Liberalisasi Akidah Dipertontonkan di Negeri Sekuler





Oleh: Siti Farihatin, S.Sos (Guru Kober dan Anggota Aliansi Penulis Rindu Islam)

Barau-baru ini muncul pendapat yang cukup mencengangkan yang dilontarkan oleh Menag Yaqut Cholil Qoùmas terkait doa dari semua agama yang dibacakan di acara umum Kementrian Agama, dan pernyataan ini juga mendapat pembelaan dari wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid yang memberikan pendapat yang sama ketika beliau menyampaikan pendapatnya.

"Ya (untuk) acara internal Kementerian Agama yang diikuti oleh seluruh eselon dan pejabat di Kementerian Agama yang memang ada dari Direktorat Bimas Islam, Direktorat Bimas Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan yang lain," kata Zainut di gedung DPR, Jakarta Jumat 9 April 2021

Acara internal yang dimaksud menurut Zainut adalah yang bersifat nasional dan dihadiri oleh seluruh pejabat dari berbagai agama. Oleh karena itu tidak hanya ditujukan untuk satu wilayah tertentu saja. "Itu bukan hanya di Jakarta tapi juga seluruh Indonesia jadi sepanjang itu berkaitan masalah bersama silakan saja," ujarnya. (Vivo.co.id, Jum'at 09 April 2021)

Do'a bagi kaum muslimin bukan hanya menyampaikan hajat, tapi juga merupakan bentuk ibadah. Apa jadinya ketika do'a harus dicampuradukkan satu sama lain dengan semua agama. Dan menurut pandangan Islam doa orang kafir tidak akan dikabulkan oleh Allah dzat sang pencipta. Ini jelas bertentangan dengan akidah Islam.

Pluralisme pun menjadi ajang yang biasa dalam kehidupan sekuler di negeri ini, agama dianggap semua sama tidak ada pembeda di dalamnya, hal ini merupakan pendapat yang sesat. Untukku agamamu dan untukku agamaku. Jadi akidah tidak seharusnya dicampuradukkan, sebagaimana pencampuradukkan do'a setiap agama.

Akal menjadi lebih berperan daripada aturan syara' hal ini jelas menyalahi apa yang sudah menjadi hukum syara' dalam kehidupan. Akal manusia bersifat terbatas dan sejatinya seharusnya syara' menjadi acuan dalam kehidupan bukanlah akal. Akidah agama lain jelas berbeda dalam memaknai dzat pencipta misalnya agama kristen, hindu dan Islam sendiri. Jadi tidak patut untuk dicampuradukkan.

Adapun hubungan antara agama satu dengan agama yang lain ada aturannya dan ada dalam bidang yang lain, bukan terkait akidah. Misalnya dalam jual beli, saling menghormati ritual agama lain dan kehidupan saling tolong menolong, bukan campur aduk antar akidah, jelas ini penyesatan.

Sejatinya kehidupan antar agama bisa terjalin dengàn sempurna dengan aturan yang benar, aturan yang pernah dicontohkan roaulullah ketika beliau berada di Madinah, ketika beliau pertama kali mendirikan negara Islam di Madinah beliau memberikan batasan antara kaum yahudi dengan umat Islam. Hal ini bisa sebagai sandaran untuk bisa menjalin hubungan dengan umat lain dan seharusnya bisa membedakan mana yang boleh dan tidak dalam hubungannya dengan agama lain.

Ketika Rosulullah mendirikan negara Islam.di Madinah beliau memberikan aturannya yang jelas dengan pemeluk agama lain, hal ini terlihat dengan adanya piagam Madinah pasal 16 yang berbunyi, "Sesungguhnya orang Yahudi yang mengikuti kita berhak atas pertolongan dan santunan, sepanjang (mukminin) tidak terzalimi dan ditentang (olehnya)".

Dari piagam tersebut jelas adanya hubungan antar agama yang seharusnya dijaga, umat Islam tidak boleh menyakiti, berbuat dzolim dan harus memberikan keadilan kepada pemeluk agama lain. Dan tidak ada kaitannya dengan akidah yang sekarang notabenenya dicampuradukkan dengan dalih saling menghormati.

Dalam Islam jelas mana yang boleh dan mana yang seharusnya tidak boleh dilakukan antar agama dalam urusan akidah. Dan jelasa juga bagaimana Rosulullah mencontohkan ketika beliau berada di Madinah. Dan kehidupan yang seperti ini hanya bisa dijalankan ketika ada negara Islam dengan aturan syara' yang menyeluruh. 

Saatnya umat sadar akan agenda-agenda yang bisa menjerumuskan dari kebenaran akidah meskipun hal tersebut mereka anggap sebagai hal remeh sekalipun, karena sejatinya hal-hal tersebut akan menjauhkan umat dari ketaatan terhadap hukum syara'. Allahu 'Alam