Oleh Misnawati

(Pemerhati Sosial Masyarakat)


Berdoa merupakan ibadah yang sangat dianjurkan. Doa ditujukan hanya kepada Allah Swt.  Karena Dialah pemilik langit, alam semesta dan kehidupan. Dia pula tempat meminta segala sesuatu dan berhak mengabulkan doa hamba-Nya. Sehingga orang yang enggan berdoa digolongkan sebagai orang yang sombong. 


Tapi apa jadinya bila berdoa bersama lintas agama dilakukan di suatu tempat, apakah doa tersebut akan diterima Allah Swt.


Sebagaimana dilansir dari antaranews.com (5/4/2021) Menteri Agama Yaqut Qholil Qoumas meminta setiap acara yang berlangsung di Kementerian Agama turut memberikan kesempatan agama lain dalam mengisi doa dan tidak hanya doa untuk Islam saja. Pernyataan yang disampaikannya saat mengisi Rapat Kerja Nasional (Rakernas) secara daring dan luring yang berlangsung selama Senin hingga Rabu. Ia juga menyampaikan bahwa Kemenag harus menjadi contoh dalam menjunjung tinggi moderasi beragama dan apa la lakukan sebagai otokritik terhadap lembaga yang dipimpinnya.


Gus Yaqut menjelaskan, pembacaan doa lintas agama didasari karena Kementerian Agama tidak hanya menangani satu agama saja. Tetapi semua agama yang ada dan diakui di Indonesia (Kumparan.com,7/4/2021)


Doa semua agama bentuk percampur-adukkan berbagai agama, cara berdoa semacam ini tidak dikenal dalam Islam.


Selain itu MUI telah mengeluarkan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor: 3/MUNAS/VII/MUI/7/2005 tentang doa bersama. Salah satu poinnya adalah doa bersama dalam bentuk,"Setiap pemuka agama berdoa secara bergiliran" maka orang Islam haram mengikuti dan mengamini doa yang dipimpin oleh non muslim.(rebublika.co.id,8/4/2021)


Tetapi sepertinya peraturan ini tidak lantas membuat mereka berhenti menjalankannya karena sebelumnya juga sudah pernah dilakukan doa lintas agama oleh ormas Islam. Sekarang justru semakin parah karena justru lembaga pemerintahan yang menggulirkan kebijakan tersebut.


Semua ini tidak lepas dari aturan sekuler liberal yang dipakai negeri ini. Sistem ini prinsipnya adalah memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga memunculkan kebebasan dalam berbuat, berkata, memiliki dan menganggap sama semua agama (pluralisme).


Sistem ini menjadikan akal manusia (logika) sebagai tolak ukur dalam memutuskan setiap perkara.  Karena tujuan hidup menurut mereka adalah semua yang menguntungkan dan membawa manfaat. Mereka menganggap semua agama sama, kebenaran agama relatif, dan tidak boleh menganggap agamanya paling benar sedangkan agama lain salah. Sebab Tuhan yang disembah sama, cara ibadah saja yang berbeda. Sama sekali tidak sesuai dengan kebenaran praktiknya yang di indera oleh umat muslimin, tentu ini akan membingungkan.


Islam mengharuskan umatnya berdoa hanya kepada Allah, dan tidak boleh berdoa kepada selain Allah. Sedangkan Allah yang disembah bukanlah Yesus, karena Yesus diperanakkan. Juga bukan Budha, karena Allah tidak menitis sebagai manusia. Juga bukan Sang Hyang Widhi dalam agama Hindu. Sedang Allah tidak terlihat, tidak beranak atau bentuknya menyerupai apapun. 


Pluralisme merupakan bentuk perpaduan semua agama, sepantasnya ditolak beserta ide-ide turunannya seperti doa lintas agama, dialog antar agama dst. Allah SWT mengingatkan dalam firmanNya, "Dan janganlah kamu sembunyikan yang hak dan bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui."(TQS al-Baqarah: 42)


Jadi jelas, doa bersama agama dan pencampuradukkan semua agama dalam suatu acara, bertentangan dengan syariat Islam. Sebab hakikat doa berbeda setiap masing-masing  agama. Bukan sekedar ingin terlihat moderat atau pun otokritik.


