Oleh Ummu Yusuf


Umat Islam menyambut Ramadan dengan penuh semangat dan gembira, bulan yang penuh berkah dan kemuliaan. Syahrul Qur’an, bulan diturunkannya Al-Qur’an. Syahrut taqwa, bulan ketundukan kepada Allah Swt. Syahrul jud, bulan penuh dengan kasih sayang, saling menolong, memperbanyak sedekah. Syahrush shabr, bulan kesabaran. Syahrul jihad, bulan perjuangan dan kemenangan kaum muslim. 

Namun mengawali Ramadan tahun ini, banyak ujian menimpa umat Islam di seluruh dunia. Mulai dari rasisme anti Islam hingga teror bom yang membidik aktivis dan organisasi Islam. Di tengah berbagai ujian, musibah, penindasan yang menimpa umat Islam, sesungguhnya selalu ada harapan besar untuk Islam. Semua itu berasal dari iman. Harapan yang dilandasi cahaya iman akan menjadi perisai dari berbagai makar dan strategi rezim kufar sekuler menghentikan laju kebangkitan Islam. Apalagi dalam sejarahnya, umat Islam memiliki watak pemenang karena gelarnya dari Sang Khaliq sebagai umat terbaik. 

Sejak lahirnya risalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw., umat Islam sudah terbiasa menjadi petarung, dan berakhir sebagai pemenang. Sebab, Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.

Salah satu keutaman bulan Ramadan adalah bahwa puasa meupakan perisai (junnah) bagi seorang muslim. Dalam hadis-hadis Rasulullah, kata “junnah” atau perisai digunakan pada dua hal: puasa dan pemimpin. Puasa sebagai perisai (جُنَّةٌ)  adalah puasa yang akan melindungi pelakunya di dunia dan juga di akhirat, di dunia terlindung dari nafsu syahwat yang merusak, sementara di akhirat terlindungi dari siksa neraka. Dalam skala komunal, ibadah puasa juga seharusnya membentengi umat dari hawa nafsu perpecahan, dan menghindarkan umat dari ego kelompok semata, karena Ramadan adalah momentum persatuan umat.

Setiap tahunnya, Ramadan selalu menjadi inkubator persatuan umat dan kebangkitan Islam. Sudah seharusnya umat Islam di seluruh dunia memaknai setiap puasa pada bulan Ramadan sebagai sarana tarbiah persatuan umat. Di samping itu, sebagai sarana untuk mempertajam kepekaan dengan permasalahan umat yang terjadi di dunia ini. 

Keberadaan puasa sebagai perisai juga sejalan dengan hikmah disyariatkannya puasa, yakni agar terbentuk ketakwaan kepada Allah Swt. Sebab, puasa sebagai junnah menjadi perisai bagi individu agar terhindar dari kedurhakaan yang bisa mencederai takwanya kepada Allah Swt. Hanya saja tidak cukup dengan ketakwaan individu yang terbentuk dan meningkat. Namun, yang dibutuhkan dan diwajibkan juga adalah adanya ketakwaan kolektif, yaitu ketakwaan keluarga, masyarakat, dan negara.

Ramadan juga seharusnya menyadarkan kita akan pentingnya perisai kedua, perisai yang berasal dari kepemimpinan umat, yakni khilafah. Dahulu Nabi Muhammad saw. dan para sahabat mempersiapkan kedatangan bulan Ramadan sejak bulan rajab, baik persiapan fisik dengan memelihara kesehatan maupun rohani yaitu dengan meningkatkan ibadah-ibadah sunah sebelum masuk Ramadan. Kisah Nabi saw. dan para sahabat itu hanya terjadi dalam suasana keimanan. Para pemimpin dan tokoh umat itu menyadari bahwa hidup mereka hanya diabdikan bagi Allah Swt. Tidak untuk kekuasaan dan jabatan. 

Seharusnya kondisi yang sama bisa diwujudkan pada masa kini. Bukankah para penguasa negeri ini adalah muslim? Mereka akan mati dan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya di hadapan Allah Swt. Seharusnya negara menguatkan akidah umat, terlebih lagi menjelang Ramadan. Bagaimana pun umat harus berakidah yang lurus, tidak bengkok dan terhindar dari pandangan-pandangan kekufuran. 

Negara harus menyiapkan rakyat agar bisa menunaikan Ramadan dengan sukses sehingga terwujud masyarakat yang bertakwa. Hanya dengan masyarakat yang bertakwa maka keberkahan akan didapatkan. Namun, semua itu tidak akan terjadi jika negara dengan para pemimpinnya tidak memberikan teladan bagaimana mewujudkan ketakwaan itu. Bukan sekadar secara individual, tapi terimplementasikan dalam kebijakan negara. 

Pemimpin yang bervisi jauh ke depan, menggapai rida Allah Swt., akan sangat senang dengan Ramadan. Sebab, ini adalah jalan mewujudkan kebaikan secara massal. Sebagai kawah candradimuka untuk menempa umat Islam agar taat kepada syariat Islam, kokoh dalam akidah, dan semangat dalam menjaga Islam. 

Sungguh, tidak ada momentum seluar biasa ini. Hanya para pemimpin muslim yang mengerti amanah Allah sajalah yang bisa memahaminya. Di saat itu, mereka bisa mendidik umat dengan Islam secara kafah sehingga umat berubah. Dari kondisi jahiliyah menuju kondisi baru yang penuh berkah.

Yaa Rabb, jadikan bulan ini sebagai perisai umat Muhammad saw. dari badai fitnah, kokohkan barisan kami, kuatkan persatuan kami, hingga kemenangan dan pertolongan dari-Mu datang melalui tegaknya perisai pemimpin umat yakni khilafah. Semoga ini adalah Ramadan terakhir umat tanpa perisai khilafah, Aamiin aamiin aamiin.

اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالْإِيمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ

“Ya Allah, perjalankanlah bulan ini kepada kami dengan penuh kebajikan dan iman, serta keselamatan dan Islam. Rabb-ku dan Rabb-mu (bulan) adalah Allah.” (HR. Tirmidzi)

Wallaahu'alam bishshawaab

 
Top