Umat Islam adalah Umat Terbaik, Bagaimanakah Mewujudkannya?

 




Oleh Tri S, S.Si


“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf  dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron [3]: 110)

Ayat di atas patutnya menjadikan umat Islam bangga dengan keislamannya. Allah telah memberikan label kepada umat Islam sebagai umat terbaik. Namun sungguh disayangkan karena seolah fakta umat terbaik belum benar-benar kita rasakan. Tak bisa dielakkan lagi, hari ini masih kita saksikan banyak manusia menjadikan materi adalah segalanya. Memunculkan kerakusan dan penghalalan apapun demi materi atau hawa nafsu. Hilangnya rasa aman dan jaminan keamanan yang menyebabkan ketakutan, hilangnya keadilan yang disebabkan penindasan dan ketidakadilan, pengerukan sumber daya alam oleh asing dan korporasi, kesenjangan ekonomi, hilangnya sikap dan moral yang terpuji yang menyebabkan kejahatan dan sikap yang tercela, sekularisme yang semakin menyebar, bahkan terabaikannya sebagian syariat Islam utamanya dalam ranah publik.

Tentunya realitas ini menjadikan kita sebagai  umat Islam harus merenungkan. Apa yang sebenarnya menjadi sebab hari ini gambaran umat terbaik itu belum terwujud? Ternyata ada dua hal yang harusnya kita wujudkan agar gambaran umat terbaik itu akan mampu terwujud dalam diri umat Islam.

1. Menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar (dakwah)

Dalam firman Allah Swt. dalam Surah an-Nahl ayat 125 yang artinya:

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk."

Selain itu hal senada juga terdapat dalam firman Allah Swt. dalam Surah Ali Imron ayat 104: 

"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."

2. Beriman kepada Allah Swt

Beriman kepada Allah bukan hanya sesuatu yang hanya diucapkan dengan lisan tapi juga harus diwujudkan dalam amal perbuatan. Konsekuensi beriman kepada Allah adalah menjalankan setiap syariat Islam dalam kehidupan. Sedangkan penerapan syari'at Islam secara sempurna tidak akan mungkin terwujud tanpa adanya khilafah Islam. Sehingga berupaya menerapkan Islam secara menyeluruh dalam bingkai khilafah adalah bagian dari konsekuensi keimanan. 

Sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, “Para ulama telah sepakat bahwa wajib mengangkat seorang khalifah dan bahwa kewajiban itu adalah berdasarkan syariat, bukan berdasarkan akal.” (Ibn Hajar, Fath al-Bâri, Juz XII/205)

Hari ini kita justru menyaksikan bagaimana umat Islam berada pada sebuah sistem yang banyak memfasilitasi kemungkaran dan abai pada kebaikan Islam yaitu sistem kapitalisme. Sistem yang bersumber dari pemisahan antara agama dan kehidupan (sekulerisme), dimana manfaat atau materi adalah orientasi kehidupan. Menjadikan terpenuhinya hawa nafsu sebagai sumber kebahagiaan. Sudah sepatutnya kita sebagai umat Islam mendakwahkan Islam secara keseluruhan tanpa pilih-pilih dan berupaya mewujudkannya dalam kehidupan. Agar gambaran sebagai umat terbaik akan benar-benar kita rasakan. Sehingga Islam menjadi rahmat bagi semesta alam.

Wallaahu a’lam bish-shawaab