Oleh Rifka Nurbaeti, S.Pd


Disitir dari wafa.ps (14/4/2021), polisi Israel menutup pengeras suara masjid ketika sekitar 10.000 warga Palestina yang telah divaksinasi penuh melakukan salat pada hari pertama bulan puasa Ramadan. Polisi Israel mendobrak menara Al-Magharba dan Al-Asbat, memutus kabel listrik ke pengeras suara, melepas pintu menara Bab al-Asbat, menyerbu ruang loteng, dan menggeledahnya. Mereka juga mencegah distribusi makanan iftar (buka puasa) kepada jemaah di dekat Bab al-Asbat, dan menyerang jemaah yang meninggalkan masjid setelah salat tarawih. Juru Bicara Kepresidenan, Nabil Abu Rudeineh, mengecam tindakan polisi Israel ini sebagai kejahatan rasial, “Ini serangan rasisme terhadap kesucian tempat-tempat suci dan kebebasan beribadah, serta pelanggaran berat terhadap konvensi hak asasi manusia internasional yang dilakukan oleh polisi Israel,” ungkapnya.  

Ia meminta komunitas internasional untuk mengambil tindakan serius untuk mengendalikan agresi Israel yang sedang berlangsung di tempat-tempat suci Islam dan Kristen di Yerusalem. Pada hari yang lain, pejabat Hamas menyatakan tindakan vandalisme Israel, serta pembatasan dan pengejaran jemaah Palestina ini akan menghasilkan pemberontakan besar-besaran terhadap penjajah dan rencana rasialnya yang menargetkan Masjidilaqsa. Hamas telah meminta rakyat Palestina untuk berbaris menuju Masjidilaqsa dan tinggal di alun-alunnya selama Ramadan, melindungi Masjidilaqsa dari agresi Israel yang sedang berlangsung, dan menghadapi vandalismenya. (middleeastmonitor.com, 17/4/2021).  

Tindakan Israel adalah bukti yang ke sekian kalinya bertindak arogan di Masjidilaqsa dan Palestina. Arogansi Israel tentunya kejahatan besar yang tidak bisa ditolerir lagi oleh dunia Internasional. Harapan umat Islam pada rezim penguasa yang mengontrol kaum muslim dan tentara, agar rezim ini menggerakkan tentara umat untuk memerangi entitas penjahat ini. Melenyapkannya dari peta dunia, kemudian mengembalikan seluruh Palestina ke pangkuan Islam dan kaum muslim. Kecewa dengan sikap rezim-rezim muslim yang telah meninggalkan tugas mereka, serta melupakan kewajibannya untuk membebaskan Palestina dengan cara menggerakkan tentara. Mereka justru meminta bantuan masyarakat internasional, terutama Komite Quartet, PBB, dan UNESCO agar mereka yang memikul tanggung jawab menjaga Al-Quds dan Masjidilaqsa. Sungguh, dengan semua ini, mereka mengumumkan sejatinya berlepas diri dari kewajibannya atas seluruh Palestina.

Solusi hakiki untuk masalah Palestina haruslah bersandar pada syariat. Masalah Palestina adalah masalah Islam dan seluruh kaum muslim. Pasalnya, Tanah Palestina adalah tanah kharajiyah milik kaum muslim di seluruh dunia. Statusnya tetap seperti itu sampai Hari Kiamat. Tidak ada seorang pun yang berhak menyerahkan tanah kharajiyah kepada pihak lain, apalagi kepada perampok dan penjajah seperti Israel. Sikap semestinya haruslah seperti yang ditunjukkan oleh Sultan Abdul Hamid II yang menolak sama sekali segala bentuk penyerahan Tanah Palestina kepada kaum kafir meskipun hanya sejengkal.

Karena itu sikap seharusnya terhadap Israel yang telah merampas Tanah Palestina adalah sebagaimana yang telah Allah Swt. perintahkan, yakni perangi dan usir! Demikian sebagaimana firman-Nya,

قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ

"Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian, menghinakan mereka serta akan menolong kalian atas mereka sekaligus melegakan hati kaum Mukmin." (QS. at-Taubah [9]: 14)

Allah Swt. juga berfirman:

وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ

"Usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian." (QS. al-Baqarah [2]: 191)

Berdasarkan ayat di atas, Israel harus diperangi dan diusir dari Tanah Palestina. Dengan kata lain jihad fi sabilillah terhadap Israel wajib dilancarkan. Apakah hal itu bisa dilakukan saat ini oleh para rezim di Dunia Islam? Tentu saja bisa jika mereka mau. Namun, rasa-rasanya sangat kecil kemungkinannya bahkan mustahil hal itu mereka lakukan. Pasalnya, tidak satu pun rezim di negeri-negeri Islam saat ini yang menjadikan akidah dan syariat Islam sebagai asas dan standar dalam bernegara, termasuk dalam politik luar negeri mereka dengan mengadopsi jihad fi sabilillah. Padahal jihadlah cara satu-satunya untuk mengusir siapapun yang telah merampas tanah milik kaum muslim, termasuk Israel yang telah merampas Tanah Palestina.

Karena itu penyelesaian tuntas masalah Palestina tidak lain adalah dengan mewujudkan kekuasaan Islam yang berlandaskan akidah dan syariat Islam. Itulah Khilafah Islam yang mengikuti manhaj kenabian. Khilafahlah, sebagai satu-satunya pelindung umat yang hakiki, yang bakal melancarkan jihad terhadap siapa saja yang memusuhi Islam dan kaum muslim. Tentu dengan kekuatan jihad pula khilafah akan sanggup mengusir Israel dari Tanah Palestina.


Wallaahu'alam bishshawaab

 
Top