Oleh Dewi Asiya 

Pemerhati Masalah Sosial 


Astaghfirullah al 'adzim, di bulan Ramadan yang suci ini kembali penista agama melakukan aksinya. Kali ini dilakukan oleh Jozeph Paul Zhang seorang YouTubers, dalam kontennya  dia mengaku sebagai nabi ke-26 bahkan dia membuat sayembara, bagi siapapun yang melaporkan dirinya sebagai penista agama akan dia kasih uang 1juta. (inews, 17/4/2021)

Jozeph Paul Zhang adalah seorang Apologet Kristen yaitu orang yang ahli dalam ilmu sistematis yang mempertahankan dan menjelaskan iman dan kepercayaan Kristen. 

Di samping dia mengaku sebagai nabi yang ke-26, dia juga menghina nabi Muhammad saw. dan Allah Swt. (Fokussatu, 18/4/2021)

Sungguh keterlaluan apa yang dia lakukan, dia menghina Allah Swt. dan Nabi Muhammad saw., yang sejatinya dijunjung tinggi sebagai suatu keyakinan bagi umat Islam, dan diagungkan oleh manusia dan seluruh alam semesta. Karena Allah Swt. adalah dzat yang menciptakan manusia dan alam semesta serta kehidupan.

Penista agama seperti ini senantiasa tumbuh subur dari dulu hingga kini, karena yang melandasi kehidupan saat ini adalah akidah sekularisme memisahkan agama dari kehidupan. Akidah sekularisme melahirkan paham liberalisme (kebebasan) yang menghasilkan sikap mengagungkan kebebasan individu.

Kebebasan individu inilah yang melahirkan hak asasi manusia dan dilindungi oleh UU. Di antara hak asasi manusia yang dilindungi adalah kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan bertingkah laku, dan kebebasan berkepemilikan.

Dari sinilah individu bebas melakukan apa pun yang dia kehendaki. Dalam pembahasan ini adalah bebas berpendapat apa pun sesuai hawa nafsunya, tanpa batasan apa pun termasuk agama. Agama (dalam hal ini Islam tidak boleh ada peran apa pun) sehingga walaupun bertentangan dengan Islam tetap dilindungi selama mereka tidak menganggu satu sama lain. 

Namun anehnya jika umat Islam yang berpendapat, maka hak asasi manusia tidak berlaku, sehingga hal ini hanya berlaku pada mereka, namun tidak berlaku pada umat Islam.

Seharusnya jika mengagungkan kebebasan, ketika ada yang menistakan agama Islam, umat Islam pun bebas berpendapat untuk menolak keras adanya penistaan tersebut, yaitu memberikan pembelaan kepada agama Islam, karena kewajiban bagi setiap muslim di antaranya adalah memberikan pembelaan kepada agamanya, jika ada yang menistakan. Namun ini tidak terjadi, karena jika umat Islam menolak maka akan berbalik tuduhannya pada umat Islam. Demikianlah praktik sekularisme yang sedang diterapkan saat ini.

Karena berpendapat apa pun dianggap sebagai kebebasan individu yang dilindungi, maka sampai saat ini pelaku penista agama terus bermunculan dan dapat melenggang dengan kekuasaan, karena belum ada sanksi yang tegas yang menjadikan mereka jera.

Berbeda dengan sistem Islam, dalam Islam setiap penista agama harus diberikan sanksi yang tegas sebagaimana diriwayatkan, "Ada seorang sahabat Nabi Muhammad saw. yang buta memiliki budak wanita, yang setiap hari menghina Nabi Muhammad ﷺ. Suatu malam dia menghina Nabi ﷺ kembali, sehingga sahabat buta itu membunuhnya. Dan keesokan harinya, nabi mendengar kabar tersebut dan membenarkan sahabat buta itu." (HR. Abu Daud 4363, ad-Daruquthni 3242 dan disahihkan al-Albani) demikianlah ketegasan Islam dalam menangani penista agama Islam, Allah Swt. dan Nabi Muhammad saw.

Demikian juga yang dilakukan oleh Khilafah Utsmaniyah dalam menghentikan rencana pementasan drama karya Voltaire dari Inggris, yang isinya menistakan kemuliaan Nabi Muhammad saw.

Saat itu Khalifah Abdul Hamid II langsung mengultimatum Kerajaan Inggris yang bersikukuh akan mengadakan  pementasan drama itu. Khalifah menyampaikan, “Kalau begitu, saya akan mengeluarkan perintah kepada umat Islam dengan mengatakan bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasul kita! Saya akan mengobarkan jihad. Saat itu Kerajaan Inggris pun ketakutan, dan pementasan itu pun dibatalkan.

 
Top