Oleh Nur Ilmi Hidayah

Pemerhati Masalah Remaja, Praktisi Pendidikan


Sekularisme saat ini sudah mendarah daging bagi sebagian umat Islam, sehingga kehadirannya saat ini sangat sulit untuk dihilangkan. Sekularisme yang pada awal mula kehadirannya hanya membatasi kenegaraan dan agama, kini berpengaruh pada segala aspek kehidupan.

Bagi generasi muda, kehidupan sekuler sudah menjadi santapan sehari-hari. Hampir bisa dipastikan dalam aktivitas yang dilakukannya tak lepas dari pengaruh paham sekularisme. Pacaran, kehidupan yang hedonis, perzinaan, pergaulan bebas, semua tidak lepas dari ideologi ini.

Sekularisme menjalar ke dalam mental generasi muda bangsa ini, terutama lewat hiburan yang difasilitasi oleh media yang hanya memikirkan keuntungan dan tidak memperhatikan dampak yang akan ditimbulkan dari tontonan yang disajikan.

Jadilah mereka diperbudak oleh kesenangan dunia, sehingga melalaikan urusan agama dan lebih mementingkan nafsu semata. Lihatlah film/sinetron yang disajikan oleh media pengusung sekularisme, hampir semua yang disajikan adalah tentang hiburan. Sinetron yang menawarkan kehidupan generasi muda yang bebas tanpa aturan.

Kebebasan berperilaku amoral dalam dunia generasi muda telah terjamin dalam sistem demokrasi sekuler. Kebebasan berperilaku tersebut merupakan asas atas jaminan dari demokrasi sekuler, bahwasanya melanggar aturan agama bukan lagi sebuah ketakutan melainkan hal yang wajar. Namun faktanya, hal ini justru menghilangkan fitrah sebagai makhluk Sang Pencipta yang lemah dan terbatas.

Negara membiarkan adanya pemikiran dan gaya hidup sekuler-liberal yang mengepung generasi muda dengan berbagai sarana. Bahkan negara terkesan memfasilitasi masuknya pikiran-pikiran dan budaya Barat yang dapat merusak pemikiran dan gaya hidup para generasi muda.

Pelegalan perbuatan yang diakibatkan paham sekularisme semakin masif di tengah-tengah masyarakat dengan memanfaatkan kebebasan media cetak dan elektronik yang diminati kalangan generasi muda. Pada tataran ini, media memfasilitasi informasi secara bebas sehingga tidak bisa dipungkiri pengaruh yang signifikan ini. Lama kelamaan akan menciptakan generasi yang tidak segan memerangi segala keutamaan dan keluhuran akhlak generasi muda.

Begitu pula menjamurnya budaya hedonistik – permisif, yakni budaya hura-hura dan serba boleh. Boleh berpakaian sesuai keinginan individu untuk mengekspresikan dirinya, boleh berpacaran, dan memakai atau terjerat obat-obat terlarang.

Rusaknya akhlak generasi muda di era sistem demokrasi – sekuler ini semakin lengkap oleh penguasa yang terkesan menutup mata. Solusi yang diberikan baik dari penguasa belum mampu menyentuh akar persoalan. Dengan problematika yang dihadapi oleh generasi muda di era yang serba bebas, perlu ada solusi tuntas dalam menyelesaikan persoalan, yakni bagaimana mengatur kembali sistem pergaulan generasi muda yang sesuai dengan hukum syara’.

Segala persoalan yang terjadi pada generasi muda merupakan buah dari penerapan sistem sekuler – liberal yang melahirkan generasi rusak. Islam sebagai agama yang paripurna hadir untuk memecahkan segala problematika yang dihadapi manusia, baik dalam tatanan individu, masyarakat, maupun negara. Sebagaimana dalam firman Allah dalam surat an-Nahl ayat 84;

وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ شَهِيْدًا عَلَيْهِمْ مِّنْ اَنْفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيْدًا عَلٰى هٰٓؤُلَاۤءِۗ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ 

Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami bangkitkan pada setiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan engkau (Muhammad) menjadi saksi atas mereka. Dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim).

Di dalam Islam, segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia, alam semesta dan kehidupan diatur oleh Allah Swt. Terkait permasalahan remaja, Islam telah memberikan batasan yang jelas dalam pergaulan laki-laki dan perempuan, antara lain diharamkan untuk berkhalwat (berduaan) dengan yang bukan mahramnya. Hal ini dengan tegas dijelaskan di dalam surat al-Israa’ ayat 32; 

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا 

“Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” 

Islam juga melarang adanya aktivitas campur baur (ikhtilat) antara laki-laki dan perempuan tanpa adanya alasan syar’i, seperti di dalam muamalah, pendidikan, maupun kesehatan. Hal ini sebagai bentuk penjagaan Islam terhadap kehormatan dan kemuliaan manusia agar tidak terjerumus dalam perilaku sesat. Hal ini tentu dikuatkan melalui institusi keluarga sebagai pilar pengokoh kepribadian remaja. Sehingga baik orang tua maupun anak dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik sesuai dengan syariat Allah.

Sistem sosial dalam Islam mampu mengkondisikan lingkungan masyarakat yang bersih dan terjaga dari segala hal yang dapat merusak keluarga. Batasan pergaulan antar laki-laki dan perempuan terjaga, salah satunya dengan diwajibkannya perempuan menutup aurat dan mengenakan jilbab ketika berada dalam kehidupan umum, misalnya saat keluar rumah. Begitupun dengan laki-laki yang diwajibkan menjaga batasan-batasan auratnya dengan sempurna. Hal ini secara tidak langsung mampu membantu laki-laki dan perempuan dalam menjaga pandangannya dan menundukkan syahwatnya.

Media yang beredar baik media digital maupun media sosial dipastikan berisi konten-konten yang mengedukasi masyarakat khususnya generasi muda, jauh dari unsur pornografi dan konten buruk. Di dalam Islam, pemerintah memiliki andil yang besar dalam mengatur dan mengontrol segala aktivitas yang berkaitan dengan kemaslahatan umat.

Sistem sanksi di dalam Islam juga memiliki hikmah yang sangat besar. Islam memberikan sanksi kepada kepala keluarga yang terbukti lalai dalam mengurus keluarganya, serta memberikan hukuman jilid dan rajam bagi pelaku zina sesuai dengan Al-Qur’an dan hadis. Hal ini bersifat sebagai pencegahan (preventif) dan memberikan efek jera baik bagi pelaku maupun orang lain.

Namun semua itu tidak dapat terwujud tanpa adanya institusi pemerintahan Islam, karena hanya dengan sistem pemerintahan Islam yang mampu menerapkan seluruh aturan-aturan Allah Swt., sebagai pedoman manusia dalam mencapai kemuliaannya sebagai umat yang terbaik.

Wallaahu a’lam bishshawab.[]

 
Top