Oleh Siti Susanti, S.Pd. 

Pengelola Majlis Zikir Assakinah Bandung


Alam yang indah, udara yang sejuk masih mudah dirasakan di Jawa Barat. Kenikmatan yang patut disyukuri, yang bisa jadi di wilayah lain sulit ditemukan. Namun di sisi lain, risiko bencana juga mengancam, yang harus membuat kita yang tinggal di Jawa Barat untuk selalu waspada, terutama mereka yang tinggal di kawasan bencana. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat (Jabar) menyatakan sejak tanggal 1 hingga 28 Februari 2021 terjadi 275 kejadian bencana alam di wilayah Jabar. (Antaranews.com, 5/3/2021) 

Mentafakuri bencana, sebagiannya merupakan ketetapan Sang Pencipta yang terjadi tanpa ada campur tangan manusia di dalamnya. Walaupun, sebagiannya justru merupakan akibat dari ulah tangan manusia. Allah Swt. berfirman: "Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia". (Lihat QS. ar-Rum ayat 41)

Jika bencana terjadi tanpa campur tangan manusia, sepatutnya orang-orang beriman menghiasi dirinya dengan kesabaran. Bisa jadi, bencana merupakan jalan menaikkan derajatnya di sisi Allah Swt. jika ia bersabar. Yang bisa dilakukan adalah mengoptimalkan mitigasi (penanggulangan) bencana, dalam rangka mengurangi korban baik jumlah maupun kadarnya. 

Mengenai bencana yang ada peran campur tangan manusia di dalamnya, sepatutnya orang-orang beriman meyakini bahwa Allah Swt. sangat teliti terhadap apa yang telah dilakukan, sebagaimana firman-Nya: "Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan". (Di antaranya dalam QS. al-Munafiqun: 11). Buah dari keyakinan terhadap Allah Yang Maha Teliti, seorang mukmin akan senantiasa hati-hati dalam bertindak. Jika ia melanggar aturan-aturan-Nya, membuat kerusakan, yang akhirnya menyebabkan kezaliman/kerusakan bagi dirinya maupun orang lain, niscaya hal itu tidak akan luput dari penglihatan-Nya dan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. 

Syariat Islam datang tidak lain memiliki maksud (dalam Bahasa Fiqih disebut Maqasid Syariah), yaitu untuk menjaga jiwa, menjaga harta, menjaga agama, menjaga keturunan dan kehormatan, dan juga akal. Terkait bencana, dapat terlihat keagungan syariat Islam yang secara kafah (sempurna) menuju maksud-maksud ini, di antaranya:

Pertama, Islam mendorong seorang mukmin untuk berbuat kebaikan meskipun misalnya dengan menyingkirkan duri di jalan, dan menjadikannya terkategori sedekah. Sebaliknya, dilarang untuk membuat aktivitas yang dapat menyebabkan bahaya bagi dirinya sendiri dan orang lain. Hadis Nabi saw.: "Janganlah membuat bahaya (untuk dirimu sendiri) dan menimpakan bahaya untuk orang lain".

Kedua, Islam membagi kepemilikan harta menjadi tiga jenis yaitu kepemilikan individu, kepemilikan publik, dan kepemilikan negara. Penetapan kepemilikan publik menjadikan harta milik publik menjadi milik bersama, yang dapat dimanfaatkan bersama-sama dan terlarang bagi individu maupun kelompok memilikinya. Hal ini berdasarkan hadis Nabi saw.: "Kaum muslim sama-sama membutuhkan tiga perkara: padang, air dan api". (HR. Abu Dawud dan Ibn Majah). Dengan mekanisme ini, individu maupun kelompok dapat tercegah untuk melakukan kerusakan terhadap kepemilikan umum yang dapat menimbulkan bencana. 

Ketiga, Islam menjadikan wewenang mengurusi urusan masyarakat berada di tangan seorang imam/pemimpin, sebagaimana hadis Nabi saw.: "Imam (kepala negara) adalah pengurus urusan masyarakat dan ia bertanggung jawab terhadap kepengurusannya".

