Oleh Ahsani Ashri, S.Tr.Gz.

(Pemerhati Sosial dan Generasi)


Negara antah berantah yang konon katanya mayoritas penduduknya muslim, negara yang makmur rakyatnya hidup akur, bergelimang sumber daya alam namun pengaturannya masih 'ngawur', ditambah lagi kebijakan 'ngawur' yang sampe membuat saya gagal paham sama negara antah berantah itu. Mau dibawa kemana negara tersebut? Kemana suara-suara rakyat yang ada di dalamnya? 

Mari kita rileks sejenak membacanya, tapi kok saya tetap tegang ya? Apa hanya saya yang beranggapan merasa tak waras jika ada yang sengaja membuat aturan pelegalan miras di negeri itu? Sungguh miris. First side, semua orang tahu bahwa miras (khamr) itu adalah barang haram, dan peminumnya pasti akan terkena impactnya yang parah, lebih parahnya lagi sampai digambarkan dalam sebuah hadits, khamr (miras) adalah ummul khaba'its (induk dari segala kejahatan) sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, khamr adalah induk dari kekejian dan dosa yang paling besar, barangsiapa meminumnya, ia bisa berzina dengan ibunya, saudari ibunya, dan saudari ayahnya.” (HR. ath-Thabrani).

Dengan miras, konon keberanian peminum itu menjadi meningkat, rasa takut menjadi hilang, akal sehat pun tak terkontrol atau lepas kendali, sehingga perbuatannya menjadi ngawur dan tak terarah. Dampaknya, si peminum ini bisa bertindak nekat dan di luar batas kemanusiaan (setengah waras). Ia bisa menodong, berzina, bahkan membunuh tanpa rasa bersalah. Yang baru ini kejadian memprihatinkan ada peminum yang sudah memperkosa lalu membunuh korbannya, sungguh biadab.

Bagaimana sikap Islam? Tentu sangat tegas mengenai miras. Hukumnya haram, dan pelakunya dianggap telah melakukan dosa besar serta dikenakan hukuman had berupa dicambuk/dipukul dalam hitungan 40 cambuk. (al Tasyri’ al Jinai al Islami, Juz I).

Dengan redaksi lain bahwasanya Abdullah bin Amr meriwayatkan, bahwa Nabi saw. bersabda, "Khamr adalah induk dari segala kejahatan, barang siapa meminumnya, maka salatnya tidak diterima selama 40 hari, apabila ia mati sementara ada khamr di dalam perutnya, maka ia mati sebagaimana matinya orang jahiliyah.” (HR. ath-Thabrani).

Inilah salah satu kekacauan yang terjadi ketika sebuah negeri tak dipimpin dengan hukum Allah. Begitu mudah menetapkan kebijakan yang bertentangan dengan hukum buatan Sang Pencipta. Padahal, sudah jelas haram dalam Islam.Yang mengesahkah muslim bukan? Jadi rujukannya darimana?

Tapi inilah yang terjadi, negeri antah berantah mayoritas muslim terbesar telah lama meninggalkan Islam sebagai aturan kehidupan. Para pemimpinnya lebih condong memilih hukum yang diambil dari keputusan manusia, tak memandang halal atau haram. Penguasa di negeri antah berantah itu, terjebak dalam kubangan industri haram, ya karena hanya di sistem kapitalisme inilah segala rupa sekalipun haram, seolah-olah dianggap halal demi kepentingan materi, materi dan materi. Lantas masihkan kita bersikap lembek dan diam dengan adanya kebijakan ngawur ini? Apakah kita rela generasi hancur karena sakitnya jiwa dan pikiran pemimpinnya? Saya harap kita sama-sama waras menyikapinya dan kembali pada aturan Sang Khaliq.

 
Top