Penegakkan Khilafah, Bukan Perjuangan Utopis

 


Oleh Farida Nur Rahma, M.Pd.

Dosen Komunikasi Penyiaran Islam


Khilafah menjadi kata yang masyhur setelah keterasingannya. Menjadi kata yang fasih diucapkan setelah kegagapannya. Menjadi kata yang seolah menakutkan setelah ia dulu diremehkan.

Begitu pula perjuangannya. Bahkan ketika badan pergerakannya sudah dibinasakan, perjuangannya tetap hidup. Pergerakannya semakin gesit. Tampilannya semakin cantik.

Rahasianya ternyata ada pada asas perjuangannya. Yaitu, memahami bahwa perjuangan menegakan khilafah adalah perintah Allah yang termaktub dalam berbagai sumber hukum Islam. Dalil atas kewajiban memperjuangkan tegaknya Khilafah adalah dalil yang qath’iy tsubut (sumbernya pasti) dan qath’iy dilalah (maknanya pasti). Sehingga mengingkari kewajiban ini bisa menjadikannya kafir. Sementara orang yang mengakuinya, namun ia abai dan lengah dalam memperjuangkannya, maka ia bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalil dalam hal ini adalah nash-nash yang memerintahkan agar terikat dengan syariah Islamiyah dan berhukum dengannya, serta melarang berhukum pada yang selainnya. “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan.” (TQS An-Nisā’ [4] : 65).

Asy-Syirazi, Ibrahim bin ‘Ali bin Yusuf dalam Kitab At-Tanbîh fî Al-Fiqh Asy-Syâfi’î hal 248 telah memperkuat indikasi bahwa perjuangan penegakan Khilafah adalah wajib. Beliau, semoga Allah merahmatinya, menulis Bab Adab Penguasa: Imamah/khilafah hukumnya adalah fardhu kifayah. Apabila tidak ada yang layak (untuk menjadi imam/khalifah) kecuali hanya satu orang saja, maka hukumnya menjadi fardhu ‘ayn bagi orang tersebut, dan wajib atas dirinya untuk memintanya (menjadi imam/khalifah). Apabila dia tidak mau, maka harus dipaksa (agar mau).”


Pesan yang ingin disampaikan dalam “Bab Adab Penguasa” adalah sebagai berikut:

 Hukum mewujudkan imam/khalifah adalah fardhu kifayah, artinya apabila tidak/belum terealisasi maka dosanya ditanggung oleh umat Islam secara keseluruhan.

Apabila tidak ada yang layak (untuk menjadi imam/khalifah) kecuali hanya satu orang saja, maka hukumnya menjadi fardhu ‘ain bagi orang tersebut. Sedangkan bagi umat Islam yang lain tetap sebagai fardhu kifayah.

Apabila sudah terwujud seorang imam/khalifah yang layak, berikut wilayah kekuasaan yang menerapkan Islam dan jaminan keamanannya di tangan umat Islam, maka gugur kewajiban tersebut dari umat Islam. 


Oleh karenanya wajib bagi umat Islam mencari jalan agar dapat merealisasikan keduanya, yaitu adanya khalifah sekaligus institusinya, khilafah. 

Sungguh, saat ini kehidupan umat Islam secara global jauh dari rasa aman. Kehormatan kaum muslim terkoyak dari segala arah. Syariat Islam terlepas dan dipaksa untuk dilepaskan satu persatu. Semua ini karena ketiadaan Khalifah atau imam al Junnah (perisai) sejak 1342 H.


Sudahi segera segala kekacauan dan kehinaan akibat ketiadaan khilafah dengan mengerahkan segenap kemampuan dan pengorbanan. Seperti Abu Bakar Ash Shidik yang menemani Rasulullah saw hijrah walau taruhannya adalah nyawa. Seperti Ali bin Abi Thalib yang rela menggantikan Rasulullah saw berbaring di kasurnya dan bersiap dengan besutan pedang musuh di malam Hijrah. Seperti Umar bin Khaththab yang membuang segala ego dan kuasa yang menyesatkan demi Kaffaah dalam berislam dan menjadi tameng perjuangan dakwah Rasulullah saw. Seperti Khadijah yang setia menemani dari awal perjuangan dakwah dan mengerahkan segenap harta perniagaan untuk membiayai dakwah. Sampai kemenangan Islam datang, mereka tak pernah berhenti berjuang.


Kini tahun 1442 H, 100 tahun hidup tanpa khilafah. Maka apa pun yang kita miliki saat ini adalah amanah. Ilmu, jabatan/kekuasaan, harta, pengaruh dan generasi adalah amanah. Saatnya kita dedikasikan seluruh upaya untuk menyatukan umat dan menegakkan hukum Allah dengan membaiat seorang khalifah berdasarkan metode kenabian.


 Tolonglah agama Allah, maka Allah akan menolongmu. Dukunglah perjuangan penegakkan khilafah dengan sepenuh hati, maka Allah akan menghantarkan kita pada satu puncak janji Allah yaitu tegaknya Khilafah Rasyidah yang sesuai metode kenabian. Ingatlah perjuangan ini bukanlah perjuangan yang sia-sia apalagi berangan semata. Bertabur pahala melimpah bagi siapapun yang memperjuangkannya. Pilihan tergantung pada Anda mau atau tidaknya. 


Wallahu a'lam bishshawab.