Dari tiga poin ini saja, tergambar bagaimana Islam memiliki mekanisme dalam mencegah bencana. Secara individu didorong untuk melakukan kebaikan dan menjauh dari kegiatan yang membahayakan, dan secara komunal tercipta iklim yang kondusif melalui penerapan syariat Islam di tengah-tengah kehidupan mereka. 

Melalui bencana yang banyak menimpa, selayaknya kita melakukan introspeksi, seberapa banyak maksiat yang dilakukan. Maksiat adalah perbuatan melanggar syariat-Nya. Secara individu, maksiat bisa berupa misalnya merusak alam, membuang sampah sembarangan, boros dalam menggunakan kekayaan alam, dan sebagainya. 

Secara komunal, maksiat misalnya berupa perampasan kepemilikan publik menjadi milik pribadi/swasta. Banyak disaksikan, lahan/kawasan yang seharusnya milik publik beralih fungsi menjadi milik pribadi. Kawasan serapan air, yang seharusnya secara Islam dijadikan sebagai hima (kawasan lindung) milik publik, kini banyak yang berubah menjadi kawasan milik pribadi dipenuhi beton-beton berupa hotel atau vila, atau area hutan yang berubah menjadi area perkebunan. 

Seringkali maksiat hanya dimaknai sempit, yaitu ketika meninggalkan ibadah ritual. Hal ini tidak lain, iklim kehidupan yang disebabkan sistem kapitalisme. Dalam sistem ini, sekularisasi terjadi. Kehidupan umum termasuk dalam penjagaan alam misalnya, diserahkan pengaturannya kepada akal manusia yang serba lemah dan terbatas. 

Dalam sistem kapitalisme, tidak dikenal pembagian kepemilikan sebagaimana Islam membaginya. Di sisi lain, kebebasan individu mendapat tempat yang penting sehingga prinsip yang dianut adalah individualistis, semata-mata mengutamakan kepentingan individu. Dua hal ini berkelindan menyebabkan kehidupan ibarat pertarungan yang tidak seimbang. Individu yang kuat (memiliki modal besar) mampu mengubah tatanan alam sesuai keinginan. Termasuk membeli, mengolah lahan, tanpa memperhatikan efek yang ditimbulkan. 

Jargon demokrasi yang diemban kapitalisme yaitu dari rakyat untuk rakyat dan oleh rakyat, realitasnya lebih mengakomodir kepentingan pemilik modal. Sangat ironis, pertimbangan pembuatan kebijakan dan pelaksanaannya akhirnya banyak ditentukan kepentingan para kapitalis pemilik modal. Maka wajar jika banyak terjadi kerusakan alam dan efeknya menyebabkan bencana. 

Ketika bencana terjadi, tidak akan memandang akan menimpa siapa. Dan rakyat kebanyakanlah yang banyak  menjadi korban. Benarlah firman Allah Swt.: "Takutlah pada musibah yang tidak hanya menimpa orang zalim di antara kalian saja. Ketahuilah bahwa Allah memiliki hukuman yang pedih.” (QS. al-Anfal: 25) 

Dengan demikian, sikap saling mengingatkan satu sama lain, antar anggota masyarakat harus lebih digalakkan. Mengingatkan untuk melakukan kebaikan dan menjauhi kemaksiatan. Karena masyarakat diibaratkan oleh Nabi saw. seperti tinggal di dalam satu kapal, seperti dalam sabdanya: “Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal. Nantinya ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andaikata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.” Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.” (HR. Bukhari no. 2493)

Di sisi lain, penerapan sistem Islam mendesak dibutuhkan, sebagai pengganti sistem kapitalisme yang nyata-nyata banyak menimbulkan kemudaratan bagi manusia dan alam.  Sistem Islam berasal dari Pencipta manusia, menjamin terpeliharanya manusia dan alam jika ia ditegakkan. Dalam penegakan sistem Islam dibutuhkan kepemimpinan Islam. Salah satu prinsipnya, pemimpin dalam Islam laksana junnah (perisai), yang masyarakat akan berlindung kepadanya dari keburukan, kezaliman, dan kemudaratan. Sebagaimana hadis Nabi saw.: "Al imam (kepala negara) adalah perisai, yang masyarakat akan berlindung di belakangnya".

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top