mencerdaskan anak-anaknya. Pendidikan di bawah cengkeraman kapitalisme tak hanya dimanfaatkan sebagai lahan basah akumulasi, namun juga telah diselaraskan guna mereproduksi ulang barisan kelas pekerja serta hubungan-hubungan sosial eksploitatif di dalamnya.


kondisi pendidikan bangsa ini telah memasuki zona merah yang sangat akut di bawah cengkeraman kapitalisme. Dengan berkuasanya sistem ini, pendidikan sangat menguntungkan bagi perkembangannya dalam berbagai lini.


Pertama, dengan terbukanya pintu gerbang dunia pendidikan atas investasi yang (sangat) bisa dimasuki modal swasta, dunia pendidikan akan menjadi ladang investasi yang sangat menguntungkan sebagai tempat tumbuh suburnya kapital. Dengan masuknya swasta, pengontrolan biaya masuk pendidikan bisa dengan mudah sesuai kehendak hatinya. Sebagaimana logika kapitalis yang tak ingin rugi, sudah semestinya ia menarik biaya yang jelas tidak sedikit jumlahnya bagi individu-individu yang ingin mencicipi manis asinnya kue pendidikan. Akibatnya, dengan biaya masuk yang mahal ini, banyak masyarakat (khususnya menengah ke bawah) yang jelas terlunta-lunta dan tak mampu mengakses fasilitas ini. Sebagai contoh, lihat saja biaya kuliah beberapa universitas ternama di negeri ini.


Kedua, akibat dari pendidikan yang mahal dan jelas sulit terakses oleh kalangan menengah ke bawah, alhasil masyarakat golongan ini akan menjadi santapan empuk bagi kapitalis industri dalam memperpanjang Industrial Reserve Army  “pengangguran”- seperti yang dikatakan Marx. Tentara cadangan industri (baca: pengangguran) ini sangat dibutuhkan kapitalis untuk mendapatkan tenaga kerja murah, yang mana merupakan syarat mutlak baginya untuk mengeruk laba atau keuntungan. Bila melihat kembali asal muasal ekspansi Kapitalis Internasional atas negara Dunia Ketiga, tersedianya “tentara cadangan industri” memang menjadi salah satu tujuannya melebarkan sayap (selain bahan mentah dan pasar). Sebab, barisan tentara cadangan ini akan meminimalisir biaya produksi yang dikeluarkan, dengan upah yang sangat minim. Selain itu, dengan melimpahnya tenaga-tenaga ini, daya tawar masyarakat miskin pun semakin terbatas dan mau tak mau mesti pasrah menerima apa pun yang disuguhkan kapitalis industri dengan tunduk dan patuh. Adapun sebagian yang memang telah mendapatkan pekerjaan, mesti rela dihargai murah atas tenaganya.


Kapitalisme dan materialisme adalah anak kandung dari modernisasi, sehingga ketika modernisasi menjamah seluruh lapisan masyarakat. Maka mau tidak mau, kapitalisme dan materialisme juga ikut mempengaruhi pola pikir masyarakat. Akibat perubahan pola pikir ini terjadi perubahan yang sangat radikal atas cara pandang masyarakat terhadap pendidikan saat ini. Cita-cita luhur pendidikan yang begitu luhur saat ini telah terabaikan oleh masyarakat. Keinginan untuk melahirkan pribadi-pribadi yang memiliki kecerdasan emosional/spiritual, kecerdasan intelektual serta memiliki keterampilan tereduksi sedemikian rendahnya. Pendidikan pada akhirnya dilihat oleh masyarakat dari cara pandang materialisme dan kapitalisme.


Sekolah-sekolah terkooptasi oleh mekanisme industri dan bisnis, dimana sekolah menjadi instrumen produksi ekonomi. Mau tidak mau, kurikulum pendidikan juga ikut terpengaruh, misalnya dalam hal menentukan ilmu pengetahuan mana saja yang perlu dipelajari oleh peserta didik, yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia industri. Maka terciptalah kurikulum yang sepenuhnya berwatak kapitalistik. Indikator yang dapat kita lihat adalah sedikitnya jam pelajar untuk ilmu-ilmu humaniora dan moral dibandingkan dengan pelajaran lainnya.


