Doa Semua Agama, Bukti Negara Kian Liberal

 


Oleh Inayah

Ibu Rumah Tangga Dan Pegiat Dakwah


Doa adalah salah satu aktivitas seorang muslim, bukan hanya sekedar menyampaikan hajat saja, tapi doa juga merupakan ibadah kepada Allah Swt.


Namun bagaimana jadinya kalau ada upaya sinktretisme, doa antar agama? 


Menteri Agama Yaqut Chalil Qoumas, telah menyampaikan dengan jelas bahwa persoalan terkait setiap acara di Kementerian Agama dimulai dengan doa dari semua agama, tidak hanya doa dari agama saja. Ia mengatakan hal ini masih sebatas saran internal. ‘’Itu kan bersifat internal, di lingkungan Kemenag. Itu pun hanya untuk kegiatan berskala besar seperti rapat besar Munas (Musyawarah nasional), disampaikan saat mengisi seminar pemikiran di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Jawa Timur, dikutip dari Antara, Rabu (7/4).


Gus Yaqut juga menjelaskan, pembacaan doa lintas agama tidak hanya menaungi satu agama saja, tetapi semua agama yang ada dan diakui negara Indonesia. Bukan  Kementerian Islam yang hanya menaungi satu agama Islam saja jelasnya. Oleh sebab itu Gus Yaqut mengatakan juga, doa lintas agama atau keyakinan perlu dilakukan agar menjadi representasi Keterwakilan masing-masing pemeluk agama di lingkup organisasi kepegawaian Kemenag.


Tujuan doa menurut Gus Yaqut, adalah memohon keselamatan kepada Allah agar pegawai di lingkungan Kemenag dijauhkan dari perbuatan mungkar dan korupsi.


Miris, itulah kata yang pantas, karena fakta doa lintas agama seperti ini dengan pasti telah mengakui bahwa semua agama benar. Dan secara sadar ataupun tidak telah mengakui juga Tuhan-Tuhan selain Allah.


Munculnya pemahaman semua agama benar atau pluralisme atau sinkretisme atau mencampurkan adukan islam dengan agama lainnya, ini muncul dari diterapkannya sistem kapitalis sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, juga dari azas sekuler demokrasi ini telah melahirkan kebebasan berpendapat dalam beragama. Maka tidak boleh seorang pun mengakui bahwa agama Islam adalah agama yang paling benar.


Negara dengan mengemban liberalisme dengan masif mengaruskan ide pluralisme ini ke tengah-tengah masyarakat, yang tentu akan membayakan akidah umat.


Bagaimana sesungguhnya makna doa?


Doa memiliki banyak arti namun makna yang diambil adalah permintaan atau permohonan sebagaimana firman Allah Swt. yang artinya: 


Dan Tuhanmu berfirman: ’’Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu.” (TQS al-Mukmin (40): 60)


Doa bagi kaum muslimin bukan sekedar menyampaikan hajat, namun merupakan ibadah kepada Allah Swt.. Rasulullah saw bersabda:


"Doa adalah otak (inti) ibadah." (HR Tirmidzi)


Doa merupakan ibadah yang khas bagi masing-masing agama. Hal ini karena yang diseru dan dimintai adalah Tuhan dari masing-masing agama. Dalam Islam doa adalah memohon kepada Allah, tidak diperbolehkan meminta kepada selain Allah, karena hal itu adalah bentuk kesyirikan. Allah Swt. berfirman yang artinya:


”Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu manusia sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan yang lain? Amat sedikitkah kamu mengingat-Nya.” (TQS an-Naml (27):62)


Allah Swt.  telah menegaskan bahwa agama Islam adalah agama yang paling benar, Firman-Nya artinya:


’’Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam.” (TQS Ali Imran (3): 19)


“Barang siapa mencari agama selain Islam sekai-kali tdak akan diterima agama itu daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (TQS Ali-Imran (3): 85)


Jadi sudah jelas dan harus menjadi satu keyakinan yang utuh bagi umat Islam bahwa agama satu-satunya yang benar hanyalah Islam. Dan jangan sampai pemikiran yang sesat dan menyesatkan  diadopsi, dan harus dibuang jauh-jauh karena akan membahayakan keimanan dan keyakinan kepada Allah Swt. 


Agar keimanan umat Islam tidak tergoyahkan dengan ide-ide pluralisme maka langkahnya adalah dengan mengkaji agama Islam secara benar. Yaitu memperdalam kajian akidah dan syariah agar aqidah umat makin kokoh dan kuat dan memahami seluruh hukum-hukum Islam agar umat semuanya terikat dengan syariah Islam. Lebih jauh agar umat makin meyakini bahwa Allah sebagai Al-Khaliq Al-Mudabir (Pencipta dan Pengatur kehidupan manusia). Sehingga manusia semuanya mau menjalankan hanya aturan dari Allah saja. dan makin mendekatkan diri kepada Allah Swt.


Bagaimana sebenarnya hukum doa lintas agama? Pada tanggal 28 Juli 2005, Munas VII Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa tentang doa lintas agama yang ditanda tangani ketuanya saat itu, KH Ma’ruf Amin.


MUI menetapkan hukum doa lintas agama sebagai berikut:


1. Doa bersama yang dilakukan oleh orang Islam  dan non-muslim tidak dikenal dalam Islam. Oleh karenanya termasuk bid’ah.


2. Doa bersama dalam bentuk ‘’setiap pemuka agama berdoa secara bergiliran’’ maka orang Islam haram mengikuti dan mengamini doa yang dipimpin oleh non-muslim.


3. Doa bersama dalam bentuk ’’muslim dan non-muslim berdoa secara serentak” (misalya mereka membaca teks doa bersama-sama hukumnya haram).


Bila sudah jelas keharaman doa lintas agama, doa bersama atau klaim kebenaran itu relatif, maka seharusnya ide-ide pluralisme ini harus ditolak karena tidak sesuai dengan dalil Al-Qur'an dan fakta karena Allah berbeda dengan Tuhan Yesus dan Tuhan-Tuhan lainya. Karena Allah tidak beranak dan diperanakan, tidak sama dengan makhluk-Nya, Allah itu Wajibul Wujud (wajid adanya) dan mukhalafatu lil hawadisi (berbeda dengan makhluk-Nya). 


Dalam pandangan Islam seharusnya peran negara yang memberikan pembinaan dan penguatan akidah umat. Dengan memberikan pemahaman-pemahaman yang benar dan menjauhkan ide-ide yang merusaknya. Artinya peran negara sangat penting untuk senantiasa meriayah (mengurus) rakyatnya dengan benar karena pemimpin dalam Islam adalah sebagai penggembala dan akan diminta pertanggung jawaban atas rakyat yang dipimpinya. Juga pemimpin dalam Islam sebagai perisai atau junnah. Sebagaimana sabda Nabi saw. yang artinya:


"Khalifah adalah junnah tempat rakyat berlindung di belakangnya dari serangan musuh.’’ (HR Ahmad) 


Wallahu a'lam bi ash shawab.