Wajibnya Aktivitas Perubahan untuk Khilafah


Oleh Mita Nur Annisa

(Pemerhati Sosial)


Hukum berjuang menegakkan khilafah adalah fardu kifayah. Namun mengingat belum terealisasikan, maka dosanya akan ditanggung oleh umat Islam secara keseluruhan. Sebab kewajibannya diperluas hingga mencakup seluruh umat muslim. Artinya, setiap hukum fardu kifayah berlaku seperti itu.

Menurut Al-Imam Abu Ishaq Asy-Syirazi Asy-Syafi’i (W. 476 H)

ﺑﺎﺏ ﺃﺩﺏ اﻟﺴﻠﻄﺎﻥ

اﻹﻣﺎﻣﺔ ﻓﺮﺽ ﻋﻠﻰ اﻟﻜﻔﺎﻳﺔ ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻣﻦ ﻳﺼﻠﺢ اﻻ ﻭاﺣﺪ ﺗﻌﻴﻦ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻳﻠﺰﻣﻪ ﻃﻠﺒﻬﺎ ﻭﺇﻥ اﻣﺘﻨﻊ ﺃﺟﺒﺮ ﻋﻠﻴﻬﺎ

“Imamah/khilafah hukumnya adalah fardu kifayah. Apabila tidak ada yang layak (untuk menjadi imam/khalifah) kecuali hanya satu orang saja, maka hukumnya menjadi fardu ‘ain bagi orang tersebut, dan wajib atas dirinya untuk memintanya (menjadi imam/khalifah). Apabila dia tidak mau, maka harus dipaksa (agar mau).”

Asy-Syirazi, Ibrahim bin ‘Ali bin Yusuf. 1983. Kitab At-Tanbîh fî Al-Fiqh Asy-Syâfi’î. (Beirut: ‘Alam al-Kutub). hlm. 248

• Hukum mewujudkan imam/khalifah adalah fardu kifayah, artinya apabila tidak/belum terealisasi, maka dosanya ditanggung oleh umat Islam secara keseluruhan.

• Apabila tidak ada yang layak (untuk menjadi imam/khalifah) kecuali hanya satu orang saja, maka hukumnya menjadi fardu ‘ain bagi orang tersebut. Sedangkan bagi umat Islam yang lain tetap sebagai fardu kifayah.

• Apabila sudah terwujud seorang imam/khalifah yang layak, berikut wilayah kekuasaan yang menerapkan Islam dan jaminan keamanannya di tangan umat Islam, maka gugur kewajiban tersebut dari umat Islam. Ditambahkan dua hal tersebut sebab institusi khilafah yang menjadi wadah kepemimpinan khalifah sudah tidak ada sejak 1342H.

• Oleh karenanya wajib bagi umat Islam mencari jalan agar dapat merealisasikan keduanya, yaitu adanya khalifah sekaligus institusinya, khilafah. Dan dengan jalan yang syar’i tentunya.

Seperti dalil atas kewajiban memperjuangkan tegaknya khilafah adalah dalil yang qath’iy tsubut (sumbernya pasti) dan qath’iy dilalah (maknanya pasti). Sehingga mengingkari kewajiban ini bisa menjadikannya kafir. Sementara orang yang mengakuinya, namun ia abai dan lengah dalam memperjuangkannya, maka ia bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalil dalam hal ini adalah nash-nash yang memerintahkan agar terikat dengan syariat Islam dan berhukum dengannya, serta melarang berhukum pada yang selainnya. Seperti firman Allah Swt.:

Dan firman-Nya:

﴿اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلاَ تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ﴾

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.” (TQS. al-A’rāf [7] : 3).

Dan firman-Nya:

﴿يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ﴾

“Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu.” (TQS. an-Nisā’ [4] : 60).

Dan firman-Nya:

﴿فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ﴾

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan.” (TQS. an-Nisā’ [4] : 65).

Dan masih banyak lagi nash-nash syara’ terkait hal ini. Di mana dengan tidak adanya negara Islam, sebagian besar hukum-hukum (syariat) Islam diabaikan dan disia-siakan dengan malah mengambil hukum-hukum yang lahir dari pemikiran manusia. Sehingga yang tercipta sebuah tindakan/kebijakan yang memberikan kemudaratan bagi umat. Dengan begitu  kita sebagai umat Islam bertanggung jawab atas semua kezaliman ini. 

Adapun berjuang menegakkan khilafah sesegera mungkin, maka ini dalilnya juga qath’iy tsubut (sumbernya pasti) dan qath’iy dilalah (maknanya pasti).

Karena hukum-hukum syariat yang diwahyukan oleh Allah Swt. itu menuntut untuk diterapkannya sejak hukum-hukum itu disampaikannya. Ketika turun hukum tentang perubahan kiblat, dari Baital Maqdis ke Masjidil Haram, maka mereka yang sedang dalam salat segera mengubah posisi ke arah Masjidil Haram setelah perintah itu sampai pada mereka, dan mereka tetap dalam kondisi salat. Jadi, hukum asal penerapan hukum adalah bersegera, dan bukan longgar (menunda), kecuali jika ada dalil yang menunjukkan hal itu. Allah Swt. berfirman:

﴿يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ﴾

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu.” (TQS. an-Nisā’ [4] : 1). Dan firman-Nya:

﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ﴾

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka.” (TQS. al-Hujurāt [49] : 11).

Rasulullah saw. bersabda:

«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ»

“Siapa saja yang melihat kemungkaran, maka ubahlah kemungkaran itu dengan tangannya.” (HR. Muslim).

Semua yang tersebut di atas menuntut dengan segera. Begitu juga nash-nash yang terkait dengan tugas negara, seperti menegakkan hudūd (sanksi atau hukumam yang telah ditetapkan oleh syariat), memutus perkara di antara manusia (rakyat), serta mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad, juga menjaga perbatasan, dan menerapkan hukum-hukum syariat terhadap rakyat, maka semua itu dituntut untuk segera dilakukan. Termasuk bahwa kaum muslim tidak boleh tinggal lebih dari tiga hari tanpa seorang khalifah yang menerapkan syariat. Sementara Rasulullah saw. bersabda:

«وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً»

“Siapa saja yang meninggal sedang di pundaknya belum ada baiat, maka ia mati dalam keadaan jahiliah (berdosa).” (HR. Muslim).

Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi mereka yang mengatakan, misalnya: “Saya akan berjuang menegakkan negara Islam, namun tidak sekarang, tetapi setelah saya lulus dari universitas”, atau mengatakan: “Setelah menyelesaikan proyek yang sedang saya jalankan”, atau yang serupa dengan itu. Karena berjuang ketika mampu itu wajib segera, sedang meninggalkannya adalah kemaksiatan.

Sedangkan aktivitas paling penting dalam perjuangan menegakkan khilafah adalah menjelaskan konsep khilafah ini kepada kaum muslim, dan memahamkan mereka kepadanya, sampai ia menjadi aksioma pengetahuan agama yang lazim. Pada saat menjelaskan konsep khilafah kepada kaum muslim serta memahamkan mereka kepadanya, maka bersamaan dengan itu juga harus jiwa mereka diisi dengan perasaan Islam yang mendorongnya untuk beramal, sabar, serta rela berkorban untuk terus berjuang demi menegakkannya.

﴿وَقُلْ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ﴾

“Dan Katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu’.” (TQS. at-Taubah [9] : 105).

Wallahu a'lam bishshawab.