Oleh Siti Khodijah Rajuli 

(Praktisi Pendidikan Kab. Lahat)


Dari zaman dulu hingga saat ini, kaum muslimin mengalami segala keterpurukan diberbagai sektor. Pasca runtuhnya perisai umat (khilafah) kaum muslim terus dijajah oleh orang kafir yang sangat membenci Islam. Mulanya dunia Islam dijajah secara langsung dengan cara negara-negara yang benci terhadap Islam mengirimkan pasukannya secara langsung. Akan tetapi penjajahan jenis ini sangat tidak efektif. Sebab fakta musuh didepan mata nyata adanya, hal ini membuat gerakkan perlawanan dari kaum muslimin mudah digerakkan. Umat muslim dengan sigap bersatu hingga kaum penjajah mudah untuk dilemahkan. 


Penjajahan secara langsung tentu saja banyak merugikan pihak penjajah sebab harus keluar biaya yang tidak sedikit dan tentu saja punya resiko yang sangat tinggi. Maka, Barat mengubah strategi penjajahan dengan cara memberikan kemerdekaan semu dan 'menyelundupkan' para penguasa lokal yang tidak lain adalah agen mereka untuk menghancurkan Islam.  


Barat mulai mejajah dengan cara penjajahan gaya baru yakni perang pemikiran. Umat Islam sedikit demi sedikit dijauhkan dari identitasnya sebagai seorang muslim. Semakin lama kian terbuai dengan pemikiran-pemikiran Barat hingga syariat Islam dicampakkan hingga puncaknya adalah orang muslim anti terhadap ajaran Islam itu sendiri. khilafah khususnya. 


Kaum muslimin terus dicekoki dengan paham sesat yang tujuannya adalah agar kaum muslimin tidak punya kekuasaan alias tidak punya power. Maka dengan begitu dengan mudah para penjajah menguasai segala hal yang mereka inginkan. Strategi Barat dalam menjajah kaum muslimin dengan pemikiran terbilang berhasil, sebab kaum muslimin hingga hari ini masih tidak sadar dan terus tidur diatas tumpukan duri.


Telah genap 100 tahun kaum muslimin hidup tanpa naungan khilafah. Tepatnya pada tanggal 03 Maret 1924 M (28 Rajab 1342 H). Sejak saat itu secara resmi khilafah islamiyah dibubarkan oleh seorang pengkhianat bernama Mustafa Kamal at Tarturk. Artinya sudah 100 tahun syariah Islam tidak diterapkan  dalam seluruh aspek kehidupan. Padahal seharusnya umat Islam wajib menerapkan seluruh syaraiat Islam sebagai simbol ketaatan terhadap Sang Maha Pencipta, Allah Swt.


100 tahun tanpa khilafah artinya 100 tahun kaum mulimin tidak memiliki pemimpin, umat muslim terpecah belah, tercerai berai. Kaum muslimin hidup dalam keterpurukan seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Padahal Allah Swt memerintahkan kaum muslimin untuk bersatu dalam satu kepemimpinan yakni khilafah yang wajib bagi kaum muslimin.


100 tahun tanpa khilafah, artinya ada sebuah tugas yang amat mulia dan sangat terpenting juga ikut terabaikan yang harusnya dijalankan oleh negara dalam Islam yakni menyebarkan dakwah ke segala penjuru dunia tidak dilaksanakan. Sehingga Islam sebagau rahmatan lil a’lamin tidak bisa secara sempurna diwujudkan.


100 tahun tanpa khilafah keadaan kaum muslimin sangat memperihatinkan. Kerusakan terjadi disegala lini kehidupan. Rakyat kian jauh dari kata cukup. Kekayaan alam yang melimpah ruah yang dimiliki nyatanya tetap tidak mampu menjadikan Indonesia sebagai negeri yang sejahtera. 


Daeri sector pergaulan, generasi muda Indonesia juga kian hancur, seks bebas, narkoba, aborsi, tauran dan berbagai kehancuran turut mewarnai potret keruskan generasi muda. Dari sisi politik, sistem politik tak lagi mengurusi urusan rakyatnya faktanya korupsi kian tumbuh subur dan para politikus sibuk berebut jabatan serta kekuasaan.


Kriminalitas terjadi dimana-mana. Dari sisi pendidikan, nyatanya tidak mampu mencetak generasi bermoral, justru semakin hancur. Pendidikan diajarkan secara prakmatis. Sistem peradilan yang kacau balau, hukum memihak kepada yang berduit saja. Maka tepatlah sebuah istialah bahwa hukum Indonesia seperti pisau yang tajam ke bawah tumpul ke atas.


Semua kerusakan ini terjadi karena Indonesia memakai sistem demokrasi yang berasas pada sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) dengan sistem ekonomi kapitaslis yang menguntungkan para ‘pedagang’.  Ketika penderitaan dan kerusakan sudah mengakar maka dibutuhkan pula solusi yang mengakar untuk menghentikan permasalahan yang telah terjadi secara mendasar.


Maka seharusnya sebagai seorang muslim, kita tidak boleh berdiam diri melihat semua kedzaliman yang terjadi hingga saat ini. Dalam menghadapi kondisi ini, sebagai seorang muslim harus mempunyai sebuah keyakianan yang amat kokoh dan siap menyatakan bahwa hanya khilafah dengan segala perangkatnya yang mampu membebaskan umat manusia dari segala keterpurukan dan kejahatan dari kepimpinan dan sistem yang merusak.


Sebab hanya sistem khilafah yang mampu menerapakan Islam secara sempurna. Islam sebagai ideologi memiliki sistem yang khas. Dalam sistem ekonomi Islam diatur konsep cara mengelola individu, masyarakat dan negara. Sistem khilafah telah terbukti memakmurkan masyarakat dunia sebelumnya, menjadikan seluruh umat manusia pada persaudaraan yang global, tidak terpecah belah walaupun berbeda wilayah, ras, kebudayaan. Semua terhimpun dalam sebuah instansi di bawah naungan khilafah. 


Perekonomian bergerak dengan sangat dinamis hingga persaudaraan sejati benar-benar bisa diwujudkan, masyarakatakat sejahtera, rendahnya kriminalitas dan berbagai kebaikan lainnya terwujud dalam sistem khilafah. Maka sudah semestinya manusia kembali mengadopsi dan menerapkan sistem kenegaraan yang telah dicontohkan Rasulullah saw. Kenegaraan global yang disebut sebagai khilfah islamiyah. 

Wallahu a'lam

 
Top