Harga Pangan Meroket, di Mana Peran Negara?


Oleh Dewi Humairah

(Aktivis Muslimah Millenial dan Member AMK)


Harga pangan kini mulai naik semua. Padahal itu semua kebutuhan masyarakat sehari-hari. Jika harga naik semua. Maka mereka harus berpikir dua kali lipat dalam memenuhi kebutuhannya agar tercukup. Mengapa ini semua terjadi?

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri mengatakan harga berbagai pangan mulai menunjukkan kenaikan beberapa hari menjelang puasa.

Menurut Abdullah, harga pangan yang meningkat dan cukup mencolok dalam 1-2 hari adalah daging ayam, daging sapi dan minyak goreng.

Dia mengatakan, saat ini harga rata-rata daging ayam bisa mencapai Rp38.000 hingga 40.000 per ekor, daging sapi sekitar Rp130.000 hingga 131.000 per kg, dan minyak goreng sekitar Rp14.300 per kg.

"Ini terus naik ritmenya. Permintaan juga sudah mulai terlihat tinggi. Secara nasional sekitar 10% kenaikannya per hari ini, ini akan kita pantau terus Ujar Abdullah kepada Kontan. (Kompas.com, 8/4/2021)

Berdasarkan data pusat Informasi Pangan Strategis Nasional (PIHPS) hingga Kamis (8/4/2021), harga daging ayam sekitar Rp36.250 per kg naik akhir Maret (31/3/2021) sekitar Rp34.550 per kg.

Abdullah mengatakan, kenaikan harga ini sering dengan fase kenaikan harga selama Ramadan dan lebaran. Menurutnya, terdapat 3 fase kenaikan harga. Fase pertama yakni terjadi seminggu menjelang puasa, fase kedua beberapa hari menjelang lebaran dan fase ketiga sekitar 2-3 hari setelah lebaran.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi juga mengatakan bahwa harga barang kebutugan pokok stabil dan cukup Ramadan dan idul fitri tahun ini.

Kementerian Perdagangan menjamin bahwa pada Ramadan tahun ini harga-harga bahan pokok terjangkau bahkan cenderung akan menurun. Kami juga menjamin pasokan bahan pokok tersedia. Mudah-mudahan Ramadan tahun ini dapat beribadah dengan lebih tenang dan lebih baik," ujar Lutfi saat meninjau harga dan pasokan barang kebutuhan pokok di Pasar Induk Kramat Jati dan Pasar Kramat Jati Rabu (7/4/2021).

Bahan pangan yang semakin tinggi dan sulit stabil juga ada yakin cabai rawit merah. Abdullah mengatakan bahwa bila penurunan harga cabai terjadi menjelang Ramadan, dia meyakini harga cabai tak akan kembali stabil hingga lebaran berakhir karena permintaan yang tinggi.

Namun, dia juga mengatakan bahwa hal ini sangat tergantung pada pasokan cabai. Menurutnya, bila pasokan cabai rawit menurun maka harga akan kembali meningkat, namun bila pasokan melimpah maka harga masih memungkinkan untuk stabil.

Dari data PIHPS per Kamis (8/4/2021) harga rata-rata cabai rawit merah masih berkisar Rp84.400 per kg, harga cabai rawit hijau Rp56.600 per kg, harga cabai merah besar Rp51.650 per kg dan harga merah keriting Rp50.800 per kg.

Mengapa setiap menjelang puasa dan idul fitri kebutuhan selalu naik? Apa penyebabnya? Jika karena permintaan semakin tinggi harusnya negara bisa memberikan solusi agar harga itu tetap stabil bukan dengan menaikkan harga. Ya inilah permainan kapitalis. Mereka tak peduli nasib umat. 

Harga pangan meroket merupakan kejadian yang terus terulang setiap menjelang bulan Ramadan. Dimana peran penting negara untuk menyediakan pasokan yang memadai dan menghilangkan semua penghambat pasar secara adil?

Bagaimana bisa menjalankan ibadah puasa dengan tenang sedangkan mereka harus memikirkan kebutuhan yang terus naik.

Islam adalah agama yang sempurna. Mengatur dan memberikan solusi atas masalah apa pun itu termasuk masalah kebutuhan bahan pokok yang mana itu adalah kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Negara wajib mewujudkan suasana yang tenang, menjamin atas pemenuhan kebutuhan bukan hanya menjelang Ramadan saja tapi tak di bulan Ramadan pun negara wajib memenuhi kebutuhan mereka.

Wallahu a'lam bishshawab.