Muslim Palestina Butuh Khilafah


Oleh Yanyan Supiyanti, A.Md

Pegiat Literasi dan Member AMK


Karena ketiadaan khilafah, setiap Ramadan Israel secara demonstratif mengganggu kekhusyukan ibadah muslim Palestina. Dengan melarang menggunakan Masjidil Aqsha, seperti buka puasa di Masjidil Aqsha, menyerang warga Palestina sepulang salat tarawih, polisi Israel tidak mengizinkan makanan masuk ke dalam kompleks suci bertembok bagi jamaah yang menjalankan puasa Ramadan untuk berbuka puasa, melarang azan di Masjidil Aqsha dan bahkan polisi Israel menembakkan granat kejut ke arah warga Palestina dan menahan lima orang. (Tempo.co, 16/4/2021)

Respon dunia, terbukti tak berbuat nyata memberi keadilan dalam konflik Palestina-Israel. 

Ramadan yang seharusnya menjadi bulan yang khusyuk untuk beribadah, justru terganggu dengan ancaman dan intimidasi kaum kafir laknatullah alaih.

Sekat nasionalisme telah membuat kaum muslim di seluruh dunia tidak berdaya. Rasa persaudaraan bagai satu tubuh telah hilang sejak keruntuhan Daulah Khilafah Utsmaniyah di Turki tahun 1924 silam.

Palestina dan dunia butuh sosok pemimpin seperti Umar bin Khattab, Shalahuddin Al-Ayyubi, dan Sultan Abdul Hamid II, yang tegas, berani, dan menjadi perisai (pelindung) mereka.

Penderitaan Palestina adalah karena pendudukan Israel. Israel memiliki kekuatan secara politik dan militer dengan dukungan Inggris dan AS. Bila Israel muncul karena deklarasi dari Inggris kepada kaum Yahudi, maka harus ada institusi kuat yang bisa menandingi Inggris untuk melawan Israel. Sejarah mencatat, ada kekuatan yang mampu mencegah tindakan Israel yang sewenang-wenang terhadap warga Palestina, kekuatan itu adalah kekuatan kaum muslim. Bersatunya kaum muslim dalam satu komando. Komando seorang panglima perang bernama Shalahuddin Al-Ayyubi. Shalahuddin Al-Ayyubi tak bisa bergerak sempurna tanpa ada persatuan umat muslim dalam satu institusi yang sama, institusi itu disebut khilafah.

Sebagaimana sabda Rasulullah saw., "Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung. Jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah 'Azza wa Jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggung jawab atasnya." (HR. Muslim)

Palestina adalah bagian dari wilayah kaum muslim. Tanahnya adalah hak umat Islam. Bila ingin mendirikan negara bagi kaum Yahudi, maka harus melalui izin dari seorang khalifah. Saat itu, Theodore Herzl (pemimpin gerakan zionis) meminta izin pada Khalifah Abdul Hamid II untuk memberikan tanah di Al-Quds bagi kaum Yahudi. Sultan dengan tegas menolak itu sambil berucap melalui perdana menterinya, "Nasihatilah Herzl agar jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun sejengkal tanah ini (Palestina) karena ia bukan milikku. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan Palestina. Mereka telah menyiraminya dengan darah mereka. Yahudi disilakan menyimpan harta mereka. Jika suatu saat kekhilafahan Turki Utsmani runtuh, kemungkinan besar mereka akan bisa mengambil Palestina tanpa membayar harganya." Namun, kata Sultan Abdul Hamid II, selama masih hidup, dia lebih rela menusukkan pedang ke tubuhnya sendiri daripada melihat tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islamiyah.

Tampak jelas hari ini, Palestina dan dunia tanpa khilafah, mengalami kesengsaraan dan penindasan, meskipun mayoritas penduduk dunia adalah umat Islam. Akan tetapi bagai buih Di lautan, banyak tapi tidak punya kekuatan. Miris.

Saatnya umat bersatu dalam satu komando dan satu institusi, yakni khilafah. Persoalan Palestina dan dunia akan tuntas teratasi. 

Wallahu a'lam bishshawab.