Remaja Berhias Takwa


Oleh Zahra Andriyani 

(Member Sekolah Srikandi, Alumni SMK Al-Mubarok ~Tangerang)


Problematika publik tengah merasakan riuhnya pembahasan mengenai anak muda zaman sekarang, atau istilahnya zaman now, semua media sosial baik cetak maupun elektronik seperti menertawakan suramnya masa depan mereka.

Melihat hal demikian, rasanya sangat ironis sekali peran pemuda dan pemudi merasa kehilangan sosok karakter yang sebenarnya. Kebobrokan moral yang terus menerus menggerogoti para remaja. Generasi muda menjadi salah, merasa ditelanjangi oleh oknum-oknum yang tak bertanggung jawab. Bukannya malah memotivasi melainkan meracuni para penerus bangsa saat ini. Khususnya para pemuda dan pemudinya.

Sejatinya ini merupakan pengaruh budaya-budaya barat yang sengaja untuk membunuh karakter para pemuda dan remaja Indonesia saat ini. Jadi sangat mungkin untuk menghancurkan pemuda Islam khususnya melalui pemuda dan remajanya. Mereka hanya perlu terus dihasut supaya menyimpang dari aturan Islam yang ada.

Hari demi hari, tahun demi tahun, terus saja terjadi perubahan yang sangat signifikan. Dekadensi moral yang terjadi di kalangan pemuda Islam semakin mengkhawatirkan. Kemurnian ajaran Islam yang dulu sangat disakralkan sekarang terkesan biasa saja. Ini menjadi tugas kita bersama untuk membangun kembali peradaban yang lebih baik, khususnya para pemuda dan remaja Islam untuk menjadi lebih baik. Karena pemuda merupakan aset bangsa kita untuk meneruskan generasi selanjutnya atau yang akan datang. Bagaimana kalau seandainya peradaban saat ini berkaca terhadap zaman now yang menggambarkan tidak senonoh terhadap pemuda dan remaja saat ini. Maka dari itu pemuda dan pemudi harus memiliki kepribadian Islam.

Lalu bagaimana sih caranya agar remaja memiliki kepribadian Islam? Caranya sebagai berikut: 

1. Terus mendalami ilmu Islam

2. Mengaji

3. Menjadi pejuang Islam kafah

4. Istiqomah dalam kebenaran

5. Amar makruf nahi mungkar

Begitulah cara agar remaja memiliki kepribadian Islam. Jika tidak memiliki kepribadian Islam Tidak bisa dibayangkan apabila penerus seperti demikian menjadi penerus bangsa kita. Bisa hancur dunia ini, apabila hal tersebut bisa terjadi kalau tidak sesuai dengan aturan-aturan Islam yang ada.

Coba kita renungkan sejarah abad terdahulu generasi muda Islam yang sangat luar biasa. Supaya menjadi teladan terbaik untuk semua umat Islam khususnya para pemuda dan remaja. Catatan-catatan sejarah, dimana Islam selalu mampu melahirkan generasi-generasi hebat dambaan umat, yang walau di usia belia telah mampu menorehkan tinta emas dalam sejarah, mengharumkan nama Islam, dan membuat Islam memenangkan peradaban. Merekalah yang dengan ribuan pemuda dan remaja lainnya  memperjuangkan dan mendakwahkan Islam dengan dorongan iman, menghabiskan waktunya siang dan malam untuk kepentingan Islam, hingga kini kita tetap mampu mereguk manisnya iman dan damainya Islam saat ini.

Tentu kita tidak akan lupa kisah heroik Muhammad Al Fatih sang penakluk Konstantinopel yang mampu menjadi sultan di usia muda. Juga, kisah Zaid bin Tsabit yang dengan gagah berani berjihad di usianya yang baru 13 tahun. Kemudian diperintahkan untuk menghimpun wahyu di usia 21 tahun. Itulah generasi muda militan Islam terdahulu yang gaungnya masih terdengar sampai saat ini.

