Oleh Afra Salsabila Zahra

Mahasiswi dan Praktisi Pendidikan


Manusia hidup dengan berkumpul dengan manusia yang lain. Berbaur menjadi satu karena manusia adalah makhluk sosial. Mereka bergerak dan berinteraksi untuk membuat sebuah hubungan.

Kadangkala, hubungan itu terjalin dengan begitu erat. Di lain sisi hubungan itu akan diterpa ujian yang kadang akan memutuskan sebuah hubungan. Entah seberapa lama akan terus seperti itu.

Orang memandang bahwa ketika hubungan telah terjalin seolah semua terasa begitu indah. Kepercayaan, pengorbanan dan kebaikan lainnya dipandang sesuatu yang tidak terbiasa. 

Tanpa sadar, dia melupakan bahwa setiap manusia hanyalah seonggok daging yang memiliki sifat lemah dan terbatas. Yang tidak pernah lepas dari dosa ataupun kemaksiatan. Sebagaimana maksumnya Rasulullah.

Hubungan yang mengikat tidak akan senatiasa selalu baik-baik saja. Akan ada kebohongan, ketidakpercayaan, keraguan yang senantiasa menemani setiap perjalanan. Tinggal kita pandang dengan apa setiap kejadian yang menimpa setiap hubungan.

Sama halnya dengan diri, yang tidak pernah luput dari dosa yang terus melumuri. Juga tidak lepas dari ketidakberdayaan kehidupan yang senantiasa mengikuti. Juga tidak dapat merubah setiap karakter setiap manusia.

Adakalanya, kekecewaan hadir mengisi relung hati. Ketidakyakinan menggelitik akal. Memberikan racun-racun untuk menolak kelemahan. Memporak-porandakan keyakinan dan hubungan dalam sekedip mata.

Aku tidaklah sempurna. Begitupun setiap manusia. Tidak ada manusia yang selalu putih. Mereka pasti memiliki noda dalam kehidupannya. Bila yang terlihat hanya noda dalam diri. Maka aku pun hanya dapat memasrahkan segalanya.

Sama bagaimana halnya diri begitu kotor layaknya lumpur yang tergenang dalam pandangan. Maka semua kembali bagaimana kita dapat menata diri kita sendiri. Biarlah manusia mengetahui apa yang kurang dari diri. Apa yang terlihat hitam dalam jiwa. 

Sebagaimana setiap manusia dapat terperosok jatuh. Begitupun diri. Meski yang tidak terlihat selalu tercurah untuk mereka yang terjalin hubungan. Kadangkala, tidaklah sama apa yang akan kita terima. 

Hubungan karena Allah.

Sesungguhnya setiap kehidupan memiliki jalinan hubungan yang berbeda-beda. 

Pertama, mereka yang hanya berhubungan atas dasar kemanfaatan. Dimana mereka berhubungan untuk saling memanfaatkan satu dengan yang lain. Sebagaimana sistem hidup kapitalisme yang berasaskan pada kemanfaatan dalam kehidupan. 

Kedua, hubungan atas dasar tali rahim. Dimana mereka berhubungan karena terikat dengan pertalian darah. Nasab mereka bersatu sehingga hitam dan putih hubungan bergantung bagaimana setiap insan menyikapinya.

Ketiga, hubungan atas dasar perasaan. Mengenal satu dengan lain sehingga timbul kecenderungan dari perasaan nyaman dan menyenangkan. Meski hubungan semacam ini akan mudah kandas sebagaimana ketika perasaan itu berubah.

Keempat, hubungan atas dasar agama. Yaitu ketika keterikatan sebuah hubungan sebagaimana keterikatan kepada Allah. Bahwa akan kita temui kelemahan dan keterbatasan manusia. Yang mana mereka menundukkan baqa' (ego) semata karena Allah.

Tidak memandang manusia bersih dari dosa. Tidak memandang bahwa manusia begitu sempurna tanpa kesalahan. Karena setiap insan sama kurangnya dan hanya fokus pada kebaikan selama tidak melanggar hukum-hukum Allah. 

“Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah benar-benar akan menghilangkan kamu, dan pasti akan mendatangkan suatu kaum yang mereka akan berbuat dosa, lalu mereka akan memohon ampun kepada Allah, lalu Dia akan mengampuni mereka”.(Sahih Muslim).

Semua itu adalah pembelajaran dalam hidup. Bahwa tidaklah ada sesuatu yang abadi. Selama detak jantung masih hidup. Setiap masalah akan menghampiri. Semoga Allah selalu menguatkan diri dan siapapun yang berjalan di jalan ini.

Ya Allah rahmatilah orang lemah di antara kami, dan terimalah taubat kami, karena sesungguhnya kami bertaubat kepada-Mu dan kami mengakui dosa-dosa kami. “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”(QS. al-A’raaf: 23).

Selama jantung masih memompa darah. Selama detak itu masih bergerak. Semoga Allah hanya menjadikan diri pribadi yang lebih baik lagi. Dan selalu dituntun untuk berjalan di jalan kebenaran. Dan menjadi orang-orang yang beruntung di hadapan Allah.

Wallahu a'lam bishshawab.

 
Top