Terlepas perdebatan atas pendidikan berbasis dunia kerja. Kita tidak boleh melupakan kondisi-kondisi lain dari pendidikan kita.


1. Anggaran pendidikan yang belum memenuhi kewajiban konstitusinya. Bangsa ini ternyata belum memiliki kesadaran atas pentingnya pendidikan, sehingga lebih mengutamakan kepentingan-kepentingan yang lain dibandingkan dunia pendidikan.


2. Kesejahteraan Guru (Pendidik) yang masih jauh dari harapan. Dimana penghasilan setiap pendidik masih jauh dari pemenuhan kebutuhan kehidupannya. Akibatnya, konsentrasi dan kesiapan dalam proses belajar mengajar terganggu dan tidak matang. Guru memang bukanlah profesi yang menjanjikan secara materi kecuali sekadar gelar ”pahlawan tanpa tanda jasa”. Tingkat kesejahteraan yang rendah inilah memaksa para guru untuk mencari penghasilan di luar penghasilan sebagai guru untuk menutupi kekurangan kebutuhannya, yang akhirnya akan menggangu proses belajar-mengajar di sekolah.


3. Fasilitas pendidikan sangat minim dan sangat diskriminatif, dimana terdapat perbedaan yang sangat mencolok kepemilikan fasilitas pendidikan di beberapa sekolah, akibatnya output yang dihasilkan pun sangat terpengaruh. Sehingga kita masih banyak temukan gedung-gedung sekolah yang hampir ambruk, gedung sekolah yang masih berdinding papan atau berlantai tanah, sekolah yang tidak memiliki perpustakaan (kalau pun ada, isinya adalah buku-buku lama).


Sistem Pendidikan di dalam Islam


Berkaitan dengan pendidikan, di dalam Islam menuntut ilmu adalah wajib dan tidak boleh diabaikan. Rasulullah saw. Bersabda yang artinya, "Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim." (HR. Ibnu Adi dan Baihaqi). Karenanya pendidikan adalah hal yang azasi bagi setiap insan. Kebutuhan terhadap pendidikan sama pentingnya dengan kebutuhan terhadap sandang, pangan papan dan kesehatan. Terkait hal tersebut, Islam menjadikan pendidikan sebagai hak bagi setiap warga negaranya, sehingga negara berkewajiban menyelenggarakan pendidikan yang murah bahkan gratis bagi warga negaranya.


Negara wajib menyediakan pendidikan secara cuma-cuma bagi setiap warga negaranya, baik yang fakir maupun yang kaya. Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan secara gratis di semua tingkat pendidikan. Segala biaya tidak boleh dikenakan, bukan hanya iuran, tetapi juga termasuk pembelian buku, peralatan, dan lain-lain. Semua bayaran pendidikan termasuk gaji pendidik (guru-guru), tenaga non-akademik, infrastruktur sekolah, sarana belajar dan mengajar, fasilitas lain yang dibutuhkan (seperti asrama pelajar, klinik kesehatan, dan lain-lain) semua wajib disediakan oleh negara secara gratis. Rakyat dibolehkan menyumbang untuk menyediakan kemudahan-kemudahan tersebut sebagai bentuk amal jariyah, tetapi bukan sebagai bentuk tanggung jawab. Pemimpinlah yang akan bertanggung jawab di hadapan Allah Swt. Terhadap terpenuhinya segala kemudahan-kemudahan tersebut, sesuai dengan sifatnya sebagai pemelihara umat, sehingga berkewajiban menyediakan pendidikan gratis sekaligus berkewajiban bertindak sebagai penyelenggara sistem pendidikan yang berkualitas, dengan azas pendidikan dan tujuan pendidikan sebagaimana yang telah digariskan oleh Islam.