Dalam Islam, doa merupakan ibadah. Sebagaimana Rasulullah Saw telah bersabda: "Doa adalah inti ibadah." (HR. Tirmidzi). Artinya doa bermakna memohon kepada Allah Swt dan tidak diperkenankan meminta selain kepada-Nya. Semisal kepada Yesus, Patung, Dewa dan lain-lain. 


Sebagai suatu ibadah, doa setiap agama memiliki ciri khas masing-masing, disebabkan tuhan yang diseru pun berbeda sesuai keyakinannya. Secara tegas Allah mengingatkan seorang muslim hanya meminta kepadaNya. Sebab bila tidak termasuk kesyirikan. 


Allah Swt berfirman: "Katakanlah Muhammad; Wahai Ahli Kitab! Marilah kita menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukanNya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama yang lain tuhan-tuhan selain Allah."Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka)," Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim." (TQS:  al-Imran: 64)


Dengan jelas ayat tersebut memerintahkan muslim beribadah hanya menyembah kepada Allah Swt semata, tidak boleh selain kepada-Nya. 


Pada ayat yang lain, Allah juga mengabarkan berdoa selain kepada Allah Swt akan tertolak dan sia-sia. Dalam firman-Nya: "Dan hanya doa orang-orang kafir itu yang sia-sia belaka." [TQS. Ghafir: 50]


Ayat ini bermakna penegasan, bahwa doa orang kafir tidak diterima Allah Swt. Jadi jelas doa agama lain selain Islam tidak diterima Allah Swt. Sudah menjadi keharusan umat memahami perkara ini, sehingga perbedaan keyakinan tidak untuk dipaksakan. 


Sebagai agama yang sangat menjunjung toleransi dalam Islam batasannya jelas dalam perkara akidah, tidak memaksa agama lain memasuki agama Islam, sebagaimana Allah SWT berfirman, "Untukmu agamamu, untukku agamaku." (TQS. al-Kafirun: 6)


Namun demikian, Islam memerintahkan tetap berlaku adil kepada siapa saja termasuk non muslim. Melarang berlaku zalim, aniaya dan merampas hak-hak mereka. 


Di Madinah, Rasulullah Saw setiap hari mendatangi pengemis buta seorang Yahudi dan menyuapi makan, walau mendapat caci maki, hinaan, hingga diludahi. Namun Rasulullah Saw tetap menyuapi dan memperlakukannya lemah lembut dan penuh kasih sayang. Kebolehan berjual beli dengan agama lain, tetap bermuamalah baik dengan ortu meskipun berbeda keyakinan. 


Allah Swt berfirman: 

"Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian dalam urusan agama dan tidak pula mengusir kalian dari negeri kalian. Sungguh Allah menyukai kaum yang berlaku adil." [TQS. al-Mumtahanah: 8]


Dalam Islam, Negara berkewajiban mengurus dan melindungi warganya dari pluralisme yang mencampur adukkan semua agama. Karena dapat merusak akidah dan berpotensi memecah belah persatuan kaum muslimin. 


Rasulullah Saw bersabda: "Khalifah (Imam) adalah pengurus dan ia bertanggungjawab terhadap rakyat yang diurusnya." (HR. Muslim, Ahmad)


Selayaknya,  Ulama sebagai pewaris Nabi menjadi Garda terdepan berjuang membentengi akidah umat, dan memberikan pemahaman yang utuh dan benar tentang Islam. Dan melakukan amar makruf nahi mungkar ke seluruh lapisan masyarakat dan tidak terkecuali kepada penguasa.


Sehingga kedamaian dan kerukunan beragama terjalin dengan harmonis, namun hal ini sulit tercapai bagi muslim bila aturan hidupnya masih buatan manusia, sehingga mendorong umat memperjuangkan penerapan Islam secara kafah.


Wallahu a'lam

 
Top