Padi di Magetan Merana, Merugilah Petani


Oleh Dewi Humairah

(Aktivis Muslimah Millenial dan Member AMK)


Petani saat ini dibuat dilema. Beli pupuk mahal belum obat-obatan tan untuk pembasmi hama agar hasil panen bagus. Tapi tetap saja terkadang hasilnya tak sesuai yang diharapkan sebagaimana yang terjadi di daerah Magetan.

Panen raya padi di Kabupaten Magetan pekan ini dipastikan tidak bisa memberi keuntungan bagi para petani. Lantaran sebelum panen, sudah diketahui kalau harga kering sawah (HKS) terus merosot bahkan lebih rendah dibandingkan harga pada tahun lalu.

Gambaran kerugian sudah terbayangkan oleh para petani meski panen raya kurang beberapa bulan lagi. Diperkirakan HKS hanya mencapai Rp330.000 per kuintal yang bisa semakin menurun saat panen dan para petani pun sudah bersiap menghitung kerugian. (SURYA.CO.ID, 1/3/2021).

"Kalau tahun lalu, padi dengan HKS masih bisa dijual satu kuintalnya Rp350.000 atau satu kilogram Rp3.500. Sekarang malah harga di tingkat petani dihargai Rp300.000-Rp330.000 per kuintal atau per kilogram Rp3.000 sampai 3.300," kata Susanto, petani asal Desa Sumberdukun Juron, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan kepada SURYA, Senin (01/03).

Susanto mengaku prihatin dengan sudah keluarnya harga patokan sesuai HKS itu karena pada panen raya nanti yang dipastikan dengan harga terbaik malah makin merosot. Itu karena saat panen kapasitas padi memang melimpah.

Menurutnya, harga yang terus merosot akan semakin merugikan para petani yang tidak seimbang dengan modal tanamnya. Karena selain harga pupuk mahal, stok di pasaran juga susah dicari.

"Saat ini yang paling dirisaukan petani ada pupuk yang langka. Langkanya pupuk ini membuat harga di pasaran meninggi. Jadi antara biaya tanam dan hasil panen tidak seimbang," ujarnya.

Situasi yang tidak lebih baik juga dialami oleh petani di Desa Klagen Gambiran, Kecamatan Maospati Magetan. Di Desa Klagen Gambiran yang merupakan lumbung padi ini ternyata harga padinya juga sangat merosot tajam.

Belum ada konfirmasi yang didapatkan dari Dinas Pertanian setempat atas merosotnya harga padi menjelang panen.

Kenapa petani bisa mengalami gagal panen? Jargon kemandirian pangan ternyata hanyalah omong kosong, faktanya di lapangan pupuk sangat mahal, bibit, permainan harga dan distribusi hasil panen, mafia impor dan sebagainya.

Ternyata jargon kemandirian pangan sangat bertolak belakang dengan kebijakan omnibuslaw yang telah melegalkan dan mempermudah jalan impor. Akibat impor para petani dilema karena saat menjual padinya sangatlah murah. 

Kapitalis telah membuat petani menderita. Petani bersusah payah menanam, terpaksa beli pupuk mahal agar hasilnya bagus tapi setelah menjelang panen tiba, hasil tak sesuai yang diharapkan. Astaghfirullah.

Jauh berbeda dengan sistem Islam. Dalam Islam kemandirian pangan hanya ada ketika adanya politik pangan dengan menerapkan Islam secara kafah distribusi benar-benar bisa merata. Sedangkan di sistem kapitalis politik pangan tidak akan mungkin terwujud karena kapitalis tidak pernah bertumpu pada distribusi yang merata akan tetapi hanya menilai pada produksi yang dilihat.

Hanya Islamlah yang bisa menerapkan politik pangan dengan kebijakan sang khalifah yang menerapkan sistem Islam dari hulu hingga hilir sehingga bisa swasembada pangan. Para petani akan benar-benar bisa merasakan kesejahteraannya.

Karena pasti ketika ada ketaatan akan ada keberkahan di dalamnya. Dengan menerapkan Islam adalah bukti manusia taat pada Rabb-Nya.

Wallahu a'lam bishshawab.