Rusaknya Pendidikan di Era Kapitalisme


Oleh Nur Ilmi Hidayah

Pemerhati Masalah Remaja, Praktisi Pendidikan


Seiring dengan perkembangan zaman dari tahun ke tahun biaya pendidikan di Indonesia semakin mahal. Bagi kalangan masyarakat kelas atas, tingginya biaya pendidikan tidak menjadi suatu masalah baginya, karena menurut mereka pendidikan merupakan hal yang penting dan simbol yang memiliki makna tersendiri bagi mereka yang dapat menggambarkan dan mempertahankan status sosial ekonominya. Akan tetapi bagi masyarakat kelas bawah, mahalnya pendidikan tentu saja bukanlah suatu hal yang diinginkan oleh mereka.

Mahalnya biaya pendidikan tersebut mengakibatkan semakin jauhnya layanan pendidikan yang bermutu dari jangkauan masyarakat kelas bawah. Dampaknya akan menciptakan kelas-kelas sosial dan ketidakadilan sosial. Namun disadari atau tidak pendidikan di Indonesia telah terjebak dalam dunia kapitalisme.

Dalam sistem kapitalisme, penindasan tidak hanya terjadi melalui kekuasaan politik yang otoriter saja tetapi juga dapat terjadi dalam berbagai bidang. Dalam hal ini, juga tidak dapat dipungkiri bahwa sistem kapitalisme juga dapat terjadi dalam dunia pendidikan. Kapitalisme pendidikan dapat terjadi apabila prinsip kapitalisme digunakan dalam sektor pendidikan.

Kapitalisme pendidikan telah melahirkan mental yang jauh dari cita-cita pendidikan sebagai praktik pembebasan dan agenda pembudayaan. Dengan hal itu, sekolah saat ini tidak mengembangkan semangat belajar yang sebenarnya. Sekolah tidak menanamkan kecintaan pada ilmu atau mengajarkan keadilan, anti korupsi, atau anti penindasan. Sekolah lebih menekankan pengajaran menurut kurikulum yang telah dipaket demi memperoleh sertifikat selembar bukti untuk mendapatkan legitimasi bagi individu untuk memainkan perannya dalam pasar kerja yang tersedia. Ada beberapa dampak yang dapat ditimbulkan akibat terjadinya kapitalisme pendidikan ini antara lain sebagai berikut:

1. Peran negara dalam pendidikan semakin menghilang

Hilangnya peran negara dalam pendidikan akan berdampak semakin banyaknya kemiskinan yang ada di negara ini. Hal ini terjadi dikarenakan banyak anak yang gagal dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya.

2. Masyarakat semakin terkotak-kotak berdasarkan status sosial ekonomi

Hal ini terjadi karena pendidikan yang berkualitas hanya bisa dinikmati oleh sekelompok masyarakat dengan pendapatan menengah ke atas. Untuk masyarakat dengan pendapatan menengah ke bawah kurang bisa mengakses pendidikan tersebut.

3. Indonesia juga akan tetap berada dalam sistem kapitalisme global

Indonesia akan tetap berada dalam sistem kapitalisme global pada berbagai sektor kehidupan terutama dalam sistem perekonomiannya. Hal ini sudah terbukti bahwa kapitalisme tidak berlaku hanya pada sistem perekonomian namun dalam sistem pendidikan pun saat ini sudah terpengaruh oleh kapitalisme.

4. Dalam sistem kapitalisme, negara hanya sebagai regulator/fasilitator

Pada sistem kapitalisme ini, peran negara hanya sebagai regulator/fasilitator. Yang berperan aktif dalam sistem pendidikan adalah pihak swasta, sehingga muncul otonomi-otonomi kampus atau sekolah yang intinya semakin membuat negara tidak ikut campur tangan terhadap sekolah pendidikan. Hal tersebut berakibat bahwa sekolah harus kreatif dalam mencari dana bila ingin tetap bertahan. Mulai dari membuka bisnis hingga menaikkan biaya pendidikan sehingga pendidikan memang benar-benar dikomersilkan dan sulit dijangkau masyarakat yang kurang mampu.

5. Pendidikan hanya bisa diakses golongan menengah ke atas

Biaya pendidikan yang semakin mahal mengakibatkan pendidikan hanya diperuntukan bagi masyarakat yang mampu sedangkan bagi warga yang kurang mampu merasa kesulitan dalam memperoleh pendidikan.

6. Praktik KKN semakin merajalela

Biaya pendidikan  yang semakin mahal membuat para orang tua yang memiliki penghasilan tinggi akan memasukkan anaknya dengan memberikan sumbangan uang pendidikan dengan jumlah yang sangat besar meskipun kecerdasan dari peserta didik tersebut sangatlah kurang. Sehingga nantinya, uang akan dijadikan patokan lulus atau tidaknya calon siswa baru diterima di sebuah lembaga pendidikan.

