Oleh Yulia ummu Haristah

(Ibu Rumah Tangga dan Pembelajar Kepenulisan Bela Islam)


Ramadan bulan mulia kini telah tiba semangat menyambut dan mengisinya kian terasa, dari berbagai artikel di medsos kian berseliweran di beranda. Sampai suasana lingkungan rumah pun kian antusias, untuk mengisi hari-harinya dengan amalan ibadah. 

Begitupun dalam persiapan menghadapi Idul Fitri, masyarakat sangat antusias, untuk memeriahkan di hari rayanya. Meskipun harga-harga melonjak, semenjak awal Ramadan, apalagi di hari raya nanti, sudah barang tentu, kebutuhan meningkat dan otomatis barang barang yang dibutuhkan harganya pun meningkat. Dari mulai harga sayuran, harga sembako, sampai pakaian pun tak luput dari buruan ibu-ibu rumah tangga, untuk keperluannya di hari raya. Walaupun dengan sesederhana mungkin. 

Tak kalah menjadi trend pula, dengan  kebiasaan masyarakat yang dilakukan di hari raya, yaitu mudik. Kebiasaan mudik ini biasanya di lakukan dari H-5 sampai puncaknya mudik ketika sekitar H-2 sampai-sampai kendaraan di jalan raya padat merayap bahkan sampai macet total, karena banyaknya kendaraan yang keluar berbarengan,  untuk bisa merayakan Idul Fitri di kampung, bersama sanak keluarga tercintanya. 

Namun di hari raya Idul Fitri kali ini pun masyarakat dilarang mudik, seperti halnya tahun kemarin, dengan alasan masih pandemi Covid-19. Masyarakat diimbau untuk tidak mudik karena wabah Corona masih naik turun dalam data kejadiannya. 

Namun di situasi seperti ini, pemerintah malah mengeluarkan kebijakan baru yang menjadi kontradiktif, pemerintah saat ini menggalakkan dibukanya tempat-tempat rekreasi, tempat hiburan, dengan dalih masih banyak orang yang butuh hiburan, di kala liburan Idul fitri. 

Di satu sisi, dilarang untuk mudik bertemu dengan sanak keluarganya, di sisi lain tempat-tempat wisata dipromosikan. Jadi yang dilarangnya itu berkerumunnya atau silaurahminya? Karena kalau kita lihat masalah di atas bisa menimbulkan kerumunan dua-duanya. 

Di satu sisi lain juga, masyarakat diimbau tidak menggelar pasar tumpah  atau pasar kaget yang biasa digelar seminggu sekali karena ini akan mengakibatkan banyaknya kerumunan, seperti yang dikutip dari RADARBANDUNG.id, Seorang Jubir Gugus Tugas Kabupaten Bandung Yudhi Abdurrahman memaparkan, meski belum ada larangan, tapi diimbau pedagang musiman tidak menggelar pasar kaget, karena tingkat keterpaparaan Covid-19 di Kabupaten Bandung saat ini masih fluktuatif, artinya kasus Covid-19 bisa naik dan biasanya terjadi setelah waktu liburan. Jadi harus ada kerjasama dari pihak RT, RW, dan desa setempat, untuk adanya pengawasan prokes, begitu tuturnya. Sedangkan kita lihat bahwasanya mall-mall, swalayan, toserba, masih tetap buka, sungguh kebijakan yang kontradiktif dan inkonsisten. 

Pelarangan-pelarangan ini berkesan hanya untuk masyarakat menengah ke bawah, sedangkan menengah ke atas tak demikian. 

Inilah bentuk ketidakadilan kebijakan penguasa yang tidak merata, yang diterapkan oleh sistem kapitalis, sistem yang hanya mementingkan segelintir orang saja, yaitu mereka yang memiliki modal berjubel, berkantong tebal, sedangkan masyarakat menengah ke bawah yang mencari rezeki hanya untuk menyambung hidupnya saja begitu dipersulit. 

Berbeda dengan aturan Islam, yang selalu memberikan solutif di setiap kondisi karena Islam adalah sistem yang menyeluruh, yang memberikan keadilan bagi setiap manusia, karena Islam lahir dari Tuhannya manusia yang Maha Mudabbir, yang mengurus urusan manusia. Tentunya akan memberikan ketentraman sehingga tercipta baldatun thoyyibatun warobbun ghofur. 

Wallahu a’lam bishshawab.

 
Top