Trik agar Terhindar Stres bagi Wanita Pekerja


Oleh Umi Rizkyi

(Komunitas Menulis Setajam Pena)


Wanita cenderung menjadi seorang pemikir yang bertanggung jawab. Ketika rumah tangga dihantam badai ekonomi, wanitalah yang tampil di garda paling depan sebagai penyelamat. Tangan yang seharusnya nampak lembut terpaksa bekerja keras membanting tulang. Hal ini bukan salah atau haram menurut Islam. Namun harus diwaspadai ada 'pembunuh diam' yang siaga membunuh kewarasan wanita pekerja.

Hendaknya, sebelum memilih dan menentukan untuk menjadi wanita pekerja untuk membantu suami dalam memenuhi kebutuhan ekonomi haruslah paham akan risikonya. Pertama, secara tidak langsung wanita pekerja bebannya akan bertambah. Baik beban pikirannya maupun beban fisiknya.

Kedua, wanita pekerja harus siap mendapat tekanan. Baik tekanan batin yang dalam dirinya sendiri atau tekanan dari luar (bosnya, relasi, pelanggan), perasaan melakukan tugasnya, merasa lebih sensitif dan marah ketika ada sesuatu masalah. Lelah fisik dan psikis. Rentan mengalami depresi dan gangguan kecemasan. Terasa lelah dan letih menjalankan dua peran sekaligus yaitu sebagai pengatur rumah tangga dan pekerja.

Agar tidak depresi dan mengalami gangguan kecemasan yang berlebihan berikut trik-triknya. Pertama, selektif memilih pekerjaan. Seorang wanita pekerja, haruslah memilih pekerjaan sesuai kemampuannya. Jangan merasa tidak enak dan sebagainya. Jangan pula memaksakan diri bertanggung jawab atas pekerjaan yang bukan tanggung jawabnya. Harus berani menolak suatu pekerjaan/amanah lain selain yang berkaitan dengan jobnya sendiri. Hendaknya memprioritaskan pekerjaan mana yang harus diselesaikan. Tinggalkan pekerjaan di luar pekerjaan pokok.

Kedua, mengamanahkan pekerjaan kita kepada orang lain. Sesuatu yang mustahil bagi seorang wanita berperan ganda dengan sempurna. Jangan ada keraguan untuk berbagi dengan orang lain. Dengan cara mengamanahkan pekerjaan kita kepada karyawan/mitra kita. Jangan merasa semua harus dipegang dan diatasi sendiri. Misal, untuk mengurus rumah bisa membayar orang lain untuk membereskannya. Jika tidak mampu membayar pembantu rumah tangga, bisa menyerahkan pekerjaan pada jasa pelayanan. Memasak bisa beli di warung. Mencuci dan menyetrika bisa ke laundry dan lain-lain.

Ketiga, bekerja sama dengan seluruh anggota keluarga. Sangat penting sebuah keluarga menjadi tim yang solid untuk saling bekerja sama. Jangan berperan sebagai supermom, libatkan anak-anak untuk melakukan pekerjaan rumah. Secara tidak langsung kita juga mendidik anak untuk mandiri. Juga menumbuhkan rasa empati dan perhatian kepada anggota keluarga untuk saling membantu. Begitu juga dengan suami, kita juga bisa berbagi dengannya untuk melakukan pekerjaan yang bisa dilakukan bersama. Jangan memendam dan menyembunyikan rasa lelah sendiri.

Keempat, istirahat yang cukup dan santai. Janganlah selalu serius dalam pekerjaan. Tetap santai, jangan terbebani seakan-akan dikejar-kejar target. Kalau badan terasa lelah, istirahatlah. Jangan terlalu memprosir badan kita. Bisa juga menyalurkan hobi (menulis, memasak, membaca dan lain-lain). Lebih bagus dan lebih tepat lagi hendaknya kita berbagi dengan suami kita dengan penuh keakraban.

Kelima, realistis dan fleksibel. Jangan terlalu keras dan kejam terhadap diri sendiri dengan cita-cita yang tinggi. Sesuaikan dengan kapasitas diri. Aturlah fleksibelitas dalam urusan pekerjaan dan rumah tangga. Jangan terlalu disiplin terhadap diri sendiri. Jika ada hambatan dan kendala, hendaknya kita menyiapkan plan 1, plan 2, plan 3 dan seterusnya. Agar terhindar dari stres, jika yang terbaik tidak mampu diraih.

Demikianlah trik-trik bagi wanita pekerja agar tetap menjaga kewarasan dirinya. Jika seorang wanita terpaksa bekerja karena tuntutan ekonomi. Baik fisik ataupun psikis. Semoga pekerjaannya sebagai pemberat amal salehnya, tabungan pahala di sisi Allah, semakin berkah kerena telah ikut andil dalam menyelamatkan ekonomi rumah tangga.