Masaloka Raya Bombana Tak Terjangkau Listrik, Bukti Kurangnya Perhatian Pemimpin


Oleh Sasmin

(Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Buton)


Warga Pulau Masaloka Raya Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara mengeluh belum tersedianya jaringan listrik di rumah mereka. Padahal tiang listrik sudah terpasang sejak setahun lalu. 

Kepala Desa Batulamburi Samrin menjelaskan, warga Pulau Masaloka Raya sangat membutuhkan listrik untuk mendukung aktivitas mereka sehari-sehari. "Gubernur pernah menjanjikan pada kami untuk memasukkan listrik  di Pulau Masaloka Raya, tapi baru tiangnya yang terpasang sekitar setahun lalu, selain itu warga juga mengusulkan pembangunan jembatan yang menghubungkan Pulau Masaloka dengan daratan Bombana." (Telisik.id, 6/2/2021). 

Listrik merupakan kebutuhan semua manusia untuk menerangi kegelapan. Tanpa listrik manusia terhambat dalam aktivitasnya, misalnya yang profesinya tukang kayu dengan pekerjaan ini mampu memenuhi kebutuhan keluarganya, pedagang es batu juga membutuhkan listrik, menonton berita ter-update biar tak tertinggal, dan lain-lain. Namun, tidak terjangkaunya listrik membuat masyarakat tidak dapat menikmatinya.

Sekalipun menggunakan mesin, tidak semua orang memilikinya lebih lagi sudah tersedianya PLN telah renggang menggunakan mesin pribadi dan mesin pun tidak bertahan lama sepertimana PLN 24 jam aktif.

Persoalan seperti ini ialah tugas pemimpin untuk segera mengatasinya, bukan saja itu pemimpin pun wajib memenuhi kebutuhan masyarakat berupa listrik secara gratis.

Karena ego pemimpin hari ini tinggi, visi misi mereka berlaku pada saat mencalonkan saja. Namun, ketika terpilih sebagai pemimpin, jabatannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan diskriminatif dalam mengurus rakyat. Desa terpencil selalu dianaktirikan, padahal seharusnya yang menjadi perhatian utama pemimpin ialah desa kecil karena di situlah kekuarangan banyak ditemukan misalnya jalan yang masih berlumpur dan belum tersedianya listrik sehingga masyarakat kesulitan menjalankan aktivitasnya.

Kesulitan masyarakat Bombana tidak terbendung, selalu saja mendapat masalah-masalah baru, hingga akhirnya kebanyakan masyarakat merantau keluar kota untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga.

Walaupun aspirasi rakyat terus bergema tetapi yang diperoleh hanyalah janji manis yang terus terlontar dari mulut penguasa pendusta, rakyat membutuhkan kerja nyata bukan sekadar janji tanpa hasil. Melihat kerja penguasa hanya melahirkan penyesalan dalam diri rakyat, mencari dan memilih untuk dijadikan pemimpin namun pendusta. Seperti inilah sekularisme bekerja hanya membebani rakyat membayar pajak tanpa ketersediaan pekerjaan.

Dalam sistem kapitalisme negara tidak dapat meriayah umat. Sistem kapitalisme sekularisme sejak memimpin terus saja seperti ini melahirkan problem bagi umat memberi beban berat terhadap rakyat, yang seharusnya negara menyediakan pelayanan umum terutama kebutuhan akan listrik justru diabaikan.

Begitulah penguasa kapitalis menyakini keberadaan Allah tetapi tidak mau diatur dengan sistem Allah dalam kehidupannya, merasa cukup dalam ibadah ritual Allah mengatur tidak dalam bernegara. Apabila melihat fenomena di tengah-tengah umat semua akibat pemisahan agama dalam kehidupan dan mengharap manusia mengatur kehidupan manusia itu sendiri.

Islam datang bukan untuk merosotkan masyarakat. Sebagaimana sejarah Islam telah memimpin 1300 abad dalam bingkai khilafah yang kekuasaannya membentang dari Eropa ke Afrika dan ke Asia, masyarakat di dalamnya damai tidak terperosok dalam kesusahan.  Kebutuhan masyarakat terpenuhi tanpa membebani mereka dengan memaksakan untuk beroperasi di luar keahliannya karena kebutuhan rakyat wajib diutamakan.

Apabila ditemukan wilayah yang belum terjamah listrik maka pemimpin menyelenggarakan memasukkan praktisi untuk beroperasi hingga aspirasi rakyat terpenuhi dan bisa menikmatinya.

Kebutuhan masyarakat merupakan tanggung jawab negara untuk memberikan karena pengaturan urusan umat menjadi tugas pokok pemimpin, dan akan diminta pertanggungjawabannya. Tanggung jawab pemimpin bukan saja di dunia melainkan juga di akhirat.

Pemerintahan dalam bingkai khilafah mengambil aturan sebagaimana yang Rasulullah contohkan. Aturan yang berdasarkan perintah Allah Swt. merabuk suasana ketakwaan serta nilai-nilai Islam yang luhur dan murni di tengah masyarakat. Hal ini menjadikan kekuatan dominan di dalam negara. Menghidupkan seluruh aturan, hak, kewajiban dan hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah di tengah masyarakat.

Rasulullah saw. bersabda: “Dulu Bani Israil selalu dipimpin/diurusi oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, datang nabi lain menggantikannya. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku yang ada ialah para khalifah yang banyak”. Para sahabat bertanya, “Apa yang engkau perintahkan kepada kami?” beliau menjawab, “Penuhilah baiat yang pertama, berikanlah kepeda mereka haknya, karena Allah nanti akan menuntut pertanggungjawaban mereka atas rakyat yang diurusinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Wallahu a’lam bishshawab.