Moderasi Beragama Lahirkan Islamophobia

 


Oleh Ummu Adi

Ibu Rumah Tangga dan Member AMK


Kehidupan yang damai dan tenang adalah harapan semua orang. Tidak ada satupun orang yang mau hidup dengan ketakutan dan kerusuhan. Demikian juga semua agama yang ada selalu mengajarkan kedamaian dan kerukunan. Tapi suasana tenang itu sangat sulit terwujud di indonesia.


Suara ledakan mengagetkan warga disekitar Jalan Kajolalido Makassar, minggu pagi sekitar pukul 10.30 wita. Belakangan diketahui, ledakan tersebut merupakan aksi bom bunuh diri di depan gedung pintu halaman Gereja Katedral Makassar.


Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (MENKOPOLHUKAM) Mahfud MD menyatakan, tidak ada korban jiwa atas peristiwa tersebut dari gereja dan umat. Mahfud menerangkan, korban meninggal 2 orang, yang diduga sebagai pelaku aksi tersebut. Sementara 14 orang lainnya yang merupakan petugas keamanan dan umat Gereja Katedral Makassar mengalami luka-luka. (nasional.kompas.com, 29/03/2021)


Menyikapi hal tersebut Guru Besar Sosiologi, Prof. Hamdan Juhannis yang juga seorang Rektor UIN Alauddin Makassar menyampaikan belasungkawa dan menyatakan bahwa tindakan teror yang masih kerap terjadi menjadi pertanda moderasi beragama harus semakin dikuatkan. Lebih lanjut lagi ia mengungkapkan, "penguatan moderasi beragama menjadi kunci untuk melakukan kontra terhadap ekstrimisme kekerasan." (uin-alaudin.ac.id, 29/03/2021)


Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar menyebutkan, bahwa tindakan tetorisme seperti di Makassar sebetulnya bukan karakter bangsa Indonesia. Menurutnya peristiwa kemarin bisa terjadi lantaran paham radikal yang hinggap pada kaum muda. (news.detik.com, 29/03/2021)


Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Muhammad Abdullah Syukri yang mendorong agar tokoh-tokoh agama memberi ajaran moderat kepada jamaahnya demi mencegah adanya aksi teror sebagaimana yang terjadi di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan. (republika.co.id, 29/03-2021)


Mengenal Moderasi Beragama


Kata Moderasi berasal dari bahasa latin, yaitu Moderatio yang artinya kesedangan, maksudnya adalah tidak berlebihan dan tidak kurang. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) moderasi adalah pengurangan kekerasan, atau penghindaran  keekstriman.


Jadi ide moderasi beragama  merupakan ide yang dimaksudkan untuk menumbuhkan sikap toleransi dalam beragama dan menangkal bibit-bibit radikal yang bisa memicu aksi terorisme.


Massifnya isu moderasi dalam beragama yang diopinikan di tengah-tengah umat melalui elemen masyarakat seperti tokoh agama, aparat dan pejabat seolah-olah menjadi solusi yang bisa memutus tindakan radikalisme dan ekstrimisme. Hal ini bisa dilihat bagaimana Menteri Agama menghimbau kepada para tokoh agama untuk meningkatkan pola pengajaran agama secara baik dan menekankan pentingnya beragama secara moderat. (kemenag.go.id, 28/03/2021)


Moderasi beragama ini muncul ketika pemahaman Islam mulai meningkat pada diri umat Islam. Pemahaman ini menumbuhkan keinginan agar Islam diterapkan menjadi aturan hidup. Puncaknya adalah  penolakan dari  beberapa ormas Islam terhadap pencalonan gubernur DKI yang non muslim, kemudian berujung pada penistaan terhadap QS. al-Maidah ayat 51 yang diucapkan oleh calon gubernur tersebut, kemudian  berujung pada aksi demo besar-besaran oleh Umat Islam yang menuntut agar ada proses hukum bagi si penista.


Untuk menjegal aksi-aksi  intolerans inilah, para pejuang Islam moderat berusaha membendung agar tidak terjadi sikap fanatik yang berlebihan terhadap agama tertentu. Untuk itulah, agar bisa diterima, mereka mendefinisikan moderasi beragama dengan merujuk kepada surah al Baqarah, ayat 143.


