Mengembalikan Kemuliaan Perempuan dengan Islam

 


Oleh Dwi Susanti

(Praktisi Pendidikan)


Dahulu jauh sebelum Islam datang kaum perempuan kurang dihargai, mereka dianggap sebagai manusia kelas dua. Bahkan pada masa arab jahiliah ketika ada seseorang yang melahirkan bayi perempuan akan langsung dibunuh hidup-hidup. Bayi perempuan dianggap suatu aib yang memalukan. Pada Saat itu juga jika ada rumah yang dikibarkan bendera kuning maka rumah itu boleh dimasuki oleh laki-laki manapun. Saat perempuan di rumah tersebut hamil maka akan diundi, yang namanya keluar saat diundi itulah yang dianggap ayahnya. Nauzubillah.

Di negeri kita tercinta nasib perempuan tidak jauh beda. Di sini terkenal dengan budaya patriarki, dimana perempuan dianggap sebagai konco wingking. Kerjanya meliputi 3 area yaitu di dapur, di kasur dan di sumur. Perempuan tidak memiliki hak politik, dilarang untuk belajar atau sekolah tinggi. Banyak orang tua zaman dahulu berpikir buat apa perempuan sekolah tinggi, toh nantinya akan jadi ibu dan pengatur rumah tangga. Padahal ibu merupakan guru pertama dan utama bagi anak-anaknya. Tentunya seorang ibu harus cerdas agar mampu mendidik anaknya dengan baik. Sayangnya hal ini tidak disadari oleh masyarakat masa dulu.

Demikian pula nasib perempuan di Eropa juga sama. Mereka juga tertindas dan tidak memiliki hak politik misal untuk memilih pemimpin, untuk mengembangkan harta miliknya utamanya jika sudah menikah. Perempuan Eropa yang telah menikah maka dia kehilangan semua haknya di mata hukum, hartanya menjadi milik suaminya, dia tidak boleh memiliki namanya sendiri, kedudukanya tergantung kepada suaminya, Jika suaminya seorang pencuri maka perempuan tersebut juga dianggap sama. Namun jika suaminya baik maka dia juga dianggap baik oleh masyarakat. 

Namun kondisi perempuan yang begitu buruk berubah drastis saat Islam hadir. Perempuan ditempatkan pada posisi yang sama dalam hak dan kewajibannya sebagai hamba Allah. Tidak ada perbedaan apa pun. Tetapi melihat kondisi perempuan yang lebih feminin, keibuan, dan penuh kasih sayang maka Islam menempatkan perempuan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Perempuannya tidak wajib bekerja tetapi boleh asalkan tetap sesuai dengan hukum syariat. Nafkah perempuan wajib ditanggung oleh 4 orang laki-laki di keluarganya yaitu ayah, suami, saudari laki-lakinya, dan anak lelakinya.

Perempuan diwajibkan menutup auratnya dengan kerudung dan jilbab saat keluar rumah. Hal ini karena perempuan dianggap sebagai perhiasan dunia yang mahal dan berharga. Juga dimaksudkan agar perempuan mudah dikenali dan tidak diganggu. 

Kemuliaan perempuan juga nampak ketika Allah menempatkan di kaki para ibulah surga bagi anak-anaknya. Rasulullah bersabda "Al jannatu tahta aqdamil ummahati: Surga itu di bawah telapak kaki ibu."

Juga saat Rasulullah ditanya oleh seorang sahabat, siapakah orang yang wajib dihormatinya, maka Rasulullah menjawab "ibumu, ibumu, ibumu lalu ayahmu. Jelas bahwa kedudukan seorang ibu lebih utama dibandingkan ayah pada seorang anak.

Dalam kewajiban menuntut ilmu maka Rasulullah memfasilitasi waktu khusus untuk melakukan majelis ilmu bersama para perempuan. Sehingga para perempuan tidak tertinggal dari para lelaki. Banyak riwayat yang mengisahkan para shahabiyah yang memiliki kecerdasan tinggi yang meriwayatkan berbagai macam hadist Rasulullah. Di antaranya yaitu Aisyah binti Abu Bakar, Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah, Hindun binti Umayah, Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan, Ummu Athiyyah Nusaibah binti Kaab dan lain-lain.

Pada masa Rasulullah dan kekhilafahan sesudah beliau maka para perempuan boleh untuk dipilih dan memilih pemimpin, menjadi anggota majelis umat dan melakukan koreksi terhadap penguasa.

Ini menunjukkan bahwa perempuan berperan aktif dalam politik yaitu mengurusi urusan umat. 