7. Kapitalisme pendidikan bertentangan dengan tradisi manusia

Sistem kapitalisme ini bertentangan dalam hal visi pendidikan yang seharusnya strategi untuk eksistensi manusia juga untuk menciptakan keadilan sosial, wahana untuk memanusiakan manusia serta wahana untuk pembebasan manusia, diganti oleh suatu visi yang meletakkan pendidikan sebagai komoditi.

Semua dampak tersebut bermula karena adanya privatisasi yaitu penyerahan tanggung jawab pendidikan ke pihak swasta dan tentunya pemerintah sudah tidak ikut campur tangan dalam pengelolaan sistem pendidikan. Di sini pemerintah hanya sebagai regulator/fasilitator dan kebijakan sepenuhnya diserahkan kepada pihak swasta.

Kita butuh solusi yang sistemik, karena permasalahan negeri ini terjadi bukan hanya pada permasalahan oknum/individu tetapi juga karena permasalahan sistem. Negeri ini tidak hanya butuh banyak orang pintar, banyak sarjana, tapi juga butuh banyak orang pintar, sarjana yang jujur dan amanah. Keilmuannya menjadikan dia sebagai orang yang bermoral, dan memberikan kebaikan bagi orang lain. Namun, tentu saja kita tidak bisa berharap solusi dari sistem demokrasi kapitalisme sekuler. Karena telah nyata cacat dan gagalnya.

Satu-satunya harapan dan kunci dari segala persoalan ini adalah dengan mencampakkan sistem kapitalisme demokrasi dan menggantinya dengan sistem yang terbukti memberikan kebaikan. Itulah sistem Islam.

Islam memandang bahwa pendidikan, politik, ekonomi, dan kehidupan tidak bisa dipisahkan dari peran agama. Islam tidak mengakui sekularisme. Sebagai agama yang sempurna, baik dalam dunia pendidikan, politik dan ekonomi hingga budaya sekalipun, Islam mempunyai seperangkat aturan yang jelas untuk diterapkan dan terbukti mampu membawa peradaban unggul.

Islam memandang bahwa pendidikan, politik, ekonomi, dan kehidupan tidak bisa dipisahkan dari peran agama. Islam tidak mengakui sekularisme. Sebagai agama yang sempurna, baik dalam dunia pendidikan, politik dan ekonomi hingga budaya sekalipun, Islam mempunyai seperangkat aturan yang jelas untuk diterapkan dan terbukti mampu membawa peradaban unggul. Para ilmuwan di zaman Islam, mereka ahli agama juga sekaligus seorang saintis. Mereka mendapatkan gelas keilmuwan mereka bahkan hingga hari ini karya-karya merekalah yang terbaik. Kita mengenal Al Jazari, Al Khawarizmi, Abbas Ibnu Firnas, Ibnu An Nafis, Ibnu Sina, dan masih banyak lagi. Para politikus muslim di zamannya juga seorang ulama yang paham bagaimana mengurusi masyarakat dengan cara yang adil yang diatur oleh syariat.

Menjalankan seperangkat hukum Islam, kebijakan politik dalam dan luar negeri dalam rangka beribadah kepada Allah Swt. Bukan semata-mata atas dasar kekuasaan dan materi duniawi. Khalifah –penguasa dan pemimpin kaum muslim- diseleksi dan dipilih karena kapabilitasnya sebagai seorang yang mampu melaksanakan kewajibannya mengurusi urusan rakyat sesuai dengan syariat Islam. Proses memilih khalifah tidak membutuhkan biaya yang fantastis karena khalifah wajib dibaiat/diangkat dalam waktu 3 hari, tidak boleh lebih dari jangka waktu tersebut. Tidak ada kampanye, promosi, dan pencitraan yang tidak berguna. Sehingga kongkalikong antara penguasa dengan pengusaha yang mengarah pada tindakan korupsi, gratifikasi dan sebagainya akan sangat kecil kemungkinan terjadi.

Islam mampu mencegah para penguasa atau pemegang jabatan untuk melakukan tindak pidana korupsi. Setiap harta penguasa akan dicatat sebelum dan setelah menjabat. Jika ditemukan ada kelebihan yang tidak wajar. Maka negara akan menarik harta yang berlebih ke dalam baitul mal –kas negara Islam- dan khalifah akan memberikan sanksi sesuai dengan tingkat kerusakan yang ditimbulkan. Hukumannya mulai dari kurungan penjara, diasingkan, dicambuk hingga hukuman mati. Sistem hukum Islam pun tidak membolehkan adanya pengurangan hukuman. Sehingga efek jera dari hukuman bisa dirasakan oleh pelaku tindak pidana korupsi. Siapa pun, kapan pun, dan di mana pun.

Inilah sistem yang berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah, dari Sang Mahabenar, Allah Swt. Sistem yang mampu mencetak generasi, individu-individu cerdas, pakar dalam bidangnya namun juga tidak kalah urusan agama, moral dan akhlaknya. Sistem inilah yang akan menjamin kehidupan yang berkah dan sejahtera dalam segala segi. Masihkan kita percaya sistem selain Islam? padahal telah nyata bahwa selain Islam justru akan membawa bencana?

Wallaahu a’lam bishshawab.[]