Solusi Islam Mengatasi Kemiskinan Akibat Pandemi

 


Oleh Fitri

(Penggiat literasi peradaban)

Dampak pandemi Covid-19 pada awal tahun 2019 menyebabkan tersendatnya aktivitas ekonomi hingga saat ini. Hal ini terjadi seiring dengan banyaknya penutupan usaha yang berujung pada pemutusan hubungan kerja. Sehingga Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menargetkan turunnya angka kemiskinan di akhir 2021 hingga ke level 9,2 persen.

Dikutip dalam laman yang sama, langkah pertama yang dilakukan menurut Maliki selaku Direktur Penanggulangan Kemiskinan dan Kesejahteraan Sosial Bappenas adalah memulihkan kemampuan ekonomi masyarakat miskin rentan dengan bantuan sosial hingga enam bulan ke depan. Menurutnya hal tersebut efektif membantu meringankan beban pengeluaran masyarakat miskin. Selain itu, ada program pemulihan ekonomi untuk pelaku UMKM. Menurutnya dengan kombinasi tersebut, beliau meyakini perekonomian tak hanya pulih tetapi juga akan loncat membaik dengan Target Rencana Pembangunan Menengah Nasional (RPJMN) yang dapat dikejar (tempo.co, 22/02/2021).

Jelasnya di awal tahun ini pemerintah harus melakukan pemutakhiran data orang miskin (data terpadu kesejahteraan sosial/DTKS) secara menyeluruh. Strategi tersebut untuk meningkatkan akurasi penerima bansos. Data terbaru mengenai angka kemiskinan yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik tahun 2020 yang menyatakan bahwa angka kemiskinan meningkat. Berbeda dengan lima tahun kebelakang yang mengalami penurunan yaitu tahun 2018. Hal ini disebabkan pemerintah Indonesia menggunakan persyaratan yang tidak ketat dalam menetapkan garis kemiskinan. Sehingga yang tampak adalah gambaran yang lebih positif dari kenyataannya.

Diketahui penetapan garis kemiskinann nasional pada periode Maret 2020 oleh BPS adalah Rp 454.652,- per kapita per bulan yang dengan demikian berarti standar hidup yang sangat rendah bagi pengertian orang Indonesia sendiri. Selain itu penetapan garis kemiskinan dengan pendapatan per bulannya (per kapita) yang rendah menyebabkan nilai dan persentase akan terlihat tidak akurat karena nilainya seperti diturunkan beberapa persen.

Menurut Bank Dunia tahun 2005, jika kita menghitung angka penduduk Indonesia yang hidup dengan penghasilan kurang dari USD $2 per hari, maka angkanya akan meningkat lebih tajam menjadi sekitar 40 persen. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia hidup hampir di bawah garis kemiskinan.

Oleh sebab itu, dikarenakan kemiskinan merupakan masalah utama kemanusiaan. Dimana tidak hanya berbicara mengenai dapat atau tidak dapatnya seseorang mampu membeli barang dan jasa. Namun juga akan berdampak pada aspek-aspek social-deprivation lainnya seperti sosial, pendidikan, kesehatan, politik, akses terhadap sumber daya, dan hak-hak asasi lainnya.

Sehingga dalam menghadapi fenomena kemiskinan yang merupakan masalah besar dan selalu ada pada setiap masa, Rasulullah SAW-pun pernah berdoa memohon perlindungan kepada Allah SWT dari semua hal yang dapat melemahkan baik secara materi maupun secara maknawi, baik kelemahan karena kemiskinan, tidak memiliki harga diri maupun karena nafsu yang menghinakan. Hal tersebut termaktub dalam sebuah Hadis berikut,“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kekayaan dan juga berlindung kepada-Mu atas fitnah kemiskinan.” (HR. Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah). Dengan demikian masalah yang menjadi penyebab lahirnya kemiskinan harus diketahui secara pasti supaya dapat disentuh dan diselesaikan.

Allah Swt. sesungguhnya telah menciptakan manusia, sekaligus menyediakan sarana-sarana untuk memenuhi kebutuhannya. Bahkan, tidak hanya manusia; seluruh makhluk yang telah, sedang, dan akan diciptakan, pasti Allah menyediakan rezeki baginya. Tidaklah mungkin, Allah menciptakan berbagai makhluk, lalu membiarkan begitu saja tanpa menyediakan rezeki bagi mereka. Allah Swt. berfirman:

[اللهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ]

“Allahlah yang menciptakan kamu, kemudian memberikan rezeki” (QS ar-Ruum [30]: 40).

[وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي اْلأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللهِ رِزْقُهَا]

“Tidak ada satu binatang melata pun di bumi, selain Allah yang memberi rezekinya” (QS Hud [11]: 6).

Jika demikian halnya, mengapa terjadi kemiskinan? Seolah-olah kekayaan alam yang ada, tidak mencukupi kebutuhan manusia yang populasinya terus bertambah?

Dalam pandangan ekonomi kapitalis, problem ekonomi disebabkan oleh adanya kelangkaan barang dan jasa, sementara populasi dan kebutuhan manusia terus bertambah. Akibatnya, sebagian orang terpaksa tidak mendapat bagian, sehingga terjadilah kemiskinan. Pandangan ini jelas keliru, batil, dan bertentangan dengan fakta.