Di dalam Islam, sistem pendidikan yang gratis justru melahirkan mutu kualitas produk pendidikan yang handal. Didorong dengan semangat bahwa menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban yang mendatangkan pahala, memunculkan motivasi yang besar dalam belajar. Selain itu  adanya jaminan biaya pendidikan yang gratis, kesejahteraan guru juga mendorong terlaksananya pendidikan yang berkualitas.


Islam memiliki sistem yang khas tentang peraturan pendidikan. Pendidikan Islam adalah upaya mengubah manusia dengan pengetahuan tentang sikap dan perilaku yang sesuai dengan kerangka nilai ideologi Islam. Dengan demikian, jelas bahwa yang menjadi azas dalam pendidikan Islam adalah apa yang menjadi azas dalam Ideologi Islam, yaitu akidah Islam.


Secara pasti tujuan pendidikan Islam adalah untuk membentuk SDM yang:


1. Memiliki kepribadian Islam

2. Menguasai pemikiran Islam yang handal

3. Menguasai ilmu-ilmu terapan (pengetahuan, ilmu, teknologi)

4. Memiliki keterampilan yang tepat guna dan biaya guna


Metode pengajarannya tidak hanya sebatas transfer pemikiran semata, namun seorang pendidik harus mampu mendekatkan apa yang terkandung dalam pemikiran tersebut dengan makna yang dipahami oleh anak didik. Pendidik berusaha menghubungkan antara pemikiran tersebut dengan fakta yang dicerapnya, atau dengan fakta yang akrab dan dirasakan oleh peserta didik sehingga mereka benar-benar memahaminya sebagai sebuah pemikiran, bahkan sekadar informasi.


Dalam pengelolaan kurikulum, pemerintah atau negara mengelola kurikulum yang disusun dengan mengacu pada tujuan pendidikan. Waktu pelajaran untuk memahami tsaqofah Islam dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mendapat porsi yang besar. Pada tingkat TK-SD materi kepribadian Islam yang diberikan adalah materi dasar, yaitu bersifat pada pengenalan keimanan. Jenjang ini disebut jenjang pertama (Ibtidaiyah). Di jenjang ibtidaiyah , materi pokok diberikan oleh 2 pengajar. Pengajar pertama mengajarkan tsaqofah Islam dan bahasa Arab, sementara pengajar kedua mengajarkan ilmu pengetahuan dan matematika. Materi keterampilan termasuk kerajinan diberikan juga pada anak didik di jenjang ibtidaiyah ini.


Pada tingkat selanjutnya, materi yang diberikan adalah bersifat pembentukan, peningkatan, dan pematangan. Hal ini ditujukan untuk memelihara sekaligus mengingkatkan keimanan serta keterikatan kepada syariat Islam. Ilmu-ilmu terapan diajarkan sesuai tingkat kebutuhan dan tidak terikat dengan jenjang pendidikan tertentu (formal). Pada tingkat perjuangan tinggi barulah peserta didik diberikan materi mengenai kebudayaan asing secara utuh. Hal ini bertujuan untuk membongkar kesalahan-kesalahannya bukan untuk diamalkan.


Dari penjabaran sistem pendidikan Islam tersebut jelaslah bahwa penyelanggaraan dan pengelola pendidikan adalah negara, dalam hal ini Daulah Khilafah Islam. Negaralah yang mengelola pembiayaan pendidikan juga mengatur penyelenggaraan pendidikan berjalan sesuai dengan azasnya, yaitu akidah Islam. Negara pun memiliki otoritas penuh dalam menjaga warna negaranya dari ide-ide serta pemikiran-pemikiran sesat yang akan melusut kehancuran umat secara perlahan.


Adapun mengenai realitasnya dapat kita saksikan ketika Islam diterapkan secara kafah beberapa abad silam. Di masa kejayaan Islam, sejak abad ke-4 H, telah dibangun banyak sekolah Islam. Sebelum bentuknya sekolah di dalam bentuk formal, pendidikan ketika itu biasanya dilakukan di masjid-masjid, majelis-majelis taklim dan beberapa tempat pendidikan yang tidak formal lainnya. Muhammad Athiyah Al-Abrasi, di dalam buku Dasar-Dasar Pendidikan Islam memaparkan usaha-usaha para khalifah untuk membangun sekolah-sekolah tersebut. Dalam perkembangannya, setiap khalifah berlomba-lomba membina sekolah tinggi Islam dan berusaha melengkapinya dengan berbagai kemudahan yang diperlukan. Setiap sekolah tinggi dilengkapi dengan auditorium, asrama mahasiswa, perumahan bagi pengajar dan ulama. Selain itu, sekolah tinggi tersebut juga dilengkapi dengan bilik mandi, dapur dan tempat makan, malah terdapat juga taman rekreasi.