Artinya :  "Dan demikian pula kami menjadikan kamu (Umat Islam)  'umat pertengahan' agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.


Makna Ummatan Wasathan di atas dipahami oleh orang-orang moderat sebagai agama yang wasathiyah  yang artinya pertengahan atau Moderat. Padahal dalam tafsir Ath Thabari, dijelaskan bahwa Ummatan Wasathan adalah Umat terbaik yang berbeda dengan Umat lain yaitu Umat Islam.


Moderasi beragama yang semakin masif tentu saja tidak lepas dari sistem demokrasi sekuler, yang saat ini diterapkan di Indonesia. Sistem ini memisahkan agama dari kehidupan. Umat Islam berusaha dijauhkan dari ajaran agamanya sendiri.


Salah satu upayanya adalah dengan memberikan citra dan label buruk, kepada umat Islam yang ingin menerapkan aturan Islam. Seperti radikal, ekstrim, fundamental, khawarij, dan terorisme. Aksi teror bom yang berkali-kali terjadi di Indonesia juga mengindikasikan adanya upaya mengarahkan pelakunya ke umat Islam yang taat beragama. Seperti cadar, jilbab, celana cingkrang, berjenggot, tas ransel, dan lain-lain.


Selama sistem ini masih dijadikan aturan hidup, maka aksi-aksi menjegal penerapan syariat islam dan para pejuangnya akan terus terjadi.


Pandangan Islam


Islam adalah agama sempurna yang mengatur seluruh hubungan antara manusia dalam segala aspek, termasuk bagaimana interaksi antara umat beragama.

Allah berfirman dalam Qs. al Maidah ayat 3 yang artinya;

"Hari ini telah Kusempurnakan agamamu dan telah Kucukupkan nikmatKu padamu dan Kuridhoi Islam sebagai agama bagimu."


Selama 13 abad kegemilangan Islam, seluruh umat beragama bisa hidup berdampingan .Tidak ada gangguan bagi umat beragama yang hidup didalam naungan Islam dalam menjalankan ibadahnya. Baik yang beragama Islam, Nasrani bahkan Yahudi.


Karena peradaban Islam melindungi kaum kafir dzimmi  (non muslim yang hidup dan taat dalam syariat Islam) dan memberikan hak mereka sebagaimana yang didapatkan oleh umat muslim baik  pendidikan, kesehatan, pemenuhan kebutuhan pokok dan jaminan keamanan dan jaminan lainnya tanpa terkecuali.


Dalam hadis riwayat Imam Thabrani disebutkan bahwa Nabi Saw pernah bersabda;

“Barangsiapa menyakiti seorang zimmi (non Muslim yang tidak memerangi umat Muslim), maka sesungguhnya dia telah menyakitiku. Dan barang siapa yang telah menyakitiku, maka sesungguhnya dia telah menyakiti Allah.”


Agama Islam melarang semua bentuk aksi teror. Karena Islam merupakan agama yang memberi rahmat bagi seluruh alam. Sementara jihad bukanlah aksi yang bisa dilakukan di sembarang tempat. Ada syarat dan kondisi tertentu yang mengharuskan jihad. Contohnya ketika terjadi penjajahan di daerah tersebut.


Pemerintah seharusnya bartanggung jawab untuk menerapkan aturan Islam secara kaffah. Dan memberikan gambaran bagaimana penerapan Islam bisa menciptakan ketentraman dan kerukunan hidup. Bukan malah mengeluarkan kebijakan yang justru memperlihatkan permusuhan dan kebencian terhadap Islam dan para pejuangnya


Tentunya kondisi ini bisa menyadarkan umat Islam akan pentingnya penerapan aturan Islam dalam kehidupan. Agar umat Islam bisa bebas beribadah dan menjalankan seluruh syariat Islam tanpa ada tekanan dan ancaman. Maka yang harus dilakukan saat ini adalah semakin memasifkan dakwah di tengah umat, agar semakin banyak umat yang sadar terhadap kerusakan yang terjadi saat ini, dan menuntut diterapkannya syariat Islam untuk mengatur kehidupan mereka.


Wallaahu a'lam bishshawab