Amanah dan Ambisi dalam Kekuasaan

 


Oleh Purnama Sari

Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah


Akibat dari meninggalkannya aturan Islam, yaitu di sistem sekuler yang diberlakukan di negeri ini kekuasaan begitu banyak menimbulkan fitnah. Banyak orang yang bersaing untuk meraih kekuasaan, bahkan sekuat tenaga berusaha mempertahankan jabatannya. Apapun caranya itu dilakukan, tidak memikirkan halal atau haram. Setelah mendapatkan jabatan justru malah dijadikan asas manfaat untuk kepentingan pribadi. Tapi untuk kepentingan rakyat, mereka sangat kurang memperhatikan.


Memang wajar ambisi itu muncul, karena ambisi kekuasaan merupakan bagian dari keinginan hawa nafsu. Namun bukan berarti harus dituruti. Hawa nafsu itu sering memerintahkan pada keburukan, seperti firman Allah Swt dalam Al-Qur'an surat Yusuf ayat 53. Oleh karena itu Islam mengajarkan bahwa hawa nafsu harus ditata dan dikendalikan sesuai petunjuk Allah Swt.


Seperti halnya dalam Pilkada, puluhan ribu orang bersaing dan berlomba-lomba mewujudkan ambisi atas kekuasaan, berbagai cara dilakukan untuk meraih kekuasaan itu. Tampak pula dalam kontestasi Pilpres. Memang, dalam Pilpres hanya beberapa pasangan yang bersaing. Namun tampak bahwa jutaan orang melibatkan diri dalam proses mendukung dan memilih pasangan tertentu. Sebagiannya tak sedikit petahana mempunyai ambisi mempertahankan jabatan dan kekuasaannya. Ambisi akan kekuasaan nyata terasa ketika muncul ide terkait masa jabatan presiden tiga periode.


Ambisi kekuasaan di tengah manusia sungguh telah disinyalir oleh Rasulullah jauh sebelum hari ini. Karena akan ada akibat buruk yang menimpa umat jika terjebak pada hal tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:


"Sungguh kalian akan berambisi terhadap kepemimpinan (kekuasaan), sementara kepemimpinan (kekuasaan) itu akan menjadi penyesalan dan kerugian pada Hari Kiamat kelak. Alangkah baiknya permulaannya dan alangkah buruknya kesudahannya." (HR al-Bukhari, an-Nasa’i dan Ahmad)


Di dalam kitab Sulub as-Salam, ash-Shan'ani menjelaskan tentang larangan Nabi saw. atas seseorang untuk meminta al-imarah (kekuasaan/kepemimpinan). Sungguh kekuasaan dapat memberi kekuatan bagi seseorang yang sebelumnya lemah dan kepada siapapun yang sebelumnya tiada mempunyai kekuatan sehingga dimilikilah kekuatan. Semua itu bisa diambil oleh jiwa yang kasar dan cenderung pada keburukan. Kemudian kekuasan tersebut dapat dijadikan sarana balas dendam pada mereka yang diposisikan sebagai musuh. Yang terjadi justru kekuasaan digunakan sekadar untuk mengakomodir kepentingan teman dan pendukung, atau dalam meraih tujuan-tujuan yang rusak. Maka adalah lebih utama jika kekuasaan itu tak diminta.


Dengan demikian Rasul saw. mencontohkan agar tidak memberikan kekuasaan atau jabatan kepada orang yang meminta kekuasaan atau jabatan tersebut. Sebagaimana yang disabdakan Rasul saw.:


"Kami, demi Allah, tidak akan mengangkat atas tugas ini seorang pun yang memintanya dan yang berambisi terhadapnya." (HR Muslim, Ibnu Hibban, Ibn al-Jarud dan Abu ‘Awanah).


Kekuasaan dan jabatan itu jelas merupakan amanah, seperti  yang sudah dijelaskan dalam hadis-hadis di atas, Amanah kekuasaan atau jabatan itu benar-benar akan menjadi penyesalan dan kerugian di akhirat kelak bagi pemangkunya, terkecuali jika dia berlaku adil, mendapatkan kekuasaan dengan benar serta menunaikan kekuasaannya dengan amanah.


Menjadi pemimpin itu harus berlaku adil. Allah Swt. dan umat mencintainya disebabkan syariat-Nya dijalankan, juga amanahnya ditunaikan. Sebagaimana  firman Allah dalam Al-Qur'an surat an-Nisa ayat 58.


Berikut adalah dua sifat yang melekat pada pemimpin yang adil. 


Pertama, bahwa ia menegakkan aturan Allah Swt. dalam perkara ibadah, muamalah, hukum ekonomi Islam, aturan peradilan dan pidana, hukum-hukum politik luar negeri, dan sebagainya.


Kedua, bahwa amanah pengurusan rakyat ditunaikan, dengan memelihara seluruh urusan rakyat semisal menjamin kebutuhan sandang, pangan, papan; juga menjamin terpenuhinya kebutuhan akan pendidikan, kesehatan juga keamanan, dimana dipersembahkan gratis pada setiap rakyat; serta melindungi rakyat dari berbagai gangguan dan ancaman. Hal tersebut dilakukan dengan penuh kesungguhan, ibarat pelayan kepada tuannya.


Islam memandang bahwa kekuasaan itu dalam rangka melayani Islam, sebagaimana yang dikehendaki Rasul saw. kepada Allah Swt. dalam Al-Qur'an surat al-Isra ayat 80.


Dalam salah satu pernyataannya, Imam al-Ghazali menyebutkan “Agama adalah pondasi, sedangkan kekuasaan adalah penjaganya." Apa saja yang tidak memiliki pondasi akan hancur dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan lenyap. Oleh sebab itu kekuasaan harus dibangun di atas pondasi agama, yakni Islam, dan ditujukan untuk menjaga Islam dan syariahnya serta memelihara urusan umat.


Orientasi kekuasaan itu seharusnya dalam rangka melayani Islam dan kaum muslim. Sementara hal tersebut hanya dapat terlaksana apabila kekuasaan menegakkan aturan Allah dengan totalitas, memelihara urusan dan kemaslahatan umat, juga menjaga dan melindungi umat. Kekuasaan seperti inilah yang harus diwujudkan oleh kaum Muslim semuanya. Niscaya kebaikan dan keberkahan akan terwujud.


WalLâh a’lam bi ash-shawâb.