Secara i’tiqadi, jumlah kekayaan alam yang disediakan oleh Allah Swt. untuk manusia pasti mencukupi. Meskipun demikian, apabila kekayaan alam ini tidak dikelola dengan benar, tentu akan terjadi ketimpangan dalam distribusinya. Jadi, faktor utama penyebab kemiskinan adalah buruknya distribusi kekayaan. Di sinilah pentingnya keberadaan sebuah sistem hidup yang sahih dan keberadaan negara yang menjalankan sistem tersebut.

Islam adalah sistem hidup yang sahih. Islam memiliki cara yang khas dalam menyelesaikan masalah kemiskinan. Syariat Islam memiliki banyak hukum yang berkaitan dengan pemecahan masalah kemiskinan; baik kemiskinan alamiah, kultural, maupun struktural. Namun, hukum-hukum itu tidak berdiri sendiri, tetapi memiliki hubungan sinergis dengan hukum-hukum lainnya. Jadi, dalam menyelesaikan setiap masalah, termasuk kemiskinan, Islam menggunakan pendekatan yang bersifat terpadu.

Bagaimana Islam mengatasi kemiskinan, dapat dijelaskan sebagai berikut :

Pertama, Ada jaminan pemenuhan kebutuhan primer oleh negara.

Islam telah menetapkan kebutuhan primer manusia terdiri atas pangan, sandang, dan papan. Terpenuhi-tidaknya ketiga kebutuhan tersebut, selanjutnya menjadi penentu miskin-tidaknya seseorang. Sebagai kebutuhan primer, tentu pemenuhannya atas setiap individu, tidak dapat ditawar-tawar lagi. Oleh karena itu, Islam memberikan jaminan atas pemenuhan kebutuhan ini.

Adanya jaminan pemenuhan kebutuhan primer bagi setiap individu, tidak berarti negara akan membagi-bagikan makanan, pakaian, dan perumahan kepada siapa saja, setiap saat, sehingga terbayang rakyat bisa bermalas-malasan karena kebutuhannya sudah dipenuhi. Ini anggapan yang keliru. Jaminan pemenuhan kebutuhan primer dalam Islam diwujudkan dalam bentuk pengaturan mekanisme-mekanisme yang dapat menyelesaikan masalah kemiskinan.

Kedua, Adanya pengaturan kepemilikan.

Pengaturan kepemilikan memiliki hubungan yang sangat erat dengan masalah kemiskinan dan upaya untuk mengatasinya. Syariat Islam telah mengatur masalah kepemilikan ini sedemikian rupa sehingga dapat mencegah munculnya masalah kemiskinan. Bahkan, pengaturan kepemilikan dalam Islam, memungkinkan masalah kemiskinan dapat diatasi dengan sangat mudah.

Pengaturan kepemilikan yang dimaksud mencakup tiga aspek, yaitu jenis-jenis kepemilikan, pengelolaan kepemilikan, dan pendistribusian kekayaan di tengah-tengah masyarakat.

Khatimah

Solusi yang ditawarkan Islam dalam mengatasi kemiskinan, bukanlah sesuatu yang menarik sebatas dalam tataran konsep semata. Karena Islam bukanlah agama ritual semata, melainkan sebuah ideologi. Sebagai sebuah ideologi yang sahih, tentu Islam memiliki cara-cara yang lengkap untuk mengatasi berbagai problem manusia, termasuk problem kemiskinan. Dari pembahasan ini, tampak bagaimana keandalan Islam dalam mengatasi problem kemiskinan. Apabila saat ini kita menyaksikan banyak kemiskinan yang justru melanda umat Islam, hal itu disebabkan mereka tidak hidup secara Islam. Sistem hidup selain Islamlah (Kapitalisme, Sosialisme/Komunisme) yang mereka terapkan saat ini, sehingga meskipun kekayaan alamnya melimpah, tetap saja hidup dalam kemiskinan. Allah Swt. berfirman:

[وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى]

“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS Thahaa [20]: 124).

Perjalanan panjang sejarah kaum muslim, membuktikan bahwa solusi tersebut benar-benar dapat realisasikan. Bukti historis menunjukkan bahwa Islam pernah berhasil mengentaskan kemiskinan dengan zakat sebagai salah satu instrumen pengentasannya, yakni pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (w.101 H/720 M). Dikatakan bahwa sejumlah wilayah kekhalifahan dilaporkan telah mengalami zero-poverty, meskipun masa kekhilafahannya hanya sebentar. Hal tersebut ditandai dengan jumlah pembayar zakat terus meningkat sementara jumlah penerima zakat terus berkurang bahkan habis secara absolut, sehingga negara mengalami surplus. Ketika hal ini terjadi, maka distribusi kekayaan negara selanjutnya diarahkan kepada subsidi pembayaran utang-utang pribadi dan subsidi sosial dalam bentuk pembiayaan kebutuhan dasar yang sebenarnya tidak menjadi tanggungan negara seperti biaya pernikahan.

Dengan asumsi bahwa semua informasi historis tersebut benar adanya, maka urgensi pengkajian pengentasan kemiskinan dengan syariat islam tidak akan pernah kehilangan momentumnya. Yaitu ketika kaum muslim hidup di bawah naungan Negara Khilafah yang menerapkan Islam secara kaffah.

Wallahu a'lam bi-ashawab