Sekularisme-Liberalisme Suburkan Penistaan Agama


Oleh Hamsina Halisi Alfatih


Seorang Youtubers bernama Joseph Paul Zhang menistakan agama Islam dengan mengaku sebagai nabi ke-26 dan menghina Nabi Muhammad serta menghina Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang diunggah melalui akun Youtube miliknya. (Fokussatu.com, 18/04/21)

Penistaan tersebut disampaikan melalui akun Youtube miliknya yang diunggah dalam sebuah forum diskusi Zoom, yang berdurasi cukup panjang yaitu sekitar tiga jam dua puluh menit.

Kasus penistaan terhadap Islam memang bukan kali ini saja, bahkan hal ini sudah terjadi hingga kesekian kalinya. Tentu kita masih ingat atas kasus penodaan agama yang di lakukan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada 2017 lalu yang serampangan mengutip ayat di dalam Al-Qur'an.

Kasus yang sama saat ini pun pernah terjadi atas penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw. Terdakwa perkara penodaan agama di media sosial, Martinus Gulo (21), dituntut lima tahun penjara di Medan. Warga desa Fanedanu, Somambawa, Kabupaten Nias Selatan, ini dinilai bersalah melakukan penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw. melalui Facebook 2018 lalu.

Beragam kasus penghinaan terhadap Islam semakin hari semakin menjamur. Bak bola salju, penistaan terhadap Islam, baik kepada Allah, Rasul-Nya, kitab-Nya serta ajaran-Nya seolah para pelaku kebal terhadap hukuman hingga meninggalkan jejak munculnya para penista lainnya. 

Tak hanya di Indonesia sebagai penduduk muslim terbanyak di dunia, kasus-kasus penistaan dan penodaan terhadap Islam pun kerap terjadi di negeri-negeri yang bermayoritaskan muslim. Salah satunya penghinaan terhadap Rasulullah yang dilakukan oleh majalah Charlie Hebdo Perancis dengan menggambarkan sosok Nabi Muhammad saw. dalam sebuah karikatur.

Semakin banyaknya penistaan yang dialamatkan pada Islam, telah memberi gambaran bahwasanya tiadanya aturan yang tegas. Ditambah adanya hukum dalam demokrasi sekularisme liberal hanya menjadi gertak sambal sehingga tidak mampu menghentikan munculnya kasus penistaan serupa lainnya.

Hal yang sebaliknya pun justru selalu menyerang Islam dengan tuduhan terorisme, radikalisme dan intoleran. Islam selalu digambarkan sebagai agama 'radikal'. Bagaimana tidak segala sesuatu yang datang dari Islam seolah menjadi ancaman, padahal Islam selalu diserang dengan berbagai tuduhan dan penistaan.

Sudah menjadi gambaran dalam demokrasi sekularisme-liberal dengan jargon kebebasannya. Berasaskan memisahkan agama dari kehidupan yakni negara, agama ditiadakan dan hanya terfokus pada ibadah ritual semata. Walhasil penistaan demi penistaan yang dialamatkan pada Islam semakin tumbuh subur seakan negara tidak mampu mengentaskannya.

Apa yang terjadi pada Islam tak bisa terlepas dari campur tangan Barat. Stigma buruk mulai dari isu terorisme, intoleran dan radikalisme adalah cara Barat untuk menghancurkan Islam. Barat begitu yakin bahwasanya jika Islam dihancurkan akan semakin memberi kekuasaan kepada ideologi kapitalisme. Oleh karena itu, untuk menjaga stabilitas dan eksistensi kondisi ekonomi, politik, pemerintahan dan lainnya Barat begitu gencar menyusupkan ide-ide sekularisme liberal agar Islam begitu mudah dihancurkan dan kapitalisme tetap jaya di negeri-negeri kaum muslim.

Melihat kondisi ini dan semakin suburnya penistaan terhadap Islam serta turut campurnya Barat atas ide-ide rusaknya, umatnya seyogyanya harus sadar untuk bangkit dan menentang berbagai pemahaman serta tsaqofah asing yang menjadi rusaknya pemikiran umat.

Jika hal ini semakin melenakan umat, maka jangan heran jika penistaan semakin menjamur dalam demokrasi sekularisme-liberal. Sebab, sistem rusak ini merupakan ideologi anti Islam yang dimanfaatkan oleh Barat untuk menghancurkan Islam. Selain itu, ideologi ini merupakan pangkal dari segala bentuk kerusakan, penindasan serta kezaliman yang terjadi selama ini di berbagai negeri-negeri Islam.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. an-Nisa' 4: Ayat 59)

Dengan demikian, sudah saatnya kita menempatkan diri sebagai pejuang Islam yang siap menghancurkan ideologi kapitalisme yang menjadi pangkal segala problematika umat. Menempatkan diri sebagai pengemban ideologi Islam yang siap menebarkan tsaqofah Islam, kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah demi tegaknya syariah dan khalifah. Maka dengan begitu tidak akan ada lagi penistaan demi penistaan yang disematkan dalam tubuh Islam. Wallahu a'lam bishshawab.