Oleh Maretika Handrayani, S.P

(Aktivis Dakwah Islam, Jambi)


Umat kembali disuguhi kasus-kasus penghinaan terhadap agama terutama pada ajaran Islam, Nabi Muhammad atau pada Al-Qur’an. Kali ini kasus penistaan agama berkedok nabi palsu viral di laman sosial media. 

Sungguh miris, negeri yang mayoritas penduduknya Islam namun kasus penodaan dan penistaan agama terus berulang. Seolah merasa di atas angin, para penista lancang menantang hukum dan bebas menyebarkan penodaan terhadap agama.

Penistaan agama yang semakin marak terjadi, menunjukkan bahwa bangsa ini sedang sakit. Negara telah gagal menjaga akidah umat. Kebebasan berpendapat dan kebebasan berekspresi dalam sistem demokrasi telah melahirkan orang-orang yang menyimpang dari kebenaran Islam dan berani melecehkan ajaran Islam sesuai hawa nafsu dan kepentingannya. Padahal al-Qur’an telah menegaskan bahwa tidak ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad saw.

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (TQS. al-Ahzab: 40)

Ayat ini tegas menyampaikan bahwa Nabi Muhammad adalah penutup para nabi dan tidak ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad saw. hingga hari kiamat. Maka adanya pengakuan adanya nabi lain setelah Nabi Muhammad adalah narasi sesat dan menyesatkan yang membahayakan akidah umat.

Islam sebagai sistem hidup yang sempurna telah memberikan seperangkat aturan yang komprehensif dalam mengatur kehidupan manusia. Dalam Islam, setiap ucapan dan perbuatan diatur dengan ketentuan syariat. 

Seseorang individu rakyat tidak boleh melontarkan perkataan atau perbuatan yang melecehkan dan menistakan agama. Setiap orang boleh memberikan pendapatnya, selama tidak bertentangan dengan akidah dan hukum-hukum Islam, bahkan berkewajiban mengoreksi penguasa ketika ia melihat ada kebijakan yang menyimpang dari syariat. 

Negara Islam (khilafah) adalah institusi penerap aturan Islam yang bertanggung jawab menjaga akidah umat. Negara tidak akan membiarkan opini atau pemikiran yang merusak akidah umat. 

“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR. al-Bukhari)

Kontras dengan hari ini dimana umat masih menghadapi badai penistaan agama, hal itu dikarenakan hilangnya penerapan Islam dalam institusi khilafah. Selain ide kebebasan demokrasi yang menjadi pilar masyarakat hari ini, hukum dan undang-undang yang adapun tidak membuat jera. 

Sudah seharusnya umat menyadari kerusakan demokrasi yang telah membawa kesengsaraan dan malapetaka bagi umat. 

Sudah saatnya menerapkan hukum Allah dan Rasul-Nya secara kafah agar kemuliaan hidup di dunia dan akhirat dapat kita raih. Allahu a’lam bishshawab.

 
Top