Kehormatan dan kemuliaan perempuan benar-benar terjaga saat di bawah naungan Islam. Hal ini dibuktikan pada masa Rasulullah saw. ketika ada seorang perempuan muslim yang dilecehkan saat berada di Pasar Yahudi Bani Qainuqa'. Muslimah tersebut tersingkap auratnya saat berdiri yang tanpa sepengetahuannya ujung jilbabnya telah diikat oleh pengrajin perhiasan pada kursi yang dia duduki. Muslimah ini spontan berteriak dan seorang laki-laki muslim yang berada di dekatnya melompat ke pengrajin perhiasan itu dan membunuhnya. Orang-orang Yahudi kemudian membalas dengan mengikat laki-laki muslim tersebut lalu membunuhnya

Kejadian ini membuat Rasulullaah Shallahu’alaihi marah. Beliau bersama pasukan kaum muslim berangkat menuju tempat Bani Qainuqa dan mengepung mereka dengan ketat selama 15 hari. Pada akhirnya Bani Qainuqa' yang sombong pun menyerah kalah.

Contoh lain pada masa Khalifah Al Mu'tashim Billah di era Khilafah Abbasiyah ada seorang budak perempuan dari Bani Hasyim yang dilecehkan oleh orang romawi. Maka perempuan itu berteriak memanggil nama Khalifah Al-Mu’tashim : “waa Mu’tashimaah!” yang artinya “di mana kau Mutashim…tolonglah aku!”

Setelah mendapat laporan mengenai pelecehan ini, maka sang khalifah pun menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu kota Ammuriah (Turki). Dimana panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari gerbang istana khalifah di kota Baghdad hingga kota Ammuriah (Turki), karena besarnya pasukan.

Betapa luar biasanya Islam menjaga kemuliaan perempuan, hanya gara-gara satu orang perempuan dilecehkan maka ada pengerahan pasukan oleh negara. Maka bandingkan dengan kondisi perempuan saat ini yang hidup jauh dari kekhilafahan Islam. Setelah 100 tahun runtuhnya Khilafah Islam oleh Mustafa Kamal Attaturk. Sungguh kita layak merasa miris dan sedih menyaksikan bagaimana nasib para perempuan masa kini. Mereka terpaksa atau kadang dipaksa menjadi tulang punggung keluarga, perempuan diperlakukan seperti barang dagangan, keelokan tubuh dan kecantikannya dijadikan komoditas perdagangan, auratnya dipertontonkan untuk mendapatkan keuntungan para kapitalis/pemilik modal. 

Jutaan perempuan hidup di bawah garis kemiskinan, nyawa dan kehormatannya tidak ada yang melindungi misal saudara-saudara muslimah kita di India, Palestina, Uighur Cina, Rohingnya, dan lain-lain.

Melihat kondisi yang demikian maka kita butuh terhadap adanya pemimpin yang mampu menjadi junnah/perisai  yang akan menjaga kita dalam kondisi apa pun. 

Rasulullah bersabda, 

"Imam (Khalifah) adalah raa'in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya." (HR. Bukhari).

Juga sabda beliau: "Sesungguhnya Al Imam (Khalifah) itu perisai, dimana orang-orang akan berperang di belakangnya (mendukung), dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya." (HR. al-Bukhari Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dan lain-lain).

Islam telah menetapkan syarat-syarat seorang pemimpin di antaranya: muslim, laki-laki, berakal, baligh, merdeka, adil dan kaafah (mampu memimpin).

Sedangkan karakter pemimpin yang layak dalam Islam yaitu:

1. Berkepribadian yang kuat.

Mengingat jabatan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban, maka hanya orang yang berkepribadian kuat saja yang akan mampu menunaikan hak dan kewajiban sebagai pemimpin.

2. Bertakwa yaitu pemimpin yang senantiasa melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi larangan Allah.

3. Memiliki sifat welas asih. Pemimpin yang selalu lemah lembut, bijaksana dan tidak suka menyulitkan rakyat

4. Penuh perhatian kepada rakyatnya. Mampu memahami apa yang dirasakan dan dibutuhkan oleh rakyat. 

5. Istiqomah memerintah berdasarkan syariat. Dalam menghadapi dan menyelesaikan persoalan apa pun, maka pemimpin yang saleh akan merujuk kepada hukum-hukum syariat Islam. Berhukum hanya kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Maka pasti akan membawa selamat dunia akhirat.

Demikianlah pemimpin dambaan umat yang diharapkan hadir untuk melindungi rakyatnya khususnya para perempuan. Namun tentu pemimpin yang semacam ini hanya lahir dalam naungan Islam. Saat ini Islam belum tegak di negeri mana pun. Karena itu menegakkan kembali Islam kafah sebagai jalan hidup adalah PR besar umat Islam termasuk para muslimah. Yaitu dengan cara mendakwahkan Islam sebagaimana contoh Rasulullah saw. tanpa menyalahinya. Jika kita berupaya bersungguh-sungguh, maka insyaallah Islam akan segera tegak kembali memimpin dunia. Aamiin Yaa Mujibud du'a.

Wallahu a'lam bishshawab.