Di antara sekolah sekolah tinggi yang penting dan terkenal ialah Madrasah Nizhamiyah dan Madrasah Al-Mutsanshiriyah di Baghdad, Madrasah al-Nuriyah di Damsyik serta Madrasah an-Nasyiyah di Kaherah. Di antara madrasah-madrasah ini, yang terbaik adalah Madrasah Nizhamiyah yang dijadikan asas ukuran bagi madrasah di daerah lain di Iraq, Khurusan (Iran) dan tempat-tempat lain. Madrasah Al-Mutsanshiriyah di Baghdad didirikan oleh Khalifah Al-Mustanshir pada abad ke-6 H. Madrasah ini memiliki sebuah auditorium dan perpustakaan yang dipenuhi berbagai jenis kitab yang cukup untuk keperluan proses pembelajaran. Selain itu, madrasah ini juga dilengkapi dengan kamar mandi dan klinik yang dokternya senantiasa tersedia. Madrasah lain yang juga cukup terkenal adalah Madrasah Darul Hikmah di Kaherah yang didirikan oleh Khalifah Al-Hakim bi amrilah pada tahun 395H. Madrasah ini adalah sebuah institut pendidikan yang dilengkapi dengan perpustakaan yang dipenuhi dengan ruang observasi dan berbagai kemudahan pendidikan lainnya. Perpustakaannya bukan untuk umum. Semua orang juga diperkenankan mendengar kuliah, ceramah ilmiah, simposium, aktivitas kesusastraan dan pengajaran agama.


Di Madrasah Al-Mutsanshiriyah yang didirikan oleh Khalifah Al-Mustanshir di kota Baghdad, setiap mahasiswa menerima beasiswa berupa uang emas dari negara. Kehidupan seharian mereka juga ditanggung. Makanan berupa roti dan daging disediakan tanpa bayaran sedikitpun. Kemudahan madrasah tersedia lengkap seperti perpustakaan yang dilengkapi dengan buku-buku, klinik dan kamar mandi. Begitu juga dengan Madrasah An-Nuriah di Damsyik yang didirikan pada abad ke-6 H oleh Nuruddin Muhammad Zengi. Di Sekolah ini terdapat kemudahan seperti asrama, perumahan staf pengajar, tempat istirahat serta balai pertemuan yang luas.


Sumber pembiayaan pendidikan dikeluarkan dari kas negara atau baitul mal. Adapun yang berkenaan dengan pendanaan pendidikan, baitul mal mengambilnya dari hasil pengelolaan kepemilikan umum. Barang-barang yang menjadi kepemilikan umum tergolong menjadi 3 macam, yaitu fasilitas umum, barang tambang yang tidak terbatas, dan benda-benda yang sifat pembentukannya menghalangi untuk dimiliki individu, seperti jalan, sungai, danau, dan sebagainya.


Negara kemudian mengelolanya dan mengatur produksi guna memperoleh pendapatan dari penjualan hasil produksinya, serta mendistribusikan aset-aset tersebut untuk rakyat. Pendidikan adalah salah satu pos yang dibiayai dari pengelolaan sumber daya alam ini oleh negara.


Sistem Pendidikan Islam adalah keseluruhan dari bagian-bagian yang saling bekerja sama atau unsur-unsur yang disusun secara teratur dan saling berkaitan, dalam rangka membentuk manusia yang berkepribadian muslim berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam yang berdasarkan kepada Al-Qur'an dan Sunnah.


Wallaahu a’lam bishshawab.[]

 
Top