Apakah tidak mungkin, jika kita menyamai prestasi gemilang yang telah mereka ukir di zamannya? Tentunya sangat mungkin untuk kita bisa menyamai mereka. Dengan cara berkomitmen dan berusaha, serta bersungguh-sungguh untuk menyamai mereka sebagai pemuda yang telah mengharumkan nama Islam di zamannya. 

Kalau melihat era pemuda Islam saat ini, tak jarang mengikuti tradisi seperti nongkrong di kafe. Mau tidur, makan, kamar mandi, belanja selalu bawa HP. Ke mana-mana cari wi-fi dan colokan listrik. Suka selfie pakai tongsis. Lalu diedit pakai aplikasi kamera jahat. Kemudian diunggah di Instagram. Dan, seragam dikecilin pas badan. Itu sebagian generasi zaman now yang terus menelanjangi marwah bangsa dan agama.

Apa bedanya yang ngakunya pemuda zaman now dengan generasi muda Islam, hingga membuat ketimpangan yang sungguh nyata antara kepribadian kita dan kepribadian mereka para pejuang Islam. Bukankah kita juga telah dipuji pemilik kehidupan sebagai umat terbaik. Sebagaimana Allah Swt. berfiman: ”Kalian semua adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110).

Sudah seyogianya pemuda dan remaja bisa melanjutkan perjuangan terdahulu pemuda yang berkarakter, yang mampu membendung tradisi yang menyimpang dari syariat Islam. Jangan mengikuti budaya now yang hanya merusak moral peradaban aset bangsa. Maka perdalamlah ilmu Islam! Ngaji biar mengerti, biar bisa mawas diri. Sudah tidak zaman pemuda hura-hura lagi sudah waktunya yang muda semangat cari pahala. Berjuang menegakkan kebenaran. Kita tegakkan kebenaran di Indonesia. Buktikan pemuda zaman now bisa menjadi pejuang Islam yang tangguh, bisa mengembalikan kejayaan Islam. Karena, perjuangan adalah pergerakan.

Remaja cerdas saja tidaklah cukup, wajib ditambahi takwa juga. Pemahaman akidah yang benar akan melahirkan ketakwaan. Sederhananya, takwa itu taat. Nah, karena Islam memiliki syariat (aturan) maka seorang muslim yang akidahnya benar akan taat terhadap syariat. Benar-salah, baik-buruk, dan terpuji-tercela akan disesuaikan dengan Islam. Bukan berdasarkan hawa nafsunya.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya seorang hamba hanyalah mampu melalui tahapan-tahapan perjalanan menuju (rida) Allah dengan hati dan keinginannya yang kuat, bukan (cuma sekadar) dengan (perbuatan) anggota badannya. Dan takwa yang hakiki adalah takwa (dalam) hati dan bukan takwa (pada) anggota badan (saja). Allah Ta’ala berfirman, “Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar (perintah dan larangan) Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan (dalam) hati.” (QS al-Hajj [22]: 32).

Takwa di dalam kamus Ilmu Al-Qur'an dapat diartikan dengan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Tingkah laku orang yang bertakwa selalu mencerminkan perilaku mulia dan selalu berusaha menghindari hal-hal yang menjadikan Allah murka.

Allah memberikan beberapa rambu-rambu untuk menjadi orang yang bertakwa.

Pertama, bertanya kepada orang yang mengetahui. Atau dalam hal ini adalah bertanya kepada alim ulama tentang bagaimana menjadi orang yang bertakwa (QS. an-Nahl: 43).

Kedua adalah selalu bersama-sama para shidiiqiin (orang yang benar) (QS. at-Taubah). Dalam bahasa Jawa yang terkenal “wong kang saleh kumpulono”. Lalu siapakah orang-orang yang benar? Al-Qur’an menjelaskan bahwasanya Shiddiiquun adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah.

Ketiga adalah selalu berkata dengan perkataan yang benar (QS. al-Ahzab: 70). Allah menjelaskan dalam QS. Fusshilat: 30 bahwa sebenar-benar perkataan adalah orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri.”

Demikianlah, semoga kita dapat mengambil pelajaran dari tulisan ini, semoga bermanfaat.