Oleh Vina

(Aktivis Mahasiswi)


Islam sebagai agama yang sempurna dengan seperangkat aturan di dalamnya, mampu memberikan kesejahteraan dan rahmat bagi seluruh umat manusia. Karena Islam adalah rahmatan lil'alamiin yaitu rahmat bagi semesta alam. Sehingga keberadaan Islam untuk mengatur kehidupan manusia tak usah diragukan lagi. Kejayaan Khilafah Islamiyah pada masa Rasulullah saw. hingga para sahabat yang telah mampu menguasai hampir 3/4 dunia. Di dalamnya meliputi negeri-negeri berpenduduk muslim maupun nonmuslim. Namun, di bawah naungan Khilafah Islamiyah inilah keadilan, keamanan, persatuan, dan kehidupan yang tenteram dari seluruh umat manusia dapat dirasakan. 

Akan tetapi untuk saat ini, kehidupan yang demikian sudah tidak lagi dirasakan. Kehidupan yang ada justru penuh dengan ketidakteraturan akibat tidak berlakunya aturan haq yang mengatur umat. Aturan yang ada telah disesuaikan dengan kepentingan segelintir manusia bahkan tak jarang sampai mengotak-atik aturan dari Sang Pencipta. Mulai dari politik, ekonomi, kesehatan, bahkan pada aspek mendasar yaitu ranah pendidikan, kebijakannya yang tak berpihak pada Islam sudah banyak dilegalkan. Dengan dalih demi kepentingan rakyat namun bentuk kebijakannya justru sebaliknya, yakni membuat rakyat semakin bingung dengan sistem saat ini.

Kita bisa lihat contohnya pada bidang pendidikan. Pendidikan di Indonesia saat ini, telah banyak menjadi perhatian publik terutama bagi umat Islam. Pendidikan yang seharusnya menjadi wadah pembinaan dan pembentukan generasi yang berkualitas, tetapi sepertinya mustahil dicapai karena usaha rezim saat ini yang seakan menjauhkan dari tujuan pendidikan itu sendiri. Di dalam sistem pendidikan Islam, terdapat tujuan mulia dari pendidikan yaitu mencetak generasi yang tidak hanya faqih ilmu agama atau pengetahuan umum tetapi lebih dari itu, yakni menjadikan generasi muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt. dengan memiliki akhlak yang mulia. Sehingga bentuk pelaksanaan serta kebijakan yang diambil pun akan selaras dengan tujuan tersebut. 

Namun di sistem sekuler kapitalisme sekarang ini, substansi dari pendidikan itu seakan dipudarkan. Yang menjadi tujuan pendidikan hanyalah untuk pemenuhan materi semata dengan menghasilkan lulusan yang mampu bersaing dalam dunia kerja dan bisa menghasilkan uang. Berbagai usaha dilakukan oleh rezim penguasa untuk melanggengkan tujuannya itu salah satunya dengan memoderasi agama. Islam akan dihilangkan dari kehidupan umat dengan cara menjauhkan generasinya untuk tidak mengenal Islam mulai dari bangku sekolah. Mereka ingin generasi Islam meninggalkan identitas keislamannya.

Seperti yang baru-baru ini terjadi mengenai kebijakan SKB 3 menteri yaitu peraturan terkait pemerintah daerah dan sekolah negeri dalam persoalan seragam beratribut agama. Berikut ini 6 poin dari isi SKB 3 Menteri:

1. Keputusan bersama ini mengatur sekolah negeri yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah (pemda). 

2. Peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan berhak memilih antara: 1) Seragam dan atribut tanpa kekhususan agama; 2) Seragam dan atribut dengan kekhususan agama. 

3. Pemda dan sekolah tidak boleh mewajibkan ataupun melarang seragam dan atribut dengan kekhususan agama.

4. Pemda dan kepala sekolah wajib mencabut aturan yang mewajibkan atau melarang seragam dan atribut dengan kekhususan agama paling lama 30 hari kerja sejak keputusan bersama ini ditetapkan.

5. Jika terjadi pelanggaran terhadap keputusan bersama ini, maka sanksi yang akan diberikan kepada pihak yang melanggar

6. Peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan beragama Islam di Provinsi Aceh dikecualikan dari ketentuan keputusan bersama ini sesuai kekhususan Aceh berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan terkait pemerintahan Aceh.

Berkaitan dengan kebijakan tersebut, Ketua MUI Pusat Dr Cholil Nafis memberikan pendapat bahwa SKB 3 Menteri wajib ditinjau ulang atau dicabut karena tak mencerminkan lagi adanya proses pendidikan. Beliau berpendapat, “Kalau pendidikan tak boleh melarang dan tak boleh mewajibkan soal pakaian atribut keagamaan, ini tak lagi mencerminkan pendidikan.” (Hidayatullah.com).

Terlihat jelas bahwa SKB 3 Menteri telah menuai polemik. Aturan yang seakan-akan dibuat untuk memenuhi hak asasi manusia, namun sejatinya memiliki makna berbeda yaitu untuk menyisipkan budaya liberal yang penuh dengan kebebasan. Siswa muslim maupun nonmuslim dibebaskan mengenakan pakaiannya tanpa ada paksaan. Mau menggunakan jilbab atau tidak adalah hak mereka. Tapi di sisi lain, mayoritas penduduk negeri ini adalah beragama Islam sehingga apabila siswi muslim yang tidak ada kesadaran untuk mengenai jilbab akan terbawa arus pada budaya liberal yang menyebabkan mereka tidak lagi mau mengenakan jilbab. Tentu hal semacam ini lambat laun akan mendangkalkan akidah mereka karena generasi muslimah akan terbiasa mengikuti tren Barat. Budaya yang menjadi identitas mereka digantikan pada budaya kufur. Padahal Islam telah mengatur tata cara berbusana seorang muslimah yaitu seperti pada firman Allah Swt. dalam QS. al-Ahzab ayat 59 mengenai kewajiban mengenakan jilbab dan QS. an-Nuur ayat 31 mengenai kewajiban berkerudung di mana pun ketika muslimah keluar rumah. 

Tak hanya soal pakaian seragam, kebijakan aneh lain dalam pendidikan juga terus digulirkan seperti penempatan guru nonmuslim di madrasah, penerapan kurikulum merdeka belajar, pendidikan vokasional, dan terakhir ini kurikulum darurat yang semuanya tidak memperlihatkan wujud keberhasilannya. Berbagai kebijakan yang tidak jelas ini merupakan usaha massif rezim penguasa yang memiliki dukungan dari kafir Barat demi meraup keuntungan sebesar-besarnya dan menjauhkan Islam di dunia pendidikan. Mereka akan takut jika Islam kembali berjaya sehingga mereka menyerang lewat generasi peradabannya. Target mereka adalah menjadikan generasi fobia pada Islam yang berakibat pada lemahnya moral dan akhlak serta menjadikan generasi Islam bodoh agar mudah untuk ditipu.

Oleh karena itu, sudah saatnya kini umat Islam kembali berjuang bersama demi mempersiapkan generasi hebat yang kelak bisa menjadi pemimpin peradaban. Dengan menyelaraskan pendidikan seperti halnya yang dicontohkan pada masa Rasulullah saw. dan para sahabat yaitu menjadikan akidah Islamiyah sebagai dasarnya. Keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia peserta didik menjadi fokus pendidikan. Standar halal dan haram juga akan selalu ditanamkan pada peserta didik. Dengan sistem yang seperti ini, pendidikan Islam akan melahirkan pribadi muslim yang taat kepada Allah. Ajaran Islam bukan sekadar menjadi hafalan tetapi dipelajari untuk diterapkan, serta dijadikan standar dan solusi dalam mengatasi seluruh problematika kehidupan.

Demi terwujudnya sistem pendidikan Islam seperti halnya di atas, tentu tidak bisa jika dilaksanakan secara individu atau kelompok saja melainkan harus adanya peran negara yang mengatur sistem pendidikan Islam. Negara harus menyediakan pendidikan berkualitas secara gratis untuk seluruh rakyat. Daulah Islamiyah wajib menyiapkan sarana dan prasarana pendidikan, mulai dari gedung-gedung sekolah dan kampus, menyiapkan buku pelajaran, laboratorium untuk keperluan pendidikan dan riset, serta memberikan tunjangan penghidupan yang layak bagi para pengajar maupun kepada pelajar. Selain itu, Islam juga mewajibkan orang tua untuk mendidik anak dengan pendidikan Islam. Melalui sistem inilah akan lahir generasi yang bisa menjadi pemimpin umat dengan mewujudkan kebaikan dan perbaikan dalam segala aspek kehidupan.

Dengan Islam yang begitu memperhatikan kesejahteraan umat, akankah kita tidak menginginkannya untuk terwujud kembali? Mari, umat Islam kita berjuang bersama dalam menegakkan kembali aturan Allah Swt. di muka bumi ini.

Wallahu a’lam bishshawab.

 
Top