Oleh Purnama Sari 

Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah


Pada Selasa, 2 Maret 2021, akhirnya Bapak Presiden Indonesia mencabut lampiran Perpes No. 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal. Dikarenakan begitu banyak kontroversi di tengah masyarakat, sebab Perpres mengatur pembukaan investasi baru industri miras yang mengandung alkohol.


Akan tetapi itu artinya yang dicabut bukan Perpres-nya, melainkan hanya lampirannya saja. Itu pun hanya lampiran di bidang usaha. Adapun lampiran bidang usaha tentang perdagangan eceran minuman keras atau beralkohol dan tentang perdagangan eceran kaki lima minuman keras atau beralkohol itu tidak dicabut. 


Melalui Perpres 74/2013-lah yang selama ini mengatur peredaran miras, tentang pengendalian dan pengawasan minuman beralkohol. Begitupun Permendag No. 20/M-DAG/PER/4/2014 tentang pengendalian dan pengawasan terhadap pengadaan, peredaran dan penjualan minuman beralkohol.


Bukan berarti pencabutan lampiran tentang investasi baru miras akan menjadikan industri minuman haram ini menjadi tidak ada. Hanya investasi (industri) yang baru saja yang tidak ada. Industri miras yang sudah ada tetap berjalan. Para pedagang eceran juga yang beroperasi di skala kaki lima tetaplah beroperasi sesuai dengan peraturan yang telah berlaku.  Hal demikian terjadi karena industri dan perdagangan miras diklaim memberikan manfaat secara ekonomi, yakni berupa pendapatan negara.


Jika pendapatan ekonomi sebagai bagian dari manfaat ingin ditingkatkan, maka tentu produksi dan konsumsi miras wajib dinaikkan. Masalahnya, peningkatan produksi dan konsumsi miras akan meningkatkan kerugian akibat konsumsi miras dalam berbagai macam bentuknya. 


Miras Berbahaya dan Merugikan


Laporan terbaru WHO, sebanyak 3 juta orang di dunia meninggal akibat konsumsi alkohol pada 2016 lalu.


Salah seorang peneliti yaitu Max Griswold peneliti dari Institute for Health Metrics and Evaluation, menjelaskan bahwa konsumsi alkohol secara terus menerus berdampak pada kesehatan yang buruk dan juga jika alkohol dikonsumsi sekali dalam sehari, risiko kanker, diabetes dan tuberkulosis akan meningkat. Itu berlaku di seluruh dunia.


Banyak faktanya di negeri ini yang menegaskan konsumsi miras begitu erat dengan maraknya kasus kejahatan. 


Khamr (Miras) Induk Kejahatan


Miras itu sangat banyak mendatangkan kemadaratan (kebahayaan). Sudah dari jauh-jauh hari Islam memperingatkannya. Dalam tafsir Al-Qur’an diungkapkan bahwa tidak pernah disebutkan sebab keharaman sesuatu melainkan hanya dengan singkat saja. Namun, pengharaman miras disebut secara terang-terangan dan demikian rinci. Allah Swt menyebut khamr (dan judi) mengakibatkan munculnya permusuhan dan kebencian di antara orang beriman, memalingkan Mukmin dari mengingat Allah, melalaikan shalat. Khamr bersamaan dengan judi pun Allah kategorikan sebagai sesuatu yang kotor, perilaku setan, dan sebagainya. Semua ini  mengisyaratkan dampak buruk miras.


Miras bukan hanya merusak bagi yang meminumnya saja. Tapi miras juga dapat menciptakan kerusakan bagi orang lain. Mereka yang sudah tertutup akalnya oleh miras bisa  melakukan beragam kejahatan, bermusuhan dengan saudaranya, mencuri, merampok, membunuh, memerkosa dan melakukan kejahatan lainnya. Pantas jika Nabi saw. menyebut khamr sebagai induk dari segala kejahatan.


Allah berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Maidah ayat 90 bahwa segala sesuatu terkait khamr (miras) adalah haram.


Segala sesuatu yang berhubungan dengan khamr (miras), seperti pabrik, produsen, distributor, penjual hingga peminum, Islam juga melarang total semua itu.


Sebagaimana sabda Nabi saw. bahwa Beliau saw. telah melaknat terkait khamr sepuluh golongan: 

1. pemerasnya; 

2. yang minta diperaskan; 

3. peminumnya; 

4. pengantarnya, 

5. yang minta diantarkan khamr; 

6. penuangnya; 

7. penjualnya; 

8. yang menikmati harganya;

 9. pembelinya; dan

10. yang minta dibelikan. (H.R. at-Tirmidzi)


Terkait hukuman bagi para peminum khamr, syariat telah menetapkan sanksinya dengan tegas. Dimana kadar dan bentuknya diserahkan pada ijtihad pemimpin pemerintahan tertinggi (khalifah) atau hakim (qadhi). Tentu sanksi itu harus memberikan efek jera. Bagi produsen juga distributor tentu sudah semestinya diganjar hukuman yang lebih berat dibanding peminum khamr. Sebab, bahaya yang ditimbulkan oleh mereka kepada masyarakat akan lebih besar dan lebih luas lagi.


Karena sudah jelas bahwa miras itu haram dan harus dilarang secara total. Dan hal itu hanya bisa terealisasi jika syariat Islam diterapkan secara kaffah. 


Akibat Sekularisme


Faktanya yang terjadi sekarang miras tetap diizinkan beredar meski dengan embel-embel dibatasi dan diawasi, itu akibat sistem yang berakar pada sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan). Pasalnya, dalam sistem sekuler, aturan agama dicampakkan. Pembuatan aturan diserahkan kepada manusia melalui mekanisme demokrasi. Demokrasi erat dengan kapitalisme. Kapitalisme berprinsip bahwa manfaat dan keuntungan materi adalah segalanya, khususnya di bidang ekonomi.


Masyarakat akan terus terancam dengan miras dan segala madaratnya, apabila sistem sekuler tetap ada dan diterapkan, sementara syariat Islam dicampakkan. Oleh karena itu sudah saatnya kaum muslim segera meninggalkan sistem sekuler yang diterapkan saat ini, seraya segera menerapkan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh). 


WalLâh a’lam bi ash-shawâb